Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 26 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Koperasi Desa atau Alat Kuasa?

Di balik jargon pemberdayaan desa, tersembunyi agenda kontrol terpusat yang justru mencekik kemandirian lokal.
Udex MundzirUdex Mundzir22 April 2025 Editorial
Sentralisasi Koperasi Desa dan Risiko Utang Terstruktur
Ilustrasi Sentralisasi Koperasi Desa dan Risiko Utang Terstruktur
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Koperasi seharusnya menjadi simbol kekuatan rakyat, tempat di mana gotong royong bertemu dengan kedaulatan ekonomi dari bawah. Namun kini, narasi itu dibajak oleh kepentingan kekuasaan. Alih-alih memperkuat desa, koperasi justru dimanfaatkan sebagai instrumen proyek politik.

Wacana pembentukan Koperasi Desa Merah Putih yang digaungkan pemerintah pusat menghadirkan kekhawatiran. Bukannya memberdayakan desa, program ini justru menunjukkan kecenderungan kuat ke arah sentralisasi dan intervensi terhadap otonomi desa.

Setiap desa diwajibkan membentuk koperasi dengan anggaran Rp5 miliar melalui skema kredit dari bank milik negara (Himbara). Jika dijumlahkan, total kebutuhan dana mencapai Rp400 triliun. Karena APBN tidak mencukupi, solusinya: desa berutang ke bank dan mencicilnya dari dana desa.

Skema ini terlihat sebagai jebakan keuangan struktural. Desa meminjam atas nama pembangunan, tapi arah dan bentuk usaha ditentukan oleh pusat. Ini merusak semangat koperasi yang seharusnya tumbuh dari bawah dan berdasarkan kebutuhan lokal.

Lebih parah lagi, enam sektor usaha Kopdes Merah Putih seperti apotek dan distribusi pangan ditentukan langsung oleh pemerintah pusat. Padahal, UU Desa menjamin otonomi desa untuk menentukan arah pembangunan sesuai aspirasi warganya.

Intervensi ini menjadikan koperasi sebagai proyek top-down—bukan hasil musyawarah warga desa, melainkan perintah dari atas. Semangat koperasi ala Bung Hatta, yakni “Ko” (bersama) dan “Operasi” (bekerja), tidak lagi terlihat. Yang bekerja desa, yang untung dan ngatur pusat.

Risiko lain muncul di sektor keuangan. Bank Himbara diarahkan menyalurkan kredit ke Kopdes tanpa proses due diligence yang memadai. Potensi gagal bayar pun tinggi. Jika ini terjadi secara massal, risiko sistemik terhadap perbankan nasional menjadi sangat nyata.

Baca Juga:
  • Dari Memalukan ke Menakutkan
  • Buruh Sejahtera, Pengusaha Tertekan
  • Jangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri
  • Ladang Ganja di Bromo: Polisi Tidak Tahu atau Tutup Mata?

Dan seperti biasa, jika terjadi krisis perbankan, rakyat akan menjadi pihak yang paling dirugikan. Dana publik akan digunakan untuk menyelamatkan bank yang sebenarnya sedang melaksanakan perintah politik, bukan keputusan bisnis murni.

Tak hanya itu, pemerintah juga diduga mengalihkan pos anggaran dari APBD, seperti Dana Tidak Terduga yang semestinya digunakan untuk bencana, ke proyek Kopdes Merah Putih. Ini adalah bentuk pemaksaan pusat terhadap daerah dan jelas bertentangan dengan semangat desentralisasi.

Pemaksaan ini membuat kepala daerah dan kepala desa seperti kehilangan otoritas. Mereka hanya menjadi pelaksana kebijakan pusat. Desa yang semestinya memiliki hak menentukan prioritas, kini dikendalikan dari Jakarta melalui skema utang dan program yang dikemas seolah-olah untuk rakyat.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar soal koperasi, tetapi lebih dalam: upaya kontrol terhadap desa menjelang pemilu 2029. Desa dijadikan objek politik, bukan subjek pembangunan. Dana dijadikan alat kendali. Tunduk, dana turun. Melawan, dana macet.

Kepala desa pun banyak yang memilih diam. Padahal Pilkades kerap memicu konflik antarwarga dan menjadi ajang kontestasi sengit. Tapi setelah terpilih, mereka lebih memilih tidak melawan arus kebijakan pusat. Desa pun stagnan, jalan di tempat.

Kepala desa seharusnya bersuara lantang. Mereka dipilih rakyat, bukan diangkat oleh pusat. Sudah saatnya mereka memperjuangkan hak penuh atas dana desa dan menolak skema utang yang justru membebani pembangunan jangka panjang.

Artikel Terkait:
  • Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)
  • Mindset Penghambat Investasi
  • Politik Sengketa, Demokrasi yang Tercederai
  • Menag di Vatikan: Diplomasi Iman dan Kemanusiaan

Jika pemerintah memang ingin membangun koperasi sejati, pendekatannya harus dari bawah. Mulai dari pendidikan koperasi sejak dini, bangun akses modal berbasis anggota, dan dorong keputusan yang demokratis. Bukan dengan utang paksa dan instruksi dari atas.

Koperasi harus didukung, benar. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Yang kita butuhkan adalah koperasi rakyat, bukan koperasi proyek. Kita butuh BUMDes yang dikelola warga, bukan struktur utang terselubung yang dibungkus jargon gotong royong.

Koperasi simpan pinjam banyak yang mati bukan karena tak mampu bersaing, tapi karena dipaksa menghadapi kredit bank Himbara dengan regulasi yang mencekik, bunga tinggi, dan tanpa dukungan kebijakan. Negara gagal melindungi koperasi dari pasar yang tidak adil.

Kalau ingin koperasi hidup, negara harus membuka akses pasar dan menciptakan ekosistem yang setara. Bukan membiarkan koperasi bertarung sendiri di arena yang sudah dimonopoli oleh kekuatan modal besar.

Koperasi adalah gerakan rakyat. Ia tidak boleh dikendalikan oleh surat keputusan menteri atau dipaksa berutang atas nama rakyat. Bila terus dipolitisasi, maka yang lahir bukan pemberdayaan, melainkan penjajahan dalam bentuk baru.

Jangan Lewatkan:
  • Menghapus Jerat Judi Online Pasca Pilkada
  • Larangan Study Tour: Solusi atau Masalah Baru?
  • Antara Harapan dan Kekecewaan
  • Jangan Goyang Pemerintah Sah

Pemerintah harus jujur menjawab: apakah Kopdes Merah Putih demi rakyat, atau sekadar alat konsolidasi politik? Jika demi rakyat, maka biarkan rakyat desa yang mengelolanya sendiri. Tanpa tekanan, tanpa utang, tanpa kendali pusat.

Kembalikan koperasi pada jati dirinya: milik bersama, dikelola bersama, dan untuk kesejahteraan bersama. Jika tidak, yang kita miliki hanyalah ilusi kemandirian, di atas reruntuhan otonomi desa.

Ekonomi Politik Kebijakan Pusat Koperasi Rakyat Otonomi Desa Utang Daerah
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePKK Sanggulan Antusias Ikuti Bimtek
Next Article Firnadi Dukung Gratispol, Soroti Transparansi Anggaran

Informasi lainnya

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Tips dan Perlengkapan Mendaki Gunung Rinjani bagi Pemula

Travel Alfi Salamah

Riset Murah, Mimpi Besar

Editorial Udex Mundzir

Belajar Efektif, Hasil Maksimal

Daily Tips Alfi Salamah

APBS Siapkan Santri Jadi Pengusaha Tangguh

Bisnis Ericka

Narasi Dizalimi, Strategi Politik

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Info Haji
Udex Mundzir5 November 2025

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Gelombang PHK Global 2025: Amazon hingga Nestlé Pangkas Ribuan Pekerja

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi