Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 T untuk Serambi 2026

Tim Kaltim Pantau Harga Pangan di Berau

Awal Ramadhan 1447 H Tunggu Sidang Isbat

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 25 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kesenjangan di Balik Ketentuan Gaji Dosen PTS

Udex MundzirUdex Mundzir30 November 2024 Editorial 514 Views
Ketimpangan gaji dosen
Ilustrasi - Dosen menghitung (.det)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ketimpangan kesejahteraan dosen di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjadi salah satu isu pelik yang kembali mengemuka dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pengujian Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Gugatan yang diajukan oleh dua dosen PTS, Teguh Satya Bhakti dan Fahmi Bachmid, ditolak secara keseluruhan oleh MK pada Jumat, 29 November 2024. Putusan ini menegaskan bahwa gaji dan tunjangan dosen PTS tunduk pada peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan dan menjadi tanggung jawab badan penyelenggara PTS.

Dalil para pemohon yang menyatakan ketidakadilan akibat frasa “sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan” dalam Pasal 70 ayat (3) UU Dikti tidak cukup kuat di mata hukum. MK berpandangan bahwa norma tersebut justru merujuk pada aturan baku yang telah diatur dengan jelas. Hal ini semakin memperkokoh status quo bahwa kesejahteraan dosen PTS, termasuk gaji pokok dan tunjangan, adalah kewajiban badan penyelenggara tanpa campur tangan penuh dari pemerintah.

Namun, penegasan ini mengungkap ironi yang cukup mendalam. Sementara dosen Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) menerima gaji dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dosen PTS sepenuhnya bergantung pada kemampuan finansial badan penyelenggara. Ini menciptakan jurang kesejahteraan yang tidak hanya terasa di antara PTN dan PTS, tetapi juga antar-PTS itu sendiri.

Perbedaan mencolok ini disebabkan oleh ketidaksetaraan dalam sumber daya keuangan badan penyelenggara PTS. PTS yang dikelola oleh yayasan dengan kekuatan finansial besar dapat memberikan kompensasi yang memadai kepada dosen, sementara PTS yang lebih kecil atau berada di daerah dengan ketentuan upah minimum rendah sering kali memberikan gaji jauh di bawah standar.

Bahkan, tidak sedikit laporan yang menyebutkan bahwa gaji dosen di beberapa PTS lebih rendah dari upah minimum regional (UMR), bahkan lebih kecil dari gaji buruh pabrik. Ironisnya, hal ini terjadi di tengah biaya kuliah yang relatif mahal.

Hakim Konstitusi sendiri memberikan catatan kritis atas dalil tersebut. Mereka meminta pemohon untuk menguraikan lebih rinci dampak ketidakadilan ini, terutama dalam konteks perbandingan antara dosen PTS yang gajinya ditentukan oleh badan penyelenggara dan dosen PTN yang dipekerjakan sebagai PNS.

Kritik itu menggarisbawahi kompleksitas persoalan yang tidak hanya menyangkut kesejahteraan, tetapi juga struktur hukum ketenagakerjaan dosen di Indonesia.

Alokasi anggaran pendidikan yang diprioritaskan bagi pendidikan dasar dan menengah semakin mempertegas bahwa pendidikan tinggi, khususnya di PTS, sering kali dipinggirkan dalam sistem pendidikan nasional. Kendati Pasal 31 ayat (4) UUD 1945 mengamanatkan alokasi minimal 20% anggaran pendidikan, penggunaannya untuk PTS sebatas pada tunjangan profesi dosen dan kehormatan profesor. Dukungan pemerintah terhadap gaji pokok dosen PTS sama sekali tidak menjadi prioritas.

Keberadaan subsidi terbatas ini, meski membantu, tidak cukup untuk mengatasi akar ketimpangan. Sistem yang ada seolah mendorong liberalisasi penyelenggaraan PTS, di mana tanggung jawab pembiayaan sepenuhnya dibebankan kepada badan penyelenggara. Akibatnya, negara terkesan abai terhadap kewajibannya untuk menjamin kesejahteraan tenaga pendidik di seluruh jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta.

Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan holistik yang mencakup aspek hukum, politik, dan ekonomi harus diterapkan. Salah satu langkah konkret yang perlu dilakukan adalah mengaudit yayasan penyelenggara perguruan tinggi. Audit ini bertujuan untuk merekap laporan keuangan termasuk pengeluaran untuk gaji dosen.

Langkah itu penting untuk mengidentifikasi sejauh mana badan penyelenggara PTS memenuhi kewajiban mereka dalam memberikan gaji layak kepada para dosen. Pemerintah juga perlu mendorong regulasi tegas yang mengatur standar gaji minimum dosen PTS, sehingga kasus gaji dosen yang lebih rendah dari UMR dapat dihindari.

Selain itu, pemerintah dapat mempertimbangkan skema subsidi yang lebih terstruktur untuk mendukung pembayaran gaji pokok dosen PTS. Skema ini dapat berbentuk dana alokasi khusus (DAK) yang ditargetkan langsung kepada PTS dengan sumber daya terbatas. Insentif pajak juga dapat diberikan kepada yayasan yang secara konsisten memenuhi standar gaji dan kesejahteraan dosen. Langkah ini dapat mendorong yayasan untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya bagi tenaga pendidik tanpa mengorbankan kualitas layanan pendidikan.

MK mungkin telah memutuskan bahwa Pasal 70 ayat (3) UU Dikti tidak menimbulkan ketidakpastian hukum, tetapi ketidakadilan yang dirasakan dosen PTS adalah nyata. Ketimpangan ini tidak hanya mencerminkan kesenjangan dalam sistem pendidikan tinggi, tetapi juga menunjukkan kurangnya perhatian terhadap tenaga pendidik yang menjadi pilar utama pendidikan.

Keadilan hanya bisa dicapai jika negara, badan penyelenggara, dan masyarakat bersama-sama berkomitmen untuk memperbaiki sistem yang ada. Tanpa itu, kesejahteraan dosen PTS akan terus menjadi bayang-bayang ketidakadilan dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia.

Dosen PTS Mahkamah Konstitusi Perguruan Tinggi Swasta UU Dikti UU Sisdiknas
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePlt. Bupati Sidoarjo Hadiri Pentas Seni Kearifan Lokal SMPN 1 Jabon
Next Article Korpri Tasikmalaya Didorong Jaga Stabilitas Negara

Informasi lainnya

Ketika Narkoba Dilindungi Oknum

15 Februari 2026

MK Tegaskan Sikap soal Nikah Beda Agama

3 Februari 2026

Politisi dan Nafsu Menguasai Institusi

31 Januari 2026

Gaduh Ijazah dan Politik Adu Domba

26 Januari 2026

Warisan Masalah Era Jokowi

19 Januari 2026

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

5 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

10 Situs Legal dan Terpercaya untuk Nonton Film Gratis dengan Kualitas HD

Happy Dexpert Corp

Tri Mumpuni, Penyulut Cahaya dari Desa Terpencil

Biografi Alfi Salamah

Tegakkan Keadilan, Umar bin Abdul Aziz Wafat Karena Diracun

Islami Alfi Salamah

Kebebasan Pers yang Dikikis Diam-Diam

Editorial Udex Mundzir

Efek Minum Sambil Berdiri bagi Kesehatan

Daily Tips Ericka
Berita Lainnya
Nasional
Lisda Lisdiawati5 Februari 2026

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis

Haji 2026 Diperketat, Jemaah Tak Sehat Terancam Gagal Berangkat

BMKG Ingatkan Hujan Lebat 15-21 Februari

Lima Fakta Menarik tentang Penemuan Ruang Antarbintang Voyager

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot thailand slot gacor slot gacor slot gacor