Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

BPS Catat Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11 Persen

Rebung Lebih Sehat dari Dugaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 6 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

TikTok & Konten Viral

Kenapa konten yang sama bisa jadi viral di TikTok sementara di platform lain cuma biasa‑biasa saja?
Alfi SalamahAlfi Salamah16 Januari 2026 Opini
Tren Tiktok
Ilustrasi algoritma konten tiktok (IST)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

TikTok telah menjadi fenomena global dalam beberapa tahun terakhir, bukan sekadar aplikasi hiburan biasa. Dengan jutaan video tayang setiap hari, banyak konten yang tiba‑tiba meledak dan menjadi viral dalam hitungan jam. Fenomena ini tampaknya bukan kebetulan semata ada “rumus tak terlihat” yang membuat beberapa video begitu cepat menyebar dan memicu gelombang repost di seluruh dunia.

Fenomena viral di TikTok kini menjadi bahan pembicaraan masyarakat digital. Tidak hanya selebritas, tetapi juga pengguna biasa dapat menjadi sorotan publik lewat satu video pendek. Bahkan banyak brand dan kampanye sosial berhasil menarik perhatian besar hanya dengan strategi yang tepat di TikTok.

Algoritma yang Mendorong Viralitas

Untuk memahami ini, kita harus melihat dari beberapa sisi: algoritma, kebiasaan pengguna, strategi kreator, serta perubahan cara berkomunikasi generasi sekarang.

Pertama, algoritma TikTok sangat berbeda dibanding platform lain. Berbeda dengan feed berdasarkan siapa yang kita ikuti seperti di Instagram atau Facebook, TikTok menampilkan video berdasarkan preferensi pengguna yang terdeteksi lewat interaksi kecil seperti durasi tonton, likes, komentar, dan bahkan seberapa cepat pengguna swipe ke video berikutnya.

Format Singkat, Dampak Besar

Kenapa ini penting? Karena algoritma TikTok menempatkan konten bermutu tinggi lebih cepat di depan banyak mata. Ini berarti kreator baru sekalipun punya peluang sama untuk viral jika kontennya resonan dengan audiens. Tidak ada “pintu gerbang eksklusif” seperti di platform lain yang kadang lebih mengunggulkan akun besar atau berbayar.

Kedua, format video pendek TikTok juga memainkan peran besar. Durasi antara 5–30 detik memaksa kreator untuk menyampaikan pesan dengan cepat dan jelas. Akibatnya, informasi yang padat, lucu, atau memicu emosi bisa langsung menyentuh pengguna. Inilah era di mana perhatian adalah komoditas berharga, dan TikTok memaksimalkan setiap detik untuk mempertahankan perhatian itu.

Komunitas Kreatif & Efek Domino

Sebagai contoh, tantangan (challenge) dan tren tarian yang sering muncul bukan sekadar hiburan. Mereka bekerja layaknya “jaringan virality” sekali satu video menarik partisipasi pengguna lain, tren itu menyebar bak virus digital. Bahkan kampanye sosial dan pesan penting pun bisa ikut terangkat jika dibingkai dalam format yang sesuai.

Contohnya, di Indonesia, banyak kampanye kesehatan, edukasi lingkungan, dan solidaritas sosial yang berhasil mendapatkan jangkauan luas karena disampaikan lewat tantangan atau gaya penyampaian yang kekinian. Ini menunjukkan bahwa bukan hanya konten ringan yang bisa viral konten bermuatan penting pun bisa, asal formatnya tepat.

Dampak Ganda: Kreativitas atau Kekacauan?

Namun, fenomena viral ini juga datang dengan sisi yang perlu dicermati. Viral sering kali identik dengan penyebaran cepat tanpa kontrol kualitas, sehingga konten hoaks, misinformasi, hingga tantangan berbahaya pun bisa ikut viral.

Masalah lain adalah tekanan sosial yang muncul. Banyak pengguna muda merasa harus “ikut tren” agar tidak ketinggalan, atau merasa rendah diri jika kontennya tidak mendapatkan perhatian. Ini menunjukkan bahwa viralitas tidak selalu berarti positif; kadang bisa memicu kecemasan sosial atau perilaku tak sehat.

Brand & Strategi Viral yang Efektif

Dari perspektif bisnis, banyak brand kini berlomba memanfaatkan TikTok sebagai alat pemasaran. Mereka bekerja sama dengan kreator untuk membuat konten yang terasa organik dan bukan sekadar iklan biasa. Strategi ini seringkali lebih efektif karena konten terasa autentik dan relatable.

Namun, tidak semua kampanye berhasil. Kunci keberhasilan kampanye TikTok bukan hanya anggaran besar, melainkan pemahaman terhadap budaya dan tren lokal yang sedang berkembang.

Misalnya, sebuah brand minuman lokal yang berhasil viral bukan karena produknya unik saja, tetapi karena kampanyenya menggabungkan humor lokal, musik yang sedang tren, dan ajakan partisipasi bagi pengguna untuk membuat versi mereka sendiri.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Berikut rangkuman faktor utama yang membuat konten TikTok bisa viral:

  • Algoritma yang Berfokus pada Relevansi
  • Format Pendek yang Ringkas dan Menarik
  • Partisipasi Komunitas yang Aktif
  • Konten Emosional & Relatable
  • Kesesuaian Konteks Sosial Lokal

Namun perlu diingat, viral tidak selalu berarti nilai edukatif atau manfaat sosial. Sebagai jurnalis, kita bukan hanya melaporkan apa yang sedang populer, tetapi juga mengurai mengapa sesuatu menjadi populer, apa dampaknya bagi masyarakat, dan bagaimana fenomena ini mencerminkan kondisi sosial yang lebih luas.

Viralitas di TikTok adalah hasil kombinasi algoritma pintar, kreativitas komunitas, dan kecenderungan manusia modern untuk cepat bereaksi terhadap sesuatu yang relatable. Sebagai media dan kreator konten, kita perlu memanfaatkan fenomena ini secara bijak bukan hanya untuk popularitas semata, tetapi sebagai alat untuk menyebarkan informasi yang bermakna, aman, dan berdampak positif.

Algoritma Konten Digital Media Sosial TikTok Tren Viral TikTok
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleEka Cahya Prima Jadi Profesor Fisika Termuda di UPI
Next Article Tren Fashion Terbaru 2026

Informasi lainnya

Podcast vs YouTube: Rebutan Atensi Gen Z

18 Januari 2026

Urban Farming: Mandiri di Kota

18 Januari 2026

Tren Fashion Terbaru 2026

16 Januari 2026

Investasi Milenial Kini dan Masa Depan

28 Desember 2025

Bumi Tanpa Pohon, Krisis yang Tak Terlihat

28 Desember 2025

Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat

26 Oktober 2025
Paling Sering Dibaca

Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital

Opini Alfi Salamah

Savoy Homann Hotel, Saksi Bisu Kejayaan Bandung

Travel Assyifa

Bela Negara Bukan Membungkam Kritik

Opini Udex Mundzir

Koperasi Desa: Membangun atau Menguras?

Editorial Assyifa

Valentina Vassilyeva: Ibu dengan Anak Terbanyak dalam Sejarah

Biografi Silva
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Gus Yaqut Disorot KPK di Balik Skema 50:50 Kuota Haji

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

Catat Tanggalnya, Nisfu Syaban 2026

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.