Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 2 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mochtar Kusumaatmadja, Arsitek Laut Nusantara

Ketika batas negara didefinisikan lewat ilmu dan diplomasi, satu nama menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan yang berdaulat.
Alfi SalamahAlfi Salamah4 Januari 2026 Profil
Mochtar Kusumaatmadja
Mochtar Kusumaatmadja, Ahli Hukum/Diplomat (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Mochtar Kusumaatmadja lahir di Batavia pada 17 Februari 1929, dan sejak muda dikenal sebagai pribadi cerdas dengan ketertarikan kuat pada bidang hukum. Ia menyelesaikan pendidikan hukumnya di Universitas Indonesia, lalu melanjutkan ke Yale University, Amerika Serikat, untuk meraih gelar Master of Laws.

Tak berhenti di sana, Mochtar kemudian menempuh studi doktoral di Universitas Padjadjaran (Unpad) dan melanjutkan pendidikan pasca-doktoral di Harvard Law School dan University of Chicago. Dengan modal keilmuan tersebut, ia menjadi salah satu pakar hukum internasional paling disegani di Asia Tenggara.

Mengubah Lautan Jadi Perekat, Bukan Pemisah

Salah satu kontribusi terbesar Mochtar adalah penggagas utama konsep Wawasan Nusantara. Di masa awal kemerdekaan, wilayah laut Indonesia di antara ribuan pulaunya masih dianggap sebagai wilayah internasional. Mochtar menentang pandangan itu.

Baginya, laut bukanlah pemisah antarwilayah, melainkan penghubung identitas dan kedaulatan bangsa. Ia mengembangkan gagasan bahwa seluruh perairan di antara pulau-pulau Indonesia merupakan bagian dari wilayah negara yang sah. Konsep ini tidak hanya visioner, tapi juga revolusioner dalam hukum internasional.

Konvensi UNCLOS dan Pengakuan Dunia

Gagasan Mochtar mendapat panggung global dalam forum United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982. Lewat perjuangan diplomatik panjang, dunia internasional akhirnya mengakui konsep negara kepulauan (archipelagic state) menjadikan Indonesia sebagai model pertama dan utama dalam kategori ini.

Berkat peran aktifnya, Indonesia tidak hanya diakui sebagai negara kepulauan, tapi juga berhak penuh atas seluruh perairan antar-pulau sebagai bagian integral wilayah kedaulatan. Sebuah kemenangan strategis yang memperkuat posisi Indonesia secara hukum dan geopolitik.

Menjabat Menteri: Dari Kehakiman ke Luar Negeri

Mochtar tidak hanya berkontribusi di dunia akademik, tapi juga di jajaran pemerintahan. Ia menjabat sebagai Menteri Kehakiman (1974–1978), lalu dilantik sebagai Menteri Luar Negeri (1978–1988) oleh Presiden Soeharto.

Selama menjadi Menlu, ia memainkan peran penting dalam memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional, memperjuangkan hak laut, serta mempererat hubungan diplomatik regional dan global.

Diplomasi Mochtar dikenal cerdas, berkelas, dan berbasis pada keilmuan hukum yang mendalam. Ia menjembatani kepentingan nasional dengan norma hukum internasional secara elegan dan efektif.

Warisan Pemikiran: Hukum Sebagai Alat Perubahan Sosial

Mochtar memandang hukum tidak sekadar sebagai perangkat peraturan, tetapi sebagai alat perubahan sosial. Gagasannya tentang hukum sebagai bagian integral dari pembangunan membuat banyak kebijakan nasional memiliki pijakan hukum yang kuat dan berpihak pada masyarakat.

Ia menekankan pentingnya pemahaman hukum di tengah masyarakat luas, bukan hanya di ruang sidang atau kantor kementerian. Konsep hukum progresif yang ia bawa menjadi dasar bagi pengembangan hukum modern Indonesia di era Orde Baru hingga kini.

Penghormatan Tertinggi: Pahlawan Nasional 2025

Setelah wafatnya pada 6 Juni 2021, Mochtar dikenang sebagai ilmuwan, diplomat, dan negarawan besar. Barulah pada 10 November 2025, Presiden RI resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya sebuah penghormatan atas dedikasi dan jasa luar biasa dalam memperjuangkan kedaulatan Indonesia, baik di darat maupun di laut.

Menjaga Laut Lewat Gagasan dan Integritas

Warisan Mochtar Kusumaatmadja tak bisa dipisahkan dari identitas geografis dan politik Indonesia sebagai negara kepulauan. Dalam situasi geopolitik yang terus berubah, dari sengketa Laut China Selatan hingga eksploitasi sumber daya laut, konsep negara kepulauan yang ia perjuangkan tetap relevan dan penting dijaga.

Ia mengajarkan bahwa keutuhan bangsa tidak hanya dijaga dengan kekuatan militer. Tapi juga dengan keilmuan, diplomasi, dan integritas hukum yang kokoh.

Ilmuwan, Diplomat, Negarawan

Mochtar Kusumaatmadja adalah figur yang membuktikan bahwa ilmu hukum bisa mengubah sejarah bangsa. Ia tidak membangun monumen fisik, tapi meletakkan fondasi konseptual atas kedaulatan Indonesia. Lewat gagasan, ia menjaga laut Nusantara tetap milik bangsa ini.

Dalam sejarah Indonesia modern, nama Mochtar akan terus dikenang sebagai sosok yang menyatukan hukum, diplomasi, dan nasionalisme dalam satu pribadi seorang arsitek negara kepulauan.

Diplomasi Indonesia Hukum Laut Mochtar Kusumaatmadja Pahlawan Nasional Wawasan Nusantara
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleZainal Abidin Syah, Sultan Pejuang Papua
Next Article Sarwo Edhie Wibowo, Prajurit dalam Badai Sejarah

Informasi lainnya

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

31 Januari 2026

Malahayati, Laksamana Laut Perempuan

30 Januari 2026

Göbekli Tepe: Terungkapnya Misteri Peradaban Tertua

29 Januari 2026

Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

29 Januari 2026

S.K. Trimurti: Suara Perempuan Merdeka

28 Januari 2026

Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota

27 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Lulusan Gen Z Banyak Dipecat? Kenali Masalah dan Solusinya

Happy Udex Mundzir

Keajaiban Nenek 95 Tahun Tawaf dan Sai Mandiri di Musim Haji

Islami Alfi Salamah

Keunikan Budaya dan Kemajuan Teknologi, Inilah Keistimewaan Jepang

Travel Alfi Salamah

7 Rekomendasi Masakan Sehat untuk Bekal Anak Sekolah

Daily Tips Alfi Salamah

Self Healing, Tren atau Pelarian?

Happy Alfi Salamah
Berita Lainnya
Pendidikan
Lisda Lisdiawati28 Januari 2026

Workshop Transformasi Tugas Akhir menjadi Artikel Ilmiah di Politeknik Triguna

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Workshop Visi SMPN 1 Cisayong Tekankan Karakter Murid

Eka Cahya Prima Jadi Profesor Fisika Termuda di UPI

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim Turun Rp2.099,15 per Kilogram

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.