Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

JPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 6 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

Pakar IPB menyebut polusi cahaya dan kerusakan habitat mempercepat penurunan populasi kunang-kunang di Indonesia.
Alfi SalamahAlfi Salamah6 Juli 2026 Lingkungan
Kunang-Kunang
Ilustrasi Kunag-Kunang dibawah lampu LED
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Cahaya lampu yang menerangi malam ternyata menyisakan sisi gelap bagi alam. Kunang-kunang yang dahulu mudah dijumpai di pematang sawah, tepi sungai, hingga pekarangan rumah kini semakin jarang terlihat. Di balik hilangnya cahaya alami itu, pakar IPB University menyoroti polusi cahaya dari lampu LED sebagai salah satu penyebab utama yang mengganggu kelangsungan hidup serangga bercahaya tersebut.

Fenomena berkurangnya populasi kunang-kunang bukan sekadar nostalgia generasi yang tumbuh di pedesaan. Dosen dan peneliti entomologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, menjelaskan bahwa penurunan populasi kunang-kunang merupakan indikator memburuknya kualitas lingkungan. Selain kerusakan habitat, polusi cahaya akibat penggunaan lampu LED yang terlalu terang membuat proses reproduksi serangga itu terganggu.

Kunang-kunang termasuk bioindikator, yakni organisme yang keberadaan maupun ketidakhadirannya mencerminkan kondisi kesehatan suatu ekosistem. Karena sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, populasinya menjadi salah satu penanda awal ketika kualitas alam mengalami penurunan.

“Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” ujar Upik dalam keterangan IPB University di Bogor 20 Juni2026 lalu. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global.

Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11 hingga 20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kategori terancam. Bahkan, beberapa spesies yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand kini telah berstatus rentan.

Baca Juga:
  • Pj Gubernur DKI dan Dishub Bahas Jam Kerja 2 Sesi untuk Redakan Kemacetan
  • Penajam: Desa-Desa Masuk IKN, Butuh Solusi Adil
  • Ribuan Warga Riau Ikuti Karhutla Fun Run 2025
  • Greenpeace: Tambang Nikel Gag Ancam Keanekaragaman Hayati

Di Indonesia, berbagai kajian entomologi juga mencatat penurunan populasi kunang-kunang, terutama di wilayah perkotaan. Serangga ini sangat bergantung pada lingkungan yang lembap, minim pencemaran, dan memiliki tingkat kegelapan alami untuk berkembang biak.

Menurut Upik, penyebab terbesar berkurangnya populasi kunang-kunang adalah hilangnya habitat. Alih fungsi lahan hijau, rawa, persawahan, dan tepian sungai menjadi kawasan permukiman maupun industri menghilangkan tempat hidup larva yang memerlukan tanah lembap sebagai media tumbuh.

Selain itu, penggunaan lampu LED berintensitas tinggi pada malam hari memunculkan polusi cahaya yang mengganggu komunikasi alami antar kunang-kunang. Serangga jantan mengandalkan kilatan cahaya dari betina sebagai sinyal untuk kawin. Ketika lingkungan dipenuhi cahaya buatan, sinyal tersebut menjadi sulit dikenali sehingga peluang reproduksi menurun drastis.

Faktor lain yang turut mempercepat penurunan populasi adalah penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, hingga laju urbanisasi yang terus meluas. Kombinasi berbagai tekanan tersebut membuat habitat kunang-kunang semakin sempit dari tahun ke tahun.

Meski demikian, kunang-kunang masih dapat dijumpai di sejumlah kawasan yang kondisi lingkungannya relatif terjaga. Habitat seperti hutan tropis yang lembap, kawasan mangrove, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, dan tepian sungai yang masih alami menjadi tempat yang masih mendukung kehidupan serangga tersebut.

Artikel Terkait:
  • BMKG Prediksi Musim Kemarau 2025 Lebih Kering, Sektor Pertanian Diminta Siaga
  • Bendung Katulampa Siaga 3, Banjir Ancam Jakarta di Musim Hujan
  • Menteri ESDM Hentikan Tambang Nikel di Raja Ampat Milik Antam
  • Gubernur DKI Tuntut Pembatalan Izin Usaha Pemilik Truk Tinja, Didenda Rp 5 Juta

“Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” katanya. Ia juga mengajak masyarakat mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, tidak menutup seluruh pekarangan dengan semen, memanfaatkan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air.

Fenomena hilangnya kunang-kunang menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak selalu tampak dalam bentuk bencana besar. Berkurangnya satu jenis serangga justru dapat menjadi sinyal awal perubahan ekosistem yang lebih luas. Saat bioindikator mulai menghilang, kualitas tanah, air, dan keanekaragaman hayati ikut berada dalam tekanan.

Bagi masyarakat, menjaga keberadaan kunang-kunang bukan sekadar mempertahankan keindahan malam yang pernah menjadi bagian dari masa kecil banyak orang. Upaya tersebut juga berarti menjaga keseimbangan ekosistem agar tetap mampu menopang kehidupan berbagai spesies, termasuk manusia.

Jangan Lewatkan:
  • Pemerintah Cabut 4 IUP Tambang Nikel di Raja Ampat
  • BNPB Tolak Bantuan Asing, Penanganan Karhutla Dianggap Masih Terkendali
  • Bima Arya Curhat Kemacetan Bogor pada Heru Budi di Balai Kota DKI
  • Larangan Baru di Bandara Terkenal Eropa Menjadi Sorotan!

Apabila kerusakan habitat dan polusi cahaya terus meningkat tanpa pengendalian, generasi mendatang berisiko hanya mengenal kunang-kunang melalui buku pelajaran, museum, atau layar digital. Karena itu, langkah sederhana di lingkungan sekitar dapat menjadi bagian penting dalam menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap hadir di malam Nusantara.

Kunang-kunang Lampu LED Lingkungan Polusi Cahaya Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleJPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah

Informasi lainnya

Taman Pompeii Ungkap Jejak Parfum Kuno

18 April 2026

DKI Amankan 6,98 Ton Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Hari Ini

17 April 2026

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

15 April 2026

El Nino “Godzilla” Mengintai Kemarau 2026

14 April 2026

Suhu Laut Global Masih Tinggi Usai Rekor 2025

13 April 2026

Ekoenzim Lawan Limbah Binatu

13 April 2026
Paling Sering Dibaca

Rhenald Kasali: Merantau, Sekolah Kehidupan yang Sesungguhnya

Profil Udex Mundzir

Kesenjangan di Balik Ketentuan Gaji Dosen PTS

Editorial Udex Mundzir

Ciri-Ciri Buzzer dan Pengaruhnya dalam Dunia Bisnis

Bisnis Ericka

Dulu Dipaksa-Paksa Menggunakan Gas Elpiji 3 Kg, Sekarang Malah Haram

Editorial Udex Mundzir

Harta Ilmu di Perpustakaan Masjid Nabawi Menanti Eksplorasi

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Hukum
Lisda Lisdiawati11 Januari 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

Venezuela Diguncang Dua Gempa dalam 39 Detik, Korban Berjatuhan

Guru Dapat Tanggung Jawab Baru dalam Program MBG Nasional

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi