Lebaran ibarat simpul yang kembali mengikat benang-benang hubungan yang sempat renggang. Di tengah suasana saling memaafkan, muncul pertanyaan klasik: siapa yang sebaiknya lebih dulu dikunjungi agar silaturahmi bernilai lebih dalam ajaran Islam?
Momentum Idulfitri setelah Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk mempererat hubungan keluarga dan sosial. Dalam ajaran Islam, menjaga silaturahmi bukan hanya tradisi, melainkan amalan yang memiliki nilai ibadah tinggi.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 36 yang memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, hingga lingkungan sekitar. Selain itu, hadis riwayat Bukhari dan Muslim juga menegaskan bahwa silaturahmi dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan umur.
Dalam berbagai literatur keislaman, dijelaskan adanya urutan yang dianjurkan dalam bersilaturahmi saat Lebaran. Posisi paling utama adalah ibu, diikuti oleh ayah, kemudian anak, kakek, nenek, serta saudara kandung. Setelah itu, kunjungan dilanjutkan kepada kerabat dekat seperti paman dan bibi dari kedua jalur keluarga, lalu keluarga dari pihak mertua, hingga tetangga.
“Dalam Islam, ibu memiliki kedudukan paling tinggi dalam hal bakti. Karena itu, mengunjungi ibu terlebih dahulu menjadi bentuk penghormatan utama, disusul ayah dan keluarga inti lainnya,” ujar seorang pengajar ilmu agama, Kamis (19/03/2026).
Ia menambahkan bahwa kondisi tertentu juga perlu menjadi pertimbangan. Misalnya, jika ada anggota keluarga yang sedang sakit atau membutuhkan perhatian khusus, maka mereka patut diprioritaskan meskipun berada di luar urutan umum.
Selain mengunjungi keluarga yang masih hidup, umat Islam juga dianjurkan untuk melanjutkan silaturahmi dengan berziarah ke makam keluarga yang telah wafat. Tradisi ini menjadi bentuk doa dan penghormatan kepada leluhur, sekaligus mengingatkan akan hakikat kehidupan.
Dalam praktiknya, silaturahmi juga harus dibarengi dengan adab bertamu yang baik. Niat yang tulus menjadi dasar utama, diikuti dengan pemilihan waktu yang tepat agar tidak mengganggu tuan rumah. Tamu juga dianjurkan untuk tidak berlama-lama hingga merepotkan, namun tetap menjaga kualitas interaksi.
Adab lainnya mencakup sikap sopan santun, tidak pilih kasih dalam bersilaturahmi, serta tidak menjadikan kunjungan sebagai ajang mencari hidangan. Rasulullah SAW mencontohkan untuk selalu menghargai jamuan yang diberikan tanpa mencela makanan yang disajikan.
Tak kalah penting, menjaga sikap agar tidak menimbulkan fitnah, berpakaian sederhana, serta membawa bingkisan sebagai bentuk perhatian juga menjadi bagian dari etika yang dianjurkan. Meski tidak wajib, hal tersebut dapat mempererat hubungan emosional antar keluarga.
Dengan memahami urutan dan adab silaturahmi ini, momen Lebaran diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai kebersamaan, kepedulian, dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.
