Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

MUI Ajak Keluarga Perkuat Moral di Momentum HUT RI

Mengapa Korupsi Menjadi Budaya?

Gempa M7,7 Flores Tewaskan 38 Orang, Tsunami 94 Cm

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 18 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Alibi Efisiensi, Pilkada Tetap Harus Langsung

Di balik alasan efisiensi anggaran, wacana mengembalikan pilkada ke DPRD menimbulkan ancaman serius terhadap demokrasi lokal.
Udex MundzirUdex Mundzir22 Desember 2024 Editorial
Wacana pilkada via DPRD
Wacana pilkada via DPRD (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Wacana efisiensi politik kembali digunakan untuk menggiring opini publik terhadap perubahan sistem pilkada. Presiden Prabowo Subianto mengusulkan agar kepala daerah dipilih oleh DPRD dengan alasan menghemat anggaran negara. Namun, di balik janji efisiensi tersebut, ada ancaman nyata terhadap kedaulatan rakyat dan prinsip dasar demokrasi yang telah dibangun selama hampir dua dekade.

Presiden Prabowo menyebut bahwa sistem di negara-negara seperti Malaysia dan Singapura lebih efisien karena kepala daerah tidak dipilih langsung oleh rakyat. Ia mengklaim, anggaran yang dihemat dari pilkada langsung dapat dialihkan untuk memperbaiki infrastruktur, pendidikan, dan kebutuhan mendesak lainnya. Namun, apakah efisiensi ini benar-benar sepadan dengan dampak buruknya terhadap demokrasi dan akuntabilitas pemerintah?

Sejarah menunjukkan bahwa pilkada langsung memberi ruang bagi rakyat untuk memilih pemimpin secara transparan dan bertanggung jawab. Dengan menyerahkan pemilihan kepada DPRD, kontrol rakyat atas proses demokrasi berpotensi terkikis. Kepala daerah yang dipilih oleh DPRD cenderung lebih bertanggung jawab kepada para anggota dewan ketimbang kepada masyarakat luas.

Pilkada langsung memang memerlukan biaya besar, tetapi biaya tersebut adalah investasi bagi demokrasi. Pengalihan pilkada ke DPRD tidak menjamin pengurangan biaya secara signifikan. Sebaliknya, negosiasi politik, lobi-lobi antarpartai, dan potensi politik uang di balik layar justru berisiko menambah biaya politik yang lebih sulit dipantau.

Baca Juga:
  • Israel vs Iran: Medan Dominasi, Bukan Lagi Proxy
  • Gaya Politik Kekanak-Kanakan Ala RIDO
  • Titik Kritis Kepemimpinan Prabowo
  • Integritas di Balik Gelar Akademik

Peneliti dari Perludem menegaskan bahwa akar masalah biaya tinggi dalam pilkada langsung terletak pada lemahnya penegakan hukum terhadap praktik politik transaksional, bukan pada sistem pemilunya. Jika pemerintah serius ingin menekan biaya politik, yang perlu dilakukan adalah memperbaiki regulasi kampanye, menindak pelanggaran, dan mendorong transparansi dalam proses pencalonan.

Pilkada langsung adalah salah satu mekanisme demokrasi yang menjamin keterlibatan rakyat dalam menentukan pemimpin lokal mereka. Mekanisme ini memberikan legitimasi kuat kepada kepala daerah dan memperkuat akuntabilitas mereka kepada rakyat.

Dengan mengembalikan pemilihan kepada DPRD, pemerintah berisiko mengurangi hak rakyat untuk terlibat langsung dalam proses demokrasi. Kepala daerah yang dipilih tanpa mandat langsung dari rakyat dapat kehilangan legitimasi dan cenderung fokus pada kepentingan elite politik.

Wacana ini juga berisiko memunculkan kolusi antara eksekutif dan legislatif lokal, yang melemahkan prinsip check and balances. Demokrasi prosedural semacam ini dikhawatirkan akan menguatkan oligarki dan merugikan masyarakat.

Artikel Terkait:
  • Raja Kecil di Birokrasi, Prabowo Gertak Sambal?
  • e-KTP: Teknologi Tanpa Arah
  • Tarif Ojol Naik: Siapa Diuntungkan?
  • Langkah Utang Pemerintah di Akhir 2024

Alih-alih mengubah sistem, pemerintah harus fokus pada reformasi teknis yang meningkatkan efisiensi pilkada langsung. Salah satu solusinya adalah penggabungan pemilu nasional dan daerah untuk mengurangi frekuensi pemilu, sekaligus menghemat biaya. Digitalisasi pemilu juga bisa menjadi alternatif yang relevan untuk menekan anggaran jangka panjang.

Pemerintah juga harus memperkuat kapasitas partai politik dalam membangun basis dukungan di tingkat akar rumput, sehingga tidak bergantung pada praktik politik uang. Upaya ini lebih menjanjikan dalam meningkatkan kualitas demokrasi tanpa mengorbankan hak rakyat.

Wacana ini tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga mencerminkan upaya untuk melanggengkan kontrol politik oleh segelintir elite. Dalam demokrasi yang sehat, rakyat adalah pusat dari setiap proses politik. Mengalihkan kekuasaan memilih dari rakyat kepada DPRD adalah langkah mundur yang dapat mengerdilkan demokrasi lokal.

Investasi dalam demokrasi, termasuk biaya pilkada langsung, adalah harga yang pantas untuk memastikan hak rakyat tetap terjaga. Efisiensi tidak boleh dijadikan alasan untuk melemahkan demokrasi. Pilkada langsung harus dipertahankan demi kedaulatan rakyat dan masa depan demokrasi Indonesia.

Jangan Lewatkan:
  • Bahlil Membuat Gaduh, Lalu Berlagak Penyelamat
  • Haji Ilegal, Iman yang Dimanfaatkan
  • Tarif Trump: Senjata Makan Tuan
  • Pimpinan Viral, Yang Menderita Rakyatnya.
Demokrasi Lokal Efisiensi Politik Pilkada DPRD Pilkada Langsung Wacana Prabowo
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleStrategi Pemanfaatan AI Nasional: Pemerintah Tetapkan Lima Prioritas
Next Article Kenaikan PPN 12 Persen Picu Polemik, PDIP Tegaskan Inisiatif Pemerintahan Jokowi

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Pedagang Kelontong Dukung Stiker Larangan Jual Rokok ke Anak

Bisnis Silva

Menakar Usia Ideal Penggunaan HP bagi Anak

Editorial Udex Mundzir

Jangan Normalisasi Israel

Editorial Udex Mundzir

Menghapus Jerat Judi Online Pasca Pilkada

Editorial Udex Mundzir

Di Balik Kegelapan yang Diteriakkan

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Ekonomi
Ericka29 Mei 2025

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa Resmi Kembali di SMA Mulai 2025

Prabowo Nilai Pengibaran Bendera One Piece Tak Langgar Aturan

Istiqlal Jadi Tuan Rumah MTQ Tujuh Negara

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi