Sosok militer ini tidak hanya dikenal karena pangkatnya, tetapi karena semangatnya memimpin pasukan pelajar di garis depan kemerdekaan. Mayor Jenderal TNI (Purn.) Mas Isman adalah figur penting dalam sejarah Indonesia, yang kiprahnya mencerminkan keberanian, pengabdian, dan komitmen terhadap rakyat, terutama generasi muda.
Ia bukan sekadar tentara, tetapi penggerak. Ia bukan hanya pejuang, tapi juga pendidik dan pemimpin. Dari medan perang hingga meja diplomasi, Mas Isman konsisten memperjuangkan Indonesia yang merdeka, adil, dan berdaulat.
Memimpin Pasukan Pelajar di Medan Tempur
Lahir pada 1 Januari 1924 di Bondowoso, Jawa Timur, Mas Isman mulai dikenal luas saat memimpin Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Jawa Timur. TRIP merupakan satuan militer yang beranggotakan para pelajar yang memilih angkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan.
Ia adalah tokoh penting di balik transformasi BKR/TKR Pelajar menjadi pasukan formal yang diakui struktur militer Republik. Di bawah komandonya, TRIP menjadi kekuatan yang disegani dan menunjukkan bahwa semangat nasionalisme bisa menyala kuat di dada para remaja Indonesia.
Pertempuran Jalan Salak dan Legenda TRIP
Mas Isman memimpin pertempuran-pertempuran penting, salah satunya adalah peristiwa heroik di Jalan Salak, Malang yang kini dikenal sebagai Jalan TRIP. Pertempuran ini menjadi simbol pengorbanan pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan, sekaligus menegaskan bahwa TRIP bukan pasukan main-main, melainkan kekuatan strategis dalam revolusi.
Kepemimpinan Isman dicirikan oleh keberanian dan kedekatan dengan pasukannya. Ia turun langsung ke lapangan, bukan sekadar memberi perintah dari belakang. Hal inilah yang membuatnya dihormati bukan hanya sebagai komandan, tetapi sebagai rekan seperjuangan.
Dari Pejuang ke Diplomat
Setelah perjuangan bersenjata mereda, Mas Isman tidak lantas pensiun dari pengabdian. Ia masuk ke dunia birokrasi dan diplomasi dengan semangat yang sama. Pada 1956–1958, ia bertugas di Kantor Perdana Menteri, sebelum kemudian menjadi delegasi Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Karier diplomatiknya berlanjut sebagai Duta Besar RI untuk negara-negara penting seperti Myanmar, Thailand, dan Mesir. Dalam tugas-tugas ini, Isman membawa semangat Indonesia merdeka ke dunia internasional, sekaligus membangun jaringan diplomatik penting pascakemerdekaan.
Politik dan Perjuangan Ekonomi Kerakyatan
Tak berhenti di situ, Mas Isman juga aktif dalam dunia politik. Ia menjadi anggota DPR/MPR RI hingga akhir hayatnya. Namun salah satu warisan terpentingnya adalah pendirian KOSGORO (Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong) pada 10 November 1957.
Organisasi ini bergerak di bidang koperasi dan ekonomi rakyat, menjadi wadah penguatan ekonomi berbasis gotong royong yang sangat dibutuhkan Indonesia pada masa transisi pascakemerdekaan. Di tengah politik yang penuh manuver, Mas Isman memilih jalur penguatan rakyat melalui ekonomi kerakyatan.
Sosok Rendah Hati dan Egaliter
Di tengah prestasinya yang besar, Mas Isman tetap dikenal sebagai pribadi sederhana dan merakyat. Ia tidak meminta dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tetapi di pemakaman umum Tanah Kusir, agar rakyat bisa lebih mudah berziarah.
Itu bukan sekadar gestur simbolik, tapi mencerminkan keyakinannya bahwa seorang pejuang sejati tidak pernah terpisah dari rakyat. Bahkan setelah wafat pada 12 Desember 1982, warisannya tetap hidup melalui semangat gotong royong dan perlawanan rakyat yang ia tanamkan.
Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional
Pada 5 November 2015, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Mas Isman. Ini bukan sekadar penghargaan atas jasa masa lalu, tetapi pengakuan terhadap nilai-nilai perjuangan yang relevan hingga hari ini: kepemimpinan, keberanian, kesetiaan kepada rakyat, dan pengabdian tanpa pamrih.
Gelar itu juga menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun oleh banyak tangan termasuk tangan-tangan muda yang dulu menggenggam senjata di bawah komando Mas Isman, bukan demi kuasa, tapi demi kemerdekaan sejati.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Mas Isman memberi teladan bahwa perjuangan bukan hanya milik mereka yang berusia matang. Ia menunjukkan bahwa pemuda bisa menjadi motor utama perubahan ketika diberi ruang, kepercayaan, dan visi.
Di tengah tantangan masa kini ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, dan degradasi moral politik teladan Mas Isman semakin penting. Ia tak membangun dinasti atau menumpuk kekayaan, tapi membangun institusi, solidaritas, dan cita-cita.
Mas Isman adalah gambaran lengkap dari seorang pemimpin: hadir di masa genting, berpikir jauh ke depan, dan tetap berpihak pada rakyat hingga akhir hayatnya.
