Rahmah El Yunusiah bukan sekadar nama dalam sejarah pendidikan Islam Indonesia. Ia adalah simbol perjuangan perempuan yang mengusung ilmu, iman, dan identitas dalam satu langkah besar. Lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 29 Desember 1900, Rahmah tumbuh dalam keluarga ulama yang kental akan nilai-nilai keislaman dan kecintaan pada ilmu.
Sejak kecil, ia memperlihatkan minat tinggi pada pelajaran agama dan sering mengikuti pengajian di surau bersama anak laki-laki. Di tengah budaya patriarki yang masih kental, keberaniannya menuntut ilmu sudah menunjukkan bahwa ia tidak akan menjadi perempuan biasa.
Mendirikan Diniyah Putri
Pada 1 November 1923, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Li Al-Banat, yang kelak dikenal sebagai Diniyah Putri, sekolah Islam modern pertama untuk perempuan di Indonesia. Lembaga ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga keterampilan hidup seperti memasak, menjahit, hingga kesadaran sosial-politik.
Langkah ini menjadi revolusi diam. Saat sebagian besar perempuan Indonesia masih dibatasi ruang geraknya, Rahmah memberi mereka ruang belajar, berpikir, dan bermimpi. Diniyah Putri tak hanya melahirkan murid, tapi mencetak generasi perempuan Muslim yang berdaya dan kritis.
Menerobos Dunia Islam Internasional
Pengaruh Rahmah tak berhenti di Padang Panjang. Pada tahun 1955, ia melakukan perjalanan ke Mesir dan bertemu dengan para ulama Universitas Al-Azhar, Kairo. Dalam kunjungan itu, Rahmah mempresentasikan sistem pendidikan Diniyah Putri dan menarik perhatian dunia Islam.
Sebagai bentuk pengakuan, Universitas Al-Azhar menganugerahkan gelar kehormatan “Sheikhah” kepada Rahmah El Yunusiah. Ia menjadi satu-satunya perempuan Indonesia yang mendapat gelar tersebut dari Al-Azhar, yang selama berabad-abad dikenal sebagai benteng keilmuan Islam global dan sangat jarang mengakui otoritas keagamaan perempuan.
Menggugat Narasi Kolonial dan Patriarki Lewat Pendidikan
Rahmah sadar bahwa penjajahan bukan hanya tentang kekuasaan politik, tapi juga penguasaan wacana dan sistem pendidikan. Di saat pemerintah kolonial hanya memperbolehkan pendidikan dasar terbatas bagi perempuan, Rahmah justru mendesain kurikulum yang setara bahkan melebihi sekolah-sekolah Belanda pada masa itu dengan ruh Islam yang kuat.
Ia juga menggugat tafsir sempit atas peran perempuan dalam Islam. Baginya, perempuan Muslim tidak harus memilih antara menjadi alimah atau ibu rumah tangga keduanya bisa berjalan beriringan. Visi ini jauh melampaui zamannya, bahkan masih relevan dalam diskursus feminisme Islam hari ini.
Warisan yang Tak Pernah Padam
Setelah wafatnya pada 26 Februari 1969, Rahmah El Yunusiah tetap hidup dalam semangat ribuan alumni Diniyah Putri yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Sekolah yang ia dirikan masih berdiri hingga kini, menjadi mercusuar pendidikan perempuan berbasis Islam di Indonesia dan Asia Tenggara.
Namanya juga diabadikan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1974, menjadikannya satu dari sedikit tokoh perempuan yang mendapat pengakuan setinggi itu karena dedikasinya di bidang pendidikan dan dakwah.
Inspirasi Bagi Generasi Perempuan Muslim
Di era digital ini, perjuangan Rahmah El Yunusiah justru semakin menemukan relevansinya. Ketika disrupsi informasi dan budaya global mengancam nilai-nilai lokal dan keislaman, semangat Rahmah menjadi penyeimbang: bahwa perempuan bisa menjadi bijak dalam iman, unggul dalam ilmu, dan tetap anggun dalam budaya.
Dunia pendidikan kita hari ini membutuhkan lebih banyak figur seperti Rahmah yang bukan hanya membangun institusi, tetapi juga membebaskan pikiran dan memperluas cakrawala. Visi yang tak hanya untuk perempuan, tetapi untuk masa depan bangsa yang lebih beradab.
