Bitung – Seperti luka yang tak terlihat, dampak gempa tak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga merusak sumber kehidupan paling mendasar: air bersih. Warga Kota Bitung kini menghadapi kenyataan pahit setelah sumber air mereka berubah keruh pascagempa besar yang mengguncang wilayah tersebut.
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,6 yang terjadi pada Kamis (2/4/2026) pagi di Sulawesi Utara membawa dampak luas, termasuk terhadap layanan air minum yang dikelola Perumda Air Duasudara Bitung. Perubahan kondisi pada sumber mata air menyebabkan air yang sebelumnya jernih kini menjadi keruh dan berwarna kecokelatan. Dampak ini membuat distribusi air bersih kepada masyarakat terganggu dan tidak lagi aman untuk dikonsumsi secara langsung.
“Pasca gempa, sumber air mengalami perubahan. Air menjadi keruh, berwarna coklat, dan untuk sementara tidak layak dikonsumsi,” ujar Alfred Salindeho, Direktur Utama Perumda Air Duasudara Bitung.
Ia menjelaskan bahwa gangguan tersebut murni disebabkan oleh faktor alam, yakni perubahan struktur tanah akibat gempa yang memengaruhi kualitas sumber air. Kondisi ini juga berdampak pada sistem distribusi, sehingga pelayanan kepada pelanggan ikut terhambat.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya pelanggan air minum, agar tidak menggunakan air tersebut untuk konsumsi langsung hingga kondisi kembali normal,” tambahnya.
Pihak Perumda juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi. Mereka menegaskan bahwa situasi ini bukan akibat kelalaian, melainkan konsekuensi dari bencana alam yang sulit diprediksi. Saat ini, upaya pemantauan dan penanganan terus dilakukan untuk memulihkan kualitas air secepat mungkin.
Selain berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kondisi ini juga berpotensi memengaruhi sektor kesehatan dan aktivitas ekonomi warga. Air bersih merupakan kebutuhan vital, sehingga gangguan distribusi dapat memperparah situasi pascabencana yang sudah sulit.
Hingga kini, pihak terkait masih terus melakukan evaluasi di titik-titik sumber mata air sembari menunggu kondisi lingkungan kembali stabil. Warga diimbau untuk menggunakan alternatif sumber air atau mengolah air sebelum digunakan demi menjaga kesehatan.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa dampak gempa tidak hanya tampak di permukaan, tetapi juga merembet hingga ke aspek paling esensial dalam kehidupan sehari-hari.
