Palangka Raya – Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan pada puncak musim kemarau. Di tengah api yang terus membakar lahan gambut dan semak, ribuan warga mulai berhadapan dengan dampak yang lebih dekat: udara memburuk dan gangguan pernapasan meningkat.
Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla meningkat di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan sepanjang Agustus 2026. Pemerintah memperkuat operasi pemadaman darat dan udara karena kebakaran meluas, titik panas bertambah, serta asap mulai mengganggu permukiman dan kesehatan masyarakat.
Data Sistem Pemantauan Karhutla atau SIPONGI yang dikutip Liputan6 mencatat 750 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan pada periode 17–19 Agustus 2026. Titik-titik panas itu tersebar di sejumlah wilayah yang sedang menghadapi kondisi kering dan risiko kebakaran tinggi.
Ancaman tersebut tidak datang tiba-tiba. BNPB telah menetapkan enam provinsi prioritas penanganan karhutla, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Hingga 9 Agustus 2026, luas kebakaran di enam provinsi itu tercatat mencapai sekitar 48.889,69 hektare. Kalimantan Barat menjadi daerah dengan luas kebakaran terbesar, sekitar 28.680,47 hektare, sementara Kalimantan Tengah mencapai 3.069,52 hektare dan Kalimantan Selatan 383,07 hektare.
Besarnya luasan tersebut membuat dampak karhutla tidak hanya dirasakan di lokasi yang terbakar. Asap dapat bergerak mengikuti arah angin, menjangkau permukiman, mengurangi jarak pandang, dan meningkatkan paparan partikel halus bagi masyarakat yang beraktivitas di luar rumah.
Di Palangka Raya, kondisi kebakaran mendorong pemerintah kota memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan hingga 8 September 2026. Perpanjangan dilakukan selama 29 hari sejak 11 Agustus karena kebakaran masih terjadi dan sejumlah titik api mulai mendekati kawasan permukiman.
BPBD Kota Palangka Raya juga menghadapi persoalan sumber air yang semakin terbatas. Kondisi lahan yang kering membuat api mudah menyebar, sementara medan di sejumlah lokasi menyulitkan petugas mencapai titik kebakaran.
“Fokus kami saat ini adalah titik-titik kebakaran yang sudah mendekati permukiman warga,” kata Plt Kalaksa BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satriya Budi saat menjelaskan penanganan karhutla di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (12/8/26).
Hingga 10 Agustus, BPBD Kota Palangka Raya mencatat sedikitnya 195 kejadian karhutla sejak awal Juni dengan luas lahan terbakar mencapai 174,24 hektare. Penanganan dilakukan melalui pemadaman darat dan bantuan helikopter water bombing di lokasi yang sulit dikendalikan.
Petuk Katimpun, Kecamatan Jekan Raya, menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena kebakaran berada dekat kawasan tempat tinggal warga. Petugas berupaya menahan pergerakan api agar tidak masuk lebih jauh ke permukiman.
“Kondisi lahan yang semakin kering, jarak tempuh menuju sejumlah titik kebakaran, serta keterbatasan sumber daya menjadi tantangan utama bagi petugas di lapangan,” ujar Hendrikus saat penanganan tanggap darurat karhutla di Palangka Raya (12/8/26).
Pemadaman di lahan gambut memiliki tingkat kesulitan berbeda dibanding kebakaran di lahan mineral. Api dapat merambat di bawah permukaan gambut dan bertahan meski nyala tidak lagi terlihat dari atas.
Kondisi itu membuat petugas harus memastikan bara benar-benar padam. Bila masih tersisa panas di lapisan bawah, api dapat muncul kembali saat lahan mengering dan angin bertiup lebih kuat.
Di tengah operasi pemadaman, dampak kesehatan mulai terlihat. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah mencatat 2.052 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di 14 kabupaten dan kota pada periode 7–14 Agustus 2026.
Pada 11 Agustus saja tercatat sekitar 600 kasus baru. Sembilan pasien di antaranya memerlukan rawat inap, sementara Palangka Raya mencatat 115 kasus dan Kotawaringin Barat 111 kasus pada hari tersebut.
“Selama periode 7 sampai 11 Agustus 2026 tercatat 2.052 kasus ISPA di 14 kabupaten dan kota. Pada 11 Agustus terdapat 600 kasus baru, dengan sembilan pasien dirawat inap,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kalimantan Tengah, dr. Riza Syahputra, saat menyampaikan perkembangan kasus di Kalimantan Tengah (15/8/26).
Menurut Riza, jumlah kasus meningkat sekitar 39,2 persen dibandingkan kondisi pada 7 Agustus. Pada saat bersamaan, pemantauan BMKG hingga 14 Agustus mencatat 645 titik panas di Kalimantan Tengah.
Kotawaringin Timur menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi, yakni 189 titik, disusul Kabupaten Kapuas sebanyak 114 titik. Sebaran itu memperlihatkan bahwa tekanan kebakaran tidak hanya terpusat di satu daerah.
Meski demikian, peningkatan ISPA tidak dapat seluruhnya dikaitkan langsung dengan karhutla. Infeksi saluran pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti virus, bakteri, kondisi lingkungan, cuaca, asap rokok, hingga kualitas udara di dalam ruangan.
Namun, paparan asap kebakaran tetap menjadi risiko tambahan bagi kesehatan. Partikel halus hasil pembakaran dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu batuk, pilek, iritasi tenggorokan, sesak napas, serta memperburuk kondisi penderita asma atau penyakit paru.
Kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga dengan penyakit pernapasan menjadi kelompok yang lebih rentan. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas sederhana seperti berangkat sekolah, bekerja, berdagang, atau bermain di luar rumah dapat berubah menjadi risiko kesehatan.
Dampak karhutla juga menyentuh dunia pendidikan. Sekolah yang berada di wilayah terdampak asap harus mempertimbangkan keamanan siswa ketika kualitas udara menurun, terutama jika kegiatan belajar membutuhkan aktivitas di luar kelas.
Bagi keluarga, persoalan asap berarti pengeluaran tambahan untuk masker, obat, pemeriksaan kesehatan, atau perjalanan menuju fasilitas pelayanan medis. Masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan kesehatan menghadapi tantangan lebih besar ketika mengalami gangguan pernapasan.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman. Pemerintah perlu memastikan pemantauan kualitas udara berjalan, informasi risiko dapat diakses masyarakat, fasilitas kesehatan siap menerima pasien, serta pencegahan kebakaran dilakukan sebelum api meluas.
BNPB memperkuat operasi darat menghadapi periode puncak risiko karhutla pada Agustus hingga September. Penguatan dilakukan melalui pemantauan, patroli, pencegahan, kesiapsiagaan, serta koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan tim pemadam di lapangan.
Di Kalimantan Tengah, pemerintah juga mengoptimalkan satuan tugas udara dan darat. Operasi dipusatkan pada wilayah yang memiliki konsentrasi kebakaran tinggi dan berpotensi menimbulkan asap lebih luas.
Peristiwa karhutla tahun ini kembali memperlihatkan hubungan langsung antara kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Ketika gambut mengering dan terbakar, dampaknya tidak berhenti pada lahan yang hangus, tetapi ikut masuk ke sekolah, rumah, tempat kerja, dan fasilitas kesehatan.
Bagi masyarakat Kalimantan, udara bersih menjadi kebutuhan yang semakin penting pada puncak musim kemarau. Selama titik api masih muncul dan lahan tetap kering, risiko asap akan terus mengikuti kehidupan sehari-hari warga.
Memasuki akhir Agustus hingga September, pencegahan kebakaran menjadi sama pentingnya dengan pemadaman. Setiap titik api yang dapat dicegah berarti mengurangi peluang asap menyebar dan mengurangi risiko lebih banyak warga harus berobat karena gangguan pernapasan.
