Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Garam Kusamba Bali, Warisan Leluhur yang Mendunia

Larung Cai Cirebon, Warisan Budaya Penuh Makna

Prabowo Pecat Listyo Sigit, Ariyo Windutomo Jadi Plt KSP

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 6 November 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Antara Harapan dan Kekecewaan

Dilema kinerja Shin Tae-yong mencerminkan tantangan reformasi sepak bola Indonesia: membangun dengan visi jangka panjang atau menuruti tekanan hasil instan.
Udex MundzirUdex Mundzir26 Desember 2024 Editorial
Shin Tae-yong menghadapi kegagalan timnas Indonesia di Piala ASEAN 2024 serta tantangan reformasi sepak bola nasional.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kegagalan tim nasional Indonesia lolos ke semifinal Piala ASEAN 2024 telah membuka babak baru dalam perdebatan publik tentang masa depan pelatih Shin Tae-yong (STY). Pelatih asal Korea Selatan yang mulai memimpin timnas sejak 2019 ini kini menghadapi tagar #STYOut yang menggema di media sosial. PSSI, melalui ketuanya Erick Thohir, menjanjikan evaluasi menyeluruh, sementara pengamat menilai laga melawan Australia dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian terakhir bagi STY.

Namun, di balik tagar dan kritik yang berseliweran, ada pertanyaan mendasar yang harus dijawab: Apakah kita menilai kinerja STY secara adil? Di satu sisi, ia membawa angin segar dengan pendekatan profesional dan fokus pada regenerasi. Di sisi lain, kegagalan memenuhi target seperti di Piala ASEAN 2024 menjadi noda besar dalam perjalanan kariernya bersama Indonesia.

Salah satu kritik utama adalah kebijakan naturalisasi pemain diaspora. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan PSSI telah memanfaatkan aturan FIFA untuk menaturalisasi 17 pemain. Sebagian besar berasal dari Belanda dengan latar belakang keluarga Indonesia. Namun, program ini mendapat sorotan tajam karena dianggap tidak berdampak signifikan pada peningkatan kualitas permainan timnas. Dalam laga melawan Bahrain pada Oktober 2024, 10 dari 11 pemain yang diturunkan merupakan hasil naturalisasi, tetapi hasilnya tetap mengecewakan.

Masalah lainnya adalah kebiasaan STY yang sering mengubah susunan pemain di setiap pertandingan. Hal ini membuat tim sulit membangun chemistry, apalagi ketika mayoritas pemain belum memiliki pengalaman internasional yang cukup. Pengamat sepak bola Kesit B. Handoyo bahkan menyebut pola ini sebagai “kebiasaan buruk” yang justru menambah tekanan pada tim.

Baca Juga:
  • Demokrasi Tak Boleh Kalah Oleh Lumpur
  • Peluang Usaha di Balik Batas Medsos
  • Koperasi Desa Tanpa Arah Nyata
  • Menyingkap Tabir di Balik ‘Penyalahgunaan Wewenang’

Namun, tidak adil jika hanya melihat sisi buruknya. Di bawah asuhan STY, timnas mencatat beberapa pencapaian penting, seperti meraih medali emas SEA Games 2023 dan kemenangan atas Arab Saudi di kualifikasi Piala Dunia. Regenerasi pemain muda yang diprioritaskan STY juga patut diapresiasi, terutama karena mayoritas pemain Piala ASEAN 2024 berusia di bawah 22 tahun.

Masalah mendasar dari kegagalan ini bukan hanya pada sosok STY, tetapi pada struktur sepak bola Indonesia secara keseluruhan. Pendekatan instan yang terus diulang tanpa pembenahan akar masalah telah menjadi pola. Kompetisi lokal yang tidak konsisten, minimnya investasi dalam pembinaan usia muda, dan kurangnya fasilitas yang memadai membuat sepak bola Indonesia sulit bersaing di level internasional.

Jika PSSI benar-benar serius mengevaluasi, fokus tidak hanya harus tertuju pada STY, tetapi juga pada sistem yang mendukung timnas. Reformasi liga, peningkatan pelatihan pelatih lokal, dan investasi dalam infrastruktur sepak bola adalah langkah mendasar yang tidak bisa ditunda lagi.

Di sisi lain, kebijakan naturalisasi harus dievaluasi ulang. Jika terus dilakukan, proses seleksi harus lebih ketat dengan mempertimbangkan kebutuhan strategis timnas, bukan hanya popularitas atau status diaspora. Selain itu, pembinaan pemain lokal harus tetap menjadi prioritas utama.

Artikel Terkait:
  • Guru ASN di Sekolah Swasta
  • IKN: Jawaban atas Pesimisme
  • Golkar di Persimpangan Jalan
  • Rupiah Terjun Bebas, Ekonomi ke Mana?

Bagi Shin Tae-yong, tantangan terbesarnya bukan sekadar membuktikan kemampuan di laga melawan Australia, tetapi juga menunjukkan bahwa ia mampu membawa timnas keluar dari pola kegagalan yang berulang. Jika ia berhasil, bukan hanya kontraknya yang akan diperpanjang, tetapi juga kepercayaan publik terhadap visi jangka panjang sepak bola Indonesia. Namun, jika ia gagal, maka wajar jika PSSI mempertimbangkan sosok pelatih baru dengan reputasi dan strategi yang lebih baik.

Di akhir cerita, sepak bola Indonesia membutuhkan arah yang jelas. Ini bukan tentang memilih antara STY atau pelatih baru, melainkan tentang membangun sistem yang dapat menopang prestasi jangka panjang. Karena di balik setiap kemenangan atau kekalahan, ada jutaan harapan yang menggantung pada bendera merah putih di lapangan hijau.

Jangan Lewatkan:
  • Generasi Emas, Fondasi Kelas Kacau
  • Prabowo itu Bayang-Bayang Jokowi atau Pemimpin Baru?
  • Larangan Study Tour: Solusi atau Masalah Baru?
  • Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)
Pemain Naturalisasi Piala AFF 2024 PSSI Sepak Bola Indonesia Shin Tae-yong
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleAncaman PHK Massal Mengintai Karyawan Sritex
Next Article 7 Aplikasi Jahat yang Harus Segera Anda Hapus

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Tips Hindari FOMO Agar Tetap Kalem dan Bahagia

Daily Tips Ericka

Etika Digital dalam Islam

Islami Udex Mundzir

Langkah Utang Pemerintah di Akhir 2024

Editorial Udex Mundzir

Curug Malela: Niagara Mini di Jantung Hutan Jawa Barat

Travel Alfi Salamah

7 Kunci Sukses ala Bill Gates yang Bisa Kamu Terapkan

Bisnis Ericka
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih Dipersoalkan di MK

Dua Anak Menteri Haji Mundur Usai Disorot Nepotisme

Raffi Ahmad Ajak Lawan Hoaks, Peserta Deklarasi Sumpah Pemuda Akui Dibayar

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi