Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Cak Sholeh Wafat, Tinggalkan Jejak Advokasi Warga

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Ketua Dewan Racana Pesantren Khalifa Dilantik

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 8 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Agar Generasi Z tidak Mencemaskan

Penyebab dan Solusi Pengangguran Gen Z di Indonesia
Syamril Al-BugisyiSyamril Al-Bugisyi31 Mei 2024 Refleksi 1K Views
Solusi pengangguran generasi Z
Ilustrasi: Generasi Z
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Dari data BPS pada 2024 ini generasi Z yang menganggur (NEET: not in employment, education, and training) mencapai 9.9 juta. Angka itu setara dengan 22.5 % dari jumlah penduduk usia muda di Indonesia. Mengapa terjadi demikian? Dari pandangan beberapa ahli ada lima penyebab yaitu lapangan kerja terbatas, tidak punya keterampilan, lulusan tidak sesuai kebutuhan kerja, mereka tak mau terbebani aturan perusahaan, serta manja dan tak mampu bersaing.

Penyebab pertama dapat dipahami karena kondisi ekonomi global dan Indonesia yang belum membaik. Apalagi Indonesia baru selesai tahun politik di mana investor biasanya menahan diri untuk investasi. Penyebab kedua sampai kelima yang perlu dicermati karena terkait dengan kondisi Gen Z yang tidak siap memasuki dunia kerja. Keempat penyebab itu dapat dibagi atas dua jenis yaitu kompetensi dan karakter. Mari kita lihat satu persatu.

Ada dua penyebab yang terkait kompetensi yaitu tidak punya keterampilan dan lulusan tidak sesuai kebutuhan kerja. Ini menjadi introspeksi bagi lembaga pendidikan khususnya di level SMA/SMK dan Perguruan Tinggi. Pemerintah dan pengelola lembaga pendidikan perlu mengevaluasi efektivitas pendidikan menengah khususnya SMK dan Perguruan Tinggi. Perlu dilihat link and match jurusan dan program studi yang ada. Juga desain kurikulumnya. Lebih penting lagi kompetensi guru dan dosen yang mengampu pelajaran serta proses pembelajarannya.

Mari kita cermati dua penyebab terkait karakter yaitu tak mau terbebani aturan perusahaan, manja dan tak mampu bersaing. Menurut KH. Abdullah Gymnastiar ada dua kategori karakter yaitu baik dan kuat disingkat baku. Karakter baik terdiri atas ikhlas, jujur, dan tawadhu. Karakter kuat terdiri atas berani, disiplin, tangguh. Sepertinya pendidikan di sekolah dan keluarga selama ini lebih menekankan pada karakter baik. Kurang mengasah karakter kuat.

Baca Juga:
  • Guru Hebat
  • Sikap dan Model Kepemimpinan dalam NU: Antara Kepentingan dan Prinsip
  • AI Menghapus Pekerjaan Manusia?
  • Mewaspadai Komunisme

Ada indikasi Gen Z kurang berani mencoba hal baru. Lebih senang berada dalam zona nyaman. Lapangan kerja formal memang terbatas. Tapi lapangan kerja non formal tidak terbatas apalagi di era digital sekarang ini. Asalkan tidak pilih-pilih dan mau mencoba dan siap bekerja keras. Siap jatuh bangun dan tangguh menghadapi dan mengatasi masalah. Tidak terjebak pada passion dan wellbeing.

Memang ideal jika mengerjakan bidang yang sesuai passion. Tapi dunia tidak selalu ideal. Pada saat kondisi tidak ideal maka dahulukan mission. Kerjakan apapun selama itu halal dan bermanfaat. Hidup tidak boleh disia-siakan dengan diam dan rebahan. Hidup harus berarti bagi diri sendiri dan orang lain.

Gen Z juga cenderung kurang disiplin dan kurang menyukai aturan yang ribet. Kesan yang muncul, mereka ingin ‘seenaknya’ di tempat kerja. Ingin waktu dan tempat kerja yang fleksibel. Beberapa perusahaan sudah mengakomodir. Tapi mayoritas belum bisa. Sering terjadi mereka tidak bisa beradaptasi dengan peraturan kerja yang ada. Akhirnya memilih resign atau keluar karena alasan wellbeing.

Gen Z juga kurang tangguh, terlihat manja dan kurang mampu bersaing. Hal ini terjadi menurut psikolog salah satunya karena pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan. Semua kebutuhan anak dipenuhi. Semua fasilitas dilengkapi sehingga hidup mereka nyaman dan aman tidak ada masalah.

Artikel Terkait:
  • Unwanted Leader
  • Merdeka Jiwa
  • Modal Waktu
  • Literasi Digital untuk Remaja, Pentingnya Menguasai Keterampilan di Era Informasi

Secara jangka pendek terlihat bagus. Namun jangka panjang saat anak-anak dituntut mandiri dan keluar dari zona nyaman orang tuanya, mereka tidak siap. Bagaimana solusinya? Gunakan pola asuh yang tidak memanjakan tapi autoritatif. Anak-anak memiliki otoritas tapi bertanggung jawab. Ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi.

Dorong anak tinggalkan zona nyaman masuk ke zona resiko tapi bukan zona bahaya. Tidak semua dipenuhi dan difasilitasi. Beri mereka ruang untuk menghadapi masalah dan resiko dalam hidupnya. Resiko yang dapat dimitigasi dan tidak membahayakan. Dorong anak mengambil keputusan sendiri dengan segala konsekuensinya. Belajar bertanggung jawab.

Mari bersama siapkan Gen Z yang kompeten dan berkarakter. Semoga dengan kompetensi unggul dan mumpuni disertai karakter yang baik (ikhlas, jujur, tawadhu) dan kuat (berani, disiplin, tangguh) mereka bisa mewujudkan Indonesia Emas yang maju, adil dan makmur dalam ridha Allah. Aamiin.

Jangan Lewatkan:
  • Ujian Jabatan
  • Citra Retak di Balik Kata
  • 4 Ethos, 4 Jusuf
  • Kontroversi Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Antikritik dan Kemewahan Helikopter
Catatan Syamril Gen Z Human Capital
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePanduan Lengkap Memilih Helm yang Tepat untuk Keselamatan Berkendara
Next Article Panduan Memilih dan Merawat Ban Motor untuk Keselamatan Berkendara

Informasi lainnya

Podcast vs YouTube: Rebutan Atensi Gen Z

18 Januari 2026

AI Menghapus Pekerjaan Manusia?

17 Januari 2026

Memahami Kuasa Pengampunan Negara

1 Agustus 2025

Musik AI Tanpa Hak Cipta

27 Juli 2025

Gen Z, Pilar Baru Gerakan Lingkungan Global

9 Mei 2025

Menunda Beban, Mengutamakan Rakyat

23 Desember 2024
Paling Sering Dibaca

3 SMA Seni Favorit Para Idol K-Pop Korea Selatan

Daily Tips Ericka

B.J. Habibie: Arsitek Kebebasan Pers Indonesia

Profil Ericka

Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Siapa Masuk Penjara?

Editorial Udex Mundzir

Peta Jalan Pendidikan: Benang Kusut yang Perlu Diurai

Perspektif Udex Mundzir

Anne Avantie, Dari Dua Mesin Jahit ke Panggung Dunia

Biografi Alfi Salamah
Berita Lainnya
Pendidikan
Adit Musthofa6 Agustus 2026

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

PP Khalifa Matangkan Adaptasi SK Kwarnas Terbaru Menjelang Mugus

Ketua Dewan Racana Pesantren Khalifa Dilantik

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Gus Iqdam Mengaku Dipersekusi Petugas Imigrasi Bandara Soekarno Hatta

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi