Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sudah Kerja Keras, Mengapa Sukses Belum Juga Datang?

Martha Tilaar Wafat, Wariskan Kecantikan Nusantara

Tren Hidup Hemat Gen Z, Gengsi Mulai Ditinggalkan?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 15 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kehadiran Prabowo di Kongres Projo, Akan Menegaskan Dirinya “Termul”

Kehadiran Prabowo di Kongres Projo, Akan Menegaskan Dirinya “Termul”
Udex MundzirUdex Mundzir1 November 2025 Editorial
Kehadiran Prabowo di Kongres Projo, Akan Menegaskan Dirinya “Termul”
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kongres III Projo yang akan digelar pada awal November mendatang kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena dinamika internal organisasinya, melainkan karena daftar tamu undangan yang kabarnya mencakup Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, memastikan undangan itu telah diterima. Publik kini menunggu satu hal: apakah Presiden akan hadir?

Pertanyaan sederhana ini sesungguhnya menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Jika Presiden benar datang ke forum relawan, langkah itu akan menegaskan dirinya sebagai sosok yang belum sepenuhnya berdiri di atas semua golongan.

Kehadiran tersebut dapat menjadi simbol bahwa kepala negara masih menempatkan dirinya dalam orbit kelompok tertentu. Dalam istilah yang beredar di ruang publik, hal itu bisa dianggap sebagai “termul”.

Projo, yang sejak awal berdiri sebagai kekuatan politik pendukung Joko Widodo, kini memiliki struktur yang kuat dan pengaruh yang luas. Di bawah kepemimpinan Budi Arie Setiadi, yang juga menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika, organisasi ini tampak ingin menjaga relevansinya di era pemerintahan Prabowo Gibran.

Di sinilah persoalannya bermula. Seorang presiden semestinya berdiri di atas semua kepentingan. Ia adalah simbol pemersatu bangsa, bukan representasi dari satu kelompok atau jaringan politik tertentu.

Menghadiri kongres relawan yang jelas memiliki afiliasi politik bukan sekadar soal etika, tetapi menyangkut marwah kenegaraan.

Rakyat tentu memahami bahwa politik Indonesia bersifat cair dan relasi antarfigur kerap berkelindan. Namun publik juga berhak menuntut ketegasan moral dari seorang kepala negara.

Setiap langkah presiden membawa pesan simbolik. Bukan hanya sekadar urusan protokoler, tetapi cermin dari arah keberpihakan dan wibawa kepemimpinan.

Kehadiran seorang presiden di forum relawan yang partisan akan menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah negara sedang hadir untuk menyapa rakyat, atau justru sedang memperkuat hubungan dengan jaringan politik masa lalu?

Baca Juga:
  • Membatasi Medsos, Mendidik Generasi
  • Prabowo Akan Kehilangan Kesempatan Emas
  • Pelantikan Presiden di Jakarta, Jokowi Gagal Pindah Ibu Kota
  • Perselisihan Jabatan dan Integritas Pilkada

Jika Prabowo benar menghadiri Kongres Projo, pesan yang muncul akan sangat kuat. Negara terlihat masih berada dalam pusaran politik personal, bukan dalam ruang kenegaraan yang netral.

Kaburnya garis antara relawan, partai, dan kekuasaan hanya akan memperlemah fondasi demokrasi. Ia menciptakan kesan bahwa kekuasaan masih berpijak pada loyalitas, bukan pada mandat rakyat dan hukum.

Presiden Jokowi dahulu memang lahir dari dukungan besar gerakan relawan. Namun masa itu telah berlalu. Kini, negara berada di bawah kepemimpinan baru yang semestinya menegaskan kemandirian dan wibawa kenegaraannya.

Sungguh tidak layak bagi seorang presiden menghadiri forum yang diinisiasi oleh organisasi relawan politik. Apalagi ketika organisasi tersebut masih jelas berposisi sebagai kelompok dukungan terhadap figur tertentu.

Negara ini tidak dibangun di atas jaringan relawan, melainkan atas kedaulatan rakyat. Republik ini bukan kelanjutan dari gerakan politik personal, tetapi sistem yang berdiri di atas prinsip hukum dan kesetaraan warga negara.

Menjaga jarak antara kekuasaan dan relawan adalah bentuk kedewasaan politik. Bukan hanya pilihan etis, melainkan tanggung jawab moral yang melekat pada jabatan kepala negara.

Kewibawaan seorang pemimpin diuji bukan hanya lewat kebijakannya, tetapi juga melalui sikap dan gestur politiknya. Dalam hal ini, tidak hadir di forum yang partisan justru dapat menjadi langkah yang lebih bermartabat.

Publik berharap Prabowo menunjukkan sikap kenegarawanan. Menjaga jarak dari simbol-simbol politik lama akan memperkuat citra bahwa ia pemimpin seluruh rakyat, bukan hanya bagian dari lingkaran tertentu.

Kepercayaan publik terhadap pemerintahan baru sedang bertumpu pada hal sederhana: keberanian Presiden menegaskan diri sebagai pemimpin untuk semua.

Kedekatan pribadi dengan tokoh-tokoh relawan memang sulit dihindari. Tetapi seorang kepala negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa hubungan itu tidak menimbulkan kesan keberpihakan.

Artikel Terkait:
  • Jokowi Ingin Pegang Partai Anak?
  • Antara Harapan dan Kekecewaan
  • Guru ASN di Sekolah Swasta
  • Orde Baru Jauh Lebih Baik

Politik personal boleh hidup di masa kampanye. Namun ketika masa pemerintahan dimulai, loyalitas hanya pantas diberikan kepada rakyat, bukan kepada kelompok yang dulu memberi dukungan.

Relawan memang pernah memiliki peran penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Mereka menjadi motor partisipasi rakyat dan suara moral di tengah kepentingan politik.

Tetapi ketika relawan terlalu dekat dengan kekuasaan, mereka kehilangan daya kritisnya. Mereka bukan lagi pengingat bagi penguasa, melainkan pengawal bagi kekuasaan itu sendiri.

Jika seorang presiden hadir untuk memberi restu pada keadaan semacam ini, maka jarak moral antara penguasa dan rakyat akan semakin menipis.

Kehadiran di Kongres Projo bukan peristiwa biasa. Ia akan menjadi preseden bagi hubungan antara kekuasaan dan kelompok relawan di masa depan.

Apakah negara akan terus membuka ruang istimewa bagi kelompok yang loyal secara politik? Atau justru akan menegaskan dirinya sebagai institusi yang netral dan berdiri di atas semua kepentingan?

Keputusan ada di tangan Presiden. Bila ia hadir, maka pesan yang muncul jelas: negara ini masih sulit melepaskan diri dari bayang-bayang politik relawan.

Namun jika ia memilih untuk tidak hadir, itulah langkah kecil yang bernilai besar. Sebuah isyarat bahwa kepala negara memahami batas antara dukungan politik dan tanggung jawab kenegaraan.

Seorang presiden yang kuat bukan yang dikelilingi banyak relawan, tetapi yang mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri.

Jangan Lewatkan:
  • Ambisi Politik Bahlil: Kursi Lebih Penting dari Kinerja
  • Taksi Terbang IKN: Mimpi yang Terbang Terlalu Tinggi
  • Israel vs Iran: Medan Dominasi, Bukan Lagi Proxy
  • Keadilan Dibelokkan oleh Kekuasaan

Kehadiran di Kongres Projo bisa menjadi peristiwa sederhana, namun dampaknya akan membekas. Di mata rakyat, itu dapat membedakan antara seorang pemimpin yang bebas dan berdaulat, dengan pemimpin yang masih “termul” dalam jaringan politik lama.

Negara ini tidak boleh berubah menjadi negara relawan perorangan. Karena jika kedaulatan rakyat digantikan oleh loyalitas personal, maka demokrasi hanya akan menjadi panggung penghormatan, sementara rakyat menonton dari luar, merasa tak lagi memiliki panggung itu.

Kedaulatan Rakyat Politik Nasional Prabowo Subianto Relawan dan Kekuasaan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleGuru Dapat Tanggung Jawab Baru dalam Program MBG Nasional
Next Article Megawati Serukan Dunia Bersatu Dukung Palestina Merdeka

Informasi lainnya

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

1 Oktober 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Memahami Etika Tak Tertulis di Masyarakat

Daily Tips Alfi Salamah

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Perspektif Udex Mundzir

Pendidikan Tersedot Program MBG

Editorial Udex Mundzir

Keistimewaan Haji Lansia: Ihram Pengganti di Gelombang Kedua

Islami Alfi Salamah

Meski Telah Berpura-pura jadi Jakmania, Kang Emil Tetap Kalah

Perspektif Udex Mundzir
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi