Rencana perjalanan kadang berubah sebelum koper sempat meninggalkan rumah. Tiket sudah dibeli. Hotel telah dipesan. Agenda liburan tersusun rapi. Lalu sebuah gunung meletus, abu memenuhi jalur udara, dan papan keberangkatan berubah menjadi deretan pembatalan.
Itulah yang dialami ribuan pelancong setelah Anak Krakatau mengalami erupsi pada awal September 2026.
Pada Minggu (6/9/2026), aktivitas gunung tersebut membuat delapan bandara menghentikan penerbangan. Soekarno-Hatta menjadi salah satu yang paling terdampak. Sebanyak 964 penerbangan di bandara utama Jakarta itu terkena gangguan. Secara keseluruhan, lebih dari 1.500 penerbangan dan sekitar 170 ribu penumpang terdampak dalam satu hari.
Sehari kemudian, skalanya semakin besar.
Sekitar 341 ribu pelancong terdampak pembatalan, pengalihan, atau keterlambatan 2.961 penerbangan. Tujuh bandara masih ditutup karena abu vulkanik dan proses pembersihan.
Bagi dunia penerbangan, situasinya adalah gangguan operasional.
Bagi penumpang, ceritanya jauh lebih personal.
Ketika Jadwal yang Rapi Mendadak Berantakan
Ersy Laksita Rini datang ke Bandara Soekarno-Hatta untuk penerbangan pagi menuju Surabaya.
Setibanya di sana, ia baru mengetahui penerbangannya dibatalkan.
Ia mengatakan kepada Reuters bahwa pemberitahuan lebih awal akan membantu penumpang mencari alternatif perjalanan.
Pengalaman berbeda dialami wisatawan Prancis, Eloan Tasset. Penerbangannya menuju Manado mengalami penundaan tanpa kepastian waktu. Ia mulai mempertimbangkan mencari hotel di Jakarta jika penerbangannya akhirnya dibatalkan.
Dua pengalaman tersebut menggambarkan sesuatu yang sering luput ketika membaca berita bencana.
Satu penerbangan yang dibatalkan bukan hanya satu angka.
Ada orang yang kehilangan malam pertama liburan. Ada pertemuan keluarga yang tertunda. Ada reservasi hotel yang terancam hangus. Ada jadwal perjalanan lanjutan yang ikut berantakan.
Bahkan setelah bandara kembali dibuka, efeknya belum langsung selesai.
Pesawat harus diperiksa. Posisi armada berubah. Jadwal kru bergeser. Penumpang dari penerbangan sebelumnya harus mendapatkan penerbangan baru.
Gangguan kemudian berjalan seperti domino.
Alam Tidak Membaca Itinerary
Pelancong modern terbiasa merencanakan hampir semuanya.
Aplikasi dapat memprediksi waktu tiba. Tiket dibeli berbulan-bulan sebelumnya. Hotel bisa dipilih berdasarkan jarak beberapa ratus meter dari tempat wisata.
Namun, alam bekerja dengan aturan berbeda.
Gunung api tidak menyesuaikan erupsi dengan musim liburan.
Abu Anak Krakatau bahkan mencapai sekitar 50.000 kaki pada sisi Sumatra. Ketinggian itu setara sekitar 15 kilometer. Sebarannya kemudian memasuki wilayah yang berhubungan langsung dengan jalur penerbangan.
Bandara ditutup bukan karena pesawat tidak mampu terbang dalam cuaca mendung.
Abu vulkanik dapat membahayakan mesin dan komponen pesawat. Karena itu, keselamatan menjadi pertimbangan utama meski langit dari terminal terlihat cukup normal.
Situasi serupa bisa muncul dari bencana lain.
Banjir dapat memutus jalan menuju destinasi. Longsor bisa menutup jalur pegunungan. Kebakaran hutan dapat menurunkan kualitas udara. Gelombang tinggi bisa menghentikan pelayaran.
Karhutla yang terjadi pada September 2026 bahkan telah membuat lebih dari 12,5 juta orang di tujuh provinsi terpapar asap dan kabut. Sumatra dan Kalimantan menjadi wilayah yang paling terdampak.
Artinya, perjalanan tidak hanya dipengaruhi kondisi tujuan wisata.
Jalur menuju ke sana sama pentingnya.
Wisatawan Mulai Membutuhkan Rencana B
Perubahan cuaca dan bencana membuat satu kebiasaan perjalanan semakin relevan: fleksibilitas.
Dulu, itinerary yang padat mungkin terasa efisien.
Tiga kota dalam empat hari. Pesawat pagi langsung disambung kereta. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kapal menuju pulau lain.
Rencana semacam itu terlihat sempurna selama semua berjalan tepat waktu.
Masalah muncul ketika satu bagian terlambat.
Gangguan beberapa jam dapat membuat seluruh perjalanan berikutnya ikut terlewat.
Karena itu, memberikan ruang kosong dalam itinerary tidak selalu berarti membuang waktu.
Satu malam tambahan sebelum penerbangan internasional bisa menjadi penyelamat. Begitu pula memilih tiket dengan opsi perubahan jadwal ketika bepergian menuju wilayah yang sedang memiliki potensi gangguan.
Informasi juga menjadi bekal perjalanan.
Sebelum menuju kawasan gunung api, wisatawan sebaiknya memeriksa informasi Badan Geologi. Untuk perjalanan laut, peringatan gelombang dan cuaca BMKG perlu diperhatikan.
Berita terbaru dari pengelola bandara dan maskapai juga perlu diperiksa sebelum meninggalkan hotel.
Kebiasaan tersebut terdengar sederhana.
Namun, pengalaman ribuan penumpang pada erupsi Anak Krakatau memperlihatkan nilainya.
Jangan Memaksakan Perjalanan Demi Tiket Murah
Ada dilema lain ketika rencana terganggu.
Uang sudah dikeluarkan.
Hotel mungkin tidak dapat dikembalikan. Tiket wisata sudah dibayar. Cuti kantor sulit dipindahkan.
Kondisi ini sering membuat seseorang tergoda tetap berangkat meski situasi belum benar-benar aman.
Padahal, biaya yang sudah dikeluarkan tidak mengubah kondisi alam.
Wisatawan perlu membedakan antara ketidaknyamanan dan risiko keselamatan.
Hujan ringan mungkin hanya membutuhkan payung. Erupsi, banjir besar, longsor, atau penutupan wilayah memiliki konsekuensi berbeda.
Ketika otoritas menutup bandara atau destinasi, keputusan itu bukan dibuat untuk merusak liburan.
Ada risiko yang sedang dihindari.
Pada kasus Anak Krakatau, penutupan bandara bahkan diperpanjang agar landasan, taxiway, dan apron dapat dibersihkan. Maskapai juga membutuhkan waktu menyiapkan kembali armadanya.
Menunggu memang menyebalkan.
Tetapi perjalanan yang terlambat masih bisa dilanjutkan.
Perjalanan Modern Tetap Bergantung pada Alam
Teknologi membuat dunia terasa semakin kecil.
Kita dapat memesan kamar ribuan kilometer jauhnya dalam beberapa detik. Pesawat membawa manusia menyeberangi pulau dalam hitungan jam. Peta digital menunjukkan jalan hingga gang kecil.
Namun, teknologi tidak menghapus ketidakpastian.
Sebuah gunung di tengah Selat Sunda mampu mengubah perjalanan ratusan ribu orang.
Asap dari kebakaran hutan dapat mengubah kualitas udara di kota lain. Hujan beberapa jam dapat memengaruhi jalur yang sebelumnya tampak aman.
Bagi pelancong, perubahan itu menghadirkan pelajaran baru.
Persiapan perjalanan bukan lagi hanya memikirkan pakaian, hotel, dan tempat makan.
Kondisi alam juga perlu masuk dalam itinerary.
Mungkin itu membuat perjalanan terasa sedikit kurang spontan. Namun, justru dengan mengetahui risiko, seseorang bisa bepergian dengan lebih tenang.
Pada akhirnya, itinerary hanyalah rencana yang dibuat manusia.
Alam tidak pernah berjanji mengikutinya.
