Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

Benarkah Mikroplastik Sudah Masuk ke Tubuh Manusia? Ini Fakta Ilmiahnya

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 19 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Agar Generasi Z tidak Mencemaskan

Penyebab dan Solusi Pengangguran Gen Z di Indonesia
Syamril Al-BugisyiSyamril Al-Bugisyi31 Mei 2024 Gagasan 1K Views
Solusi pengangguran generasi Z
Ilustrasi: Generasi Z
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Dari data BPS pada 2024 ini generasi Z yang menganggur (NEET: not in employment, education, and training) mencapai 9.9 juta. Angka itu setara dengan 22.5 % dari jumlah penduduk usia muda di Indonesia. Mengapa terjadi demikian? Dari pandangan beberapa ahli ada lima penyebab yaitu lapangan kerja terbatas, tidak punya keterampilan, lulusan tidak sesuai kebutuhan kerja, mereka tak mau terbebani aturan perusahaan, serta manja dan tak mampu bersaing.

Penyebab pertama dapat dipahami karena kondisi ekonomi global dan Indonesia yang belum membaik. Apalagi Indonesia baru selesai tahun politik di mana investor biasanya menahan diri untuk investasi. Penyebab kedua sampai kelima yang perlu dicermati karena terkait dengan kondisi Gen Z yang tidak siap memasuki dunia kerja. Keempat penyebab itu dapat dibagi atas dua jenis yaitu kompetensi dan karakter. Mari kita lihat satu persatu.

Ada dua penyebab yang terkait kompetensi yaitu tidak punya keterampilan dan lulusan tidak sesuai kebutuhan kerja. Ini menjadi introspeksi bagi lembaga pendidikan khususnya di level SMA/SMK dan Perguruan Tinggi. Pemerintah dan pengelola lembaga pendidikan perlu mengevaluasi efektivitas pendidikan menengah khususnya SMK dan Perguruan Tinggi. Perlu dilihat link and match jurusan dan program studi yang ada. Juga desain kurikulumnya. Lebih penting lagi kompetensi guru dan dosen yang mengampu pelajaran serta proses pembelajarannya.

Mari kita cermati dua penyebab terkait karakter yaitu tak mau terbebani aturan perusahaan, manja dan tak mampu bersaing. Menurut KH. Abdullah Gymnastiar ada dua kategori karakter yaitu baik dan kuat disingkat baku. Karakter baik terdiri atas ikhlas, jujur, dan tawadhu. Karakter kuat terdiri atas berani, disiplin, tangguh. Sepertinya pendidikan di sekolah dan keluarga selama ini lebih menekankan pada karakter baik. Kurang mengasah karakter kuat.

Baca Juga:
  • Merdeka Jiwa
  • Growth Mindset
  • Memahami Kuasa Pengampunan Negara
  • Menunda Beban, Mengutamakan Rakyat

Ada indikasi Gen Z kurang berani mencoba hal baru. Lebih senang berada dalam zona nyaman. Lapangan kerja formal memang terbatas. Tapi lapangan kerja non formal tidak terbatas apalagi di era digital sekarang ini. Asalkan tidak pilih-pilih dan mau mencoba dan siap bekerja keras. Siap jatuh bangun dan tangguh menghadapi dan mengatasi masalah. Tidak terjebak pada passion dan wellbeing.

Memang ideal jika mengerjakan bidang yang sesuai passion. Tapi dunia tidak selalu ideal. Pada saat kondisi tidak ideal maka dahulukan mission. Kerjakan apapun selama itu halal dan bermanfaat. Hidup tidak boleh disia-siakan dengan diam dan rebahan. Hidup harus berarti bagi diri sendiri dan orang lain.

Gen Z juga cenderung kurang disiplin dan kurang menyukai aturan yang ribet. Kesan yang muncul, mereka ingin ‘seenaknya’ di tempat kerja. Ingin waktu dan tempat kerja yang fleksibel. Beberapa perusahaan sudah mengakomodir. Tapi mayoritas belum bisa. Sering terjadi mereka tidak bisa beradaptasi dengan peraturan kerja yang ada. Akhirnya memilih resign atau keluar karena alasan wellbeing.

Gen Z juga kurang tangguh, terlihat manja dan kurang mampu bersaing. Hal ini terjadi menurut psikolog salah satunya karena pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan. Semua kebutuhan anak dipenuhi. Semua fasilitas dilengkapi sehingga hidup mereka nyaman dan aman tidak ada masalah.

Artikel Terkait:
  • Hidup yang PSBB
  • Vitamin Syukur
  • Ujian Jabatan
  • Sikap dan Model Kepemimpinan dalam NU: Antara Kepentingan dan Prinsip

Secara jangka pendek terlihat bagus. Namun jangka panjang saat anak-anak dituntut mandiri dan keluar dari zona nyaman orang tuanya, mereka tidak siap. Bagaimana solusinya? Gunakan pola asuh yang tidak memanjakan tapi autoritatif. Anak-anak memiliki otoritas tapi bertanggung jawab. Ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi.

Dorong anak tinggalkan zona nyaman masuk ke zona resiko tapi bukan zona bahaya. Tidak semua dipenuhi dan difasilitasi. Beri mereka ruang untuk menghadapi masalah dan resiko dalam hidupnya. Resiko yang dapat dimitigasi dan tidak membahayakan. Dorong anak mengambil keputusan sendiri dengan segala konsekuensinya. Belajar bertanggung jawab.

Mari bersama siapkan Gen Z yang kompeten dan berkarakter. Semoga dengan kompetensi unggul dan mumpuni disertai karakter yang baik (ikhlas, jujur, tawadhu) dan kuat (berani, disiplin, tangguh) mereka bisa mewujudkan Indonesia Emas yang maju, adil dan makmur dalam ridha Allah. Aamiin.

Jangan Lewatkan:
  • Menjadi Kepala Daerah
  • Manusia Bersifat Air
  • Memilih Menteri
  • Bebas Bertanggung Jawab
Catatan Syamril Gen Z Human Capital
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePanduan Lengkap Memilih Helm yang Tepat untuk Keselamatan Berkendara
Next Article Panduan Memilih dan Merawat Ban Motor untuk Keselamatan Berkendara

Informasi lainnya

Memahami Kuasa Pengampunan Negara

1 Agustus 2025

Musik AI Tanpa Hak Cipta

27 Juli 2025

Gen Z, Pilar Baru Gerakan Lingkungan Global

9 Mei 2025

Menunda Beban, Mengutamakan Rakyat

23 Desember 2024

Bonus di Perguruan Tinggi: Kewajiban Institusi Pendidikan

18 Desember 2024

Citra Retak di Balik Kata

7 Desember 2024
Paling Sering Dibaca

Haji Ilegal, Iman yang Dimanfaatkan

Editorial Udex Mundzir

Hukum yang Dikebut, Rakyat yang Terjebak

Editorial Udex Mundzir

Golkar di Persimpangan Jalan

Editorial Udex Mundzir

Citra Retak di Balik Kata

Gagasan Silva

SPMB: Reformasi atau Sekadar Rebranding?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Hukum
Lisda Lisdiawati11 Januari 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Silfester Matutina Dieksekusi Terkait Fitnah Jusuf Kalla

Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Pelayanan Terbaik Arab Saudi untuk Jamaah Haji Indonesia

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi