Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 29 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

AI Fatigue, Saat Dunia Mulai Lelah Membicarakan AI

Teknologi terbaik seharusnya meringankan manusia, bukan membuatnya kehilangan ruang untuk bernapas.
Alfi SalamahAlfi Salamah19 Agustus 2026 Saintek
AI fatigue
Ilustrasi AI fatigue
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Lelah dengan AI mungkin terdengar ironis di tengah revolusi kecerdasan buatan. Teknologi ini semula menjanjikan pekerjaan lebih cepat dan kehidupan lebih praktis. Kini, AI hadir hampir di setiap percakapan tentang masa depan. Namun, antusiasme tersebut mulai ditemani fenomena lain bernama AI fatigue.

Fenomena ini bukan sekadar kejenuhan mendengar istilah kecerdasan buatan. Penelitian pada 2026 mulai mengukurnya sebagai pengalaman psikologis tersendiri. Studi terhadap 717 peserta menemukan empat dimensi utama. Dimensi tersebut mencakup kelelahan kognitif, emosional, fisik, dan perilaku. Tingkat kelelahan lebih tinggi juga berkaitan dengan keinginan mengurangi penggunaan AI.

Artinya, hubungan manusia dengan AI mulai memasuki fase yang lebih kompleks. Pertanyaannya bukan lagi sekadar tentang kemampuan teknologi. Manusia juga mulai mempertanyakan seberapa banyak AI ingin mereka hadirkan dalam kehidupan.

Penelitian lain pada mahasiswa Filipina memperlihatkan pola serupa. Studi tersebut menganalisis 1.000 respons terbuka tentang penggunaan AI dalam kegiatan akademik. Kelelahan kognitif menjadi bentuk yang paling sering ditemukan. Kondisinya muncul melalui kelelahan mental, banjir informasi, dan kesulitan menjaga fokus.

Temuan tersebut menarik karena mahasiswa termasuk kelompok yang dekat dengan teknologi baru. AI dapat membantu mencari gagasan, merangkum informasi, hingga mendukung proses belajar. Namun, kemudahan itu ternyata tidak otomatis menghilangkan beban mental.

Riset terhadap 500 orang dewasa di wilayah Delhi-NCR juga memberikan gambaran tambahan. Penelitian itu menghubungkan penggunaan AI berkepanjangan dengan potensi tekanan kognitif. Perhatian yang terkuras dan banjir informasi menjadi bagian penting pembahasannya.

Dunia kerja bahkan menghadapi persoalan yang lebih rumit.

Survei terhadap 1.013 pekerja pengguna AI menemukan 16 persen mengalami AI fatigue. Angkanya mencapai 22 persen pada responden Gen Z. Sebanyak 36 persen juga merasa tertekan untuk mengadopsi AI. Tekanan itu muncul meski mereka belum sepenuhnya memahami teknologinya.

Baca Juga:
  • Robot Humanoid Beratribut Polisi Hadir di Gladi HUT Bhayangkara
  • Lima Fakta Menarik tentang Penemuan Ruang Antarbintang Voyager
  • Pakar ITB: Gempa Kamchatka Peringatan Serius Bagi Indonesia
  • RI Krisis Talenta Digital, Masih Defisit 4 Juta

Data tersebut memberi pesan penting bagi perusahaan. Adopsi teknologi tidak cukup dilakukan dengan menyediakan alat terbaru. Pekerja membutuhkan tujuan, keterampilan, dan batas penggunaan yang jelas.

Di Australia, perubahan sentimen juga mulai terlihat. Data Randstad menunjukkan penggunaan rutin AI turun dari 25 persen pada 2024. Angkanya menjadi 21 persen pada 2025. Penurunan tersebut tidak berarti AI akan ditinggalkan. Namun, euforia awal tampaknya mulai bertemu dengan realitas penggunaan sehari-hari.

AI juga tidak selalu berhasil ketika dibawa ke lingkungan perusahaan. Analisis S&P Global Market Intelligence memberi gambaran menarik pada 2025. Perusahaan rata-rata menghentikan 46 persen proyek percontohan AI mereka. Kegagalan berulang dapat menambah rasa jenuh terhadap transformasi teknologi.

Masalah lain muncul ketika AI terasa terlalu dekat.

Penelitian konsumen pada 19 November 2025 menemukan sisi tersebut. Wawancara terhadap pengguna rutin AI menunjukkan beberapa bentuk kelelahan. Di antaranya adalah beban kognitif, emosional, relasional, dan persoalan etis. Sebagian pengalaman juga berkaitan dengan perasaan interaksi yang semakin tidak manusiawi.

Di sinilah paradoks AI menjadi menarik.

Teknologi dibuat untuk mengurangi pekerjaan manusia. Namun, terlalu banyak pilihan teknologi justru dapat menciptakan pekerjaan baru. Pengguna harus memilih aplikasi, mempelajari fitur, menulis instruksi, dan memeriksa hasilnya.

Setiap pembaruan juga membawa tuntutan untuk kembali belajar.

Artikel Terkait:
  • Kulit Bawang Merah Bisa Jadi Pelindung Panel Surya
  • Akses Bebas Data WNI ke AS, Efisiensi atau Kolonialisasi Digital?
  • Gunung Padang Bongkar Tabir Peradaban Tertua di Dunia?
  • Jangan Cium Bayi! Ini Bahaya yang Mengintai Menurut Ahli

Belum selesai memahami satu alat, layanan lain menawarkan kemampuan berbeda. Belum terbiasa dengan satu model, versi terbaru sudah diperkenalkan. Kecepatan inovasi akhirnya dapat terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir.

Namun, AI fatigue bukan alasan untuk memusuhi kecerdasan buatan.

Fenomena tersebut justru menjadi tanda bahwa hubungan manusia dan teknologi perlu dibuat lebih sehat. AI dapat digunakan ketika benar-benar memberikan manfaat. Tidak semua pekerjaan membutuhkan bantuan algoritma. Tidak setiap keputusan harus diserahkan kepada mesin.

Manusia tetap membutuhkan kesempatan berpikir tanpa bantuan otomatis. Proses mencari jawaban terkadang sama berharganya dengan jawaban itu sendiri. Kesalahan juga dapat menjadi bagian penting dalam belajar.

Batas tersebut semakin penting bagi generasi yang tumbuh bersama AI. Kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan bekerja tanpanya. Keduanya dapat menjadi keterampilan penting pada masa depan.

Perusahaan juga mempunyai tanggung jawab serupa. Mengadopsi AI seharusnya bukan perlombaan mengikuti tren. Teknologi perlu menyelesaikan masalah nyata dan memberi manfaat terukur kepada manusia.

Jangan Lewatkan:
  • BYD Siap Luncurkan Baterai Blade Generasi Baru pada 2025
  • BRIN Beri Penjelasan Tentang Meteor Jatuh di Cirebon
  • Puncak Gerhana Bulan Total Terlihat 8 September 01.11 WIB
  • Digital Paper 2023 Lonjakan Inovasi Keluaran Terbaru

Pada akhirnya, masa depan AI mungkin tidak ditentukan oleh seberapa sering kita menggunakannya. Masa depan itu dapat ditentukan oleh seberapa bijak kita memilih waktu penggunaannya.

AI kemungkinan tetap menjadi bagian penting kehidupan modern. Namun, manusia tidak harus mengisi setiap ruang kehidupan dengan algoritma. Terkadang, kemajuan justru muncul ketika teknologi tahu kapan harus membantu dan berhenti.

AI Fatigue Kecerdasan Buatan Kesehatan Digital Masa Depan AI Teknologi AI
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMUI Ajak Keluarga Perkuat Moral di Momentum HUT RI
Next Article Kulit Bawang Merah Bisa Jadi Pelindung Panel Surya

Informasi lainnya

Mengapa Api Gambut Sulit Benar-Benar Padam?

11 September 2026

Jejak Stonehenge Ternyata Bermula dari Wales?

29 Agustus 2026

Ampas Kopi Bisa Membuat Beton 30 Persen Lebih Kuat

27 Agustus 2026

Robot Masuk Rumah, Siap Berbagi Ruang?

23 Agustus 2026

Internet Penuh AI, Keaslian Jadi Barang Mahal

22 Agustus 2026

Era Smartphone Berakhir, Apa Penggantinya?

21 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Keindahan Gunung Fuji di Jepang, Pesona Alam yang Tak Tertandingi

Travel Alfi Salamah

Resep Puding Karamel Kukus Hanya dengan 1 Telur

Food Alfi Salamah

Jangan Goyang Pemerintah Sah

Editorial Udex Mundzir

Hati-Hati Pilih Jurusan Kuliah, Ini 10 Paling Berisiko

Daily Tips Udex Mundzir

Kehadiran Prabowo di Kongres Projo, Akan Menegaskan Dirinya “Termul”

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi