Di tengah derasnya arus digital, muncul anggapan bahwa gadget mampu menggantikan peran buku dalam kehidupan manusia. Berbagai informasi kini tersedia hanya melalui sentuhan layar. Namun, kemudahan tersebut ternyata tidak otomatis menjadikan masyarakat semakin gemar membaca.
Survei GoodStats pada awal 2025 menunjukkan bahwa hanya sekitar 20,7 persen masyarakat Indonesia yang membaca buku setiap hari. Sebanyak 22,3 persen membaca seminggu sekali dan 24,6 persen membaca sebulan sekali. Sementara itu, 17 persen lainnya mengaku hanya membaca ketika membutuhkan informasi tertentu.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan literasi dasar masyarakat Indonesia sebenarnya cukup tinggi. Tingkat baca-tulis mencapai 96,67 persen pada tahun 2025. Akan tetapi, kemampuan membaca tidak selalu berbanding lurus dengan kebiasaan membaca secara rutin.
Tingkat Gemar Membaca Indonesia 54,8 Poin
Laporan Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Kegemaran Membaca Indonesia berada pada angka 54,8 poin. Generasi Z menjadi kelompok dengan minat membaca tertinggi, yakni 26 persen. Angka tersebut masih menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat belum menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.
Sebagian kalangan berpendapat bahwa buku fisik tidak lagi diperlukan karena semua informasi dapat diakses melalui gadget. E-book, artikel digital, hingga perpustakaan daring dianggap cukup menggantikan fungsi buku konvensional. Pandangan ini memang tidak sepenuhnya salah.
Namun, persoalan utama bukan terletak pada medianya, melainkan pada perilaku pengguna. Gadget tidak hanya menyediakan bahan bacaan. Di dalamnya terdapat media sosial, permainan, hiburan, hingga berbagai notifikasi yang terus bermunculan.
Akibatnya, perhatian pembaca mudah terpecah. Seseorang yang awalnya berniat membaca buku digital sering kali berakhir membuka aplikasi lain. Proses membaca yang seharusnya berlangsung tenang berubah menjadi aktivitas yang dipenuhi distraksi.
Gadget Banyak Menghabiskan Waktu
Jika melihat data GoodStats, hanya sekitar satu dari lima orang Indonesia yang membaca buku setiap hari. Kondisi ini mengindikasikan bahwa mayoritas pengguna gadget lebih banyak menghabiskan waktu untuk aktivitas digital lainnya daripada membaca secara mendalam.
Fenomena tersebut semakin terlihat pada kelompok usia muda. Tidak sedikit anak-anak yang sejak dini telah mengenal gadget secara berlebihan. Ketergantungan terhadap layar bahkan mulai memunculkan berbagai masalah psikologis dan sosial.
Di era digital saat ini, remaja menjadi pengguna media sosial terbesar. Survei Talker Research tahun 2024 terhadap 2.000 responden menunjukkan bahwa rata-rata remaja menghabiskan 6,6 jam setiap hari untuk mengakses media sosial. Bahkan, 11 persen di antaranya menghabiskan waktu lebih dari 15 jam dalam sehari.
Angka tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian dominan dalam kehidupan generasi muda. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menjadi konsumsi harian yang hampir tidak terpisahkan dari aktivitas mereka.
Indonesia Pengguna Tiktok Terbesar di Dunia
Indonesia sendiri menjadi negara dengan jumlah pengguna TikTok terbesar di dunia. Jumlah pengguna platform tersebut mencapai 157,6 juta orang. Besarnya angka tersebut memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh media sosial terhadap pola kehidupan masyarakat.
Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk usia remaja 10 hingga 18 tahun mencapai hampir 32 persen dari total populasi Indonesia pada tahun 2023. Jumlah yang besar ini menjadikan remaja sebagai target utama industri konten digital.
Para kreator berlomba menarik perhatian generasi muda melalui video-video singkat yang mudah dikonsumsi. Pola tersebut pada akhirnya membentuk kebiasaan baru dalam cara manusia menerima informasi.
Media Sosial Berdampak Buruk
Hasil survei Talker Research tahun 2024 mengungkapkan bahwa satu dari lima orang mengaku media sosial berdampak buruk terhadap rentang perhatian mereka. Banyak remaja terbiasa mengecek ponsel ketika sedang menonton televisi atau tayangan berdurasi panjang.
Mereka juga sering mengulang bagian tertentu karena kehilangan fokus selama menonton. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa konsentrasi manusia semakin mudah terpecah akibat paparan konten digital yang berlangsung secara terus-menerus.
Sebanyak 52 persen remaja bahkan mengaku suasana hati mereka sering dipengaruhi secara negatif oleh media sosial. Tekanan sosial, perbandingan diri, hingga banjir informasi menjadi faktor yang memengaruhi kesehatan mental mereka.
Dalam satu sesi penggunaan media sosial selama 15 menit, seseorang dapat melihat sekitar 60 video dengan durasi 15 hingga 60 detik. Otak dipaksa berpindah dari satu topik ke topik lain dalam waktu yang sangat cepat.
Kondisi tersebut membuat kemampuan mempertahankan perhatian dalam waktu lama semakin menurun. Padahal, membaca buku membutuhkan konsentrasi, ketenangan, serta kemampuan berpikir mendalam.
Membaca Buku Melatih Daya Pikir
Inilah yang membedakan buku dengan gadget. Buku tidak menghadirkan notifikasi. Buku tidak menawarkan gangguan berupa video pendek atau pesan masuk. Ketika seseorang membaca buku, seluruh fokus diarahkan pada isi bacaan.
Aktivitas tersebut melatih daya pikir, kemampuan analisis, dan imajinasi. Membaca buku juga mengajarkan kesabaran serta kemampuan memahami persoalan secara lebih mendalam.
Dari sisi sosial, budaya membaca buku mampu membangun masyarakat yang lebih kritis. Orang yang terbiasa membaca cenderung memiliki kemampuan berpikir logis dan tidak mudah terjebak informasi palsu.
Dari aspek pendidikan, buku menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter dan kecerdasan. Teknologi memang membantu proses belajar, tetapi kualitas pemahaman seseorang tetap ditentukan oleh kebiasaan membaca yang baik.
Buku Menjadi Warisan Peradaban Manusia
Secara ekonomi, industri penerbitan dan perpustakaan juga memiliki peran penting dalam membangun ekosistem literasi nasional. Kehadiran buku tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan budaya membaca masyarakat.
Sementara itu, dari sisi budaya, buku merupakan warisan peradaban manusia. Pengetahuan yang diwariskan lintas generasi selama berabad-abad sebagian besar tersimpan melalui tulisan dan karya-karya literatur.
Karena itu, menempatkan gadget sebagai pengganti buku merupakan pandangan yang terlalu sederhana. Gadget seharusnya diposisikan sebagai sarana pendukung, bukan sebagai pengganti sepenuhnya.
Pemerintah perlu memperluas akses terhadap bahan bacaan dan perpustakaan. Sekolah juga harus membangun kembali budaya membaca melalui program literasi yang lebih menarik dan relevan dengan perkembangan zaman.
Buku Tetap Menjadi Jendela Peradaban
Keluarga memiliki peran yang tidak kalah penting. Orang tua perlu membatasi penggunaan gadget pada anak dan memperkenalkan kebiasaan membaca sejak usia dini. Teladan dari lingkungan rumah akan sangat menentukan pembentukan karakter anak.
Teknologi tidak perlu menjadi musuhi. Kehadiran buku digital, perpustakaan daring, dan berbagai platform edukasi justru dapat dimanfaatkan untuk memperkuat budaya literasi. Namun, penggunaan teknologi harus disertai pengendalian diri agar tidak berubah menjadi sumber distraksi.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir mendalam. Masyarakat yang terlalu bergantung pada konten singkat berisiko kehilangan daya refleksi dan kemampuan memahami persoalan secara utuh.
Kami berpandangan bahwa gadget tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran buku. Keduanya dapat berjalan berdampingan, tetapi buku tetap memiliki keunggulan dalam membangun konsentrasi, daya pikir, serta kedalaman pengetahuan manusia. Kemajuan teknologi seharusnya menjadi jembatan bagi lahirnya generasi pembaca, bukan generasi yang tenggelam dalam budaya menggulir layar tanpa henti.
