Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

AI Ciptakan Konsensus Palsu di Ruang Digital

Uji Coba Sukses, QRIS Indonesia-Tiongkok Rilis Akhir April 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 27 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar

Kadang yang paling menyakitkan bukan ketika dibohongi, tapi saat menyadari bahwa kita ikut menyebarkan kebohongan itu.
Udex MundzirUdex Mundzir11 April 2025 Opini
Refleksi Wartawan Indonesia dan Keberpihakan Prabowo
Ilustrasi Refleksi Wartawan Indonesia dan Keberpihakan Prabowo
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Saya menulis ini sebagai wartawan yang pernah percaya. Bukan karena naif, tapi karena pada satu titik saya ingin percaya bahwa pemimpin bisa berubah, bahwa negara bisa jadi lebih baik lewat suara rakyat, bukan warisan dinasti.

Sepuluh tahun lalu, kami—media, seniman, influencer, akademisi—berlomba menyuarakan “harapan.” Kami menertawakan mobil Esemka karena polos dan lokal, bukan karena palsu. Kami mengangkat narasi “anak tukang kayu” dan membandingkannya dengan elit lama yang dikira penuh dosa. Kami bantu bentuk pencitraan yang sekarang justru mencemari logika publik.

Kini, saya bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya telah kami bantu bangun?

Hari ini kita tahu, Esemka tidak pernah benar-benar ada. Kita tahu, kebijakan yang digadang-gadang sebagai pro-rakyat, dari kartu-kartu sakti sampai bansos digital, ternyata jadi ladang korupsi baru. Kita tahu bahwa di balik senyum dan baju putih polos itu, ada kekuasaan yang senang bermain abu-abu.

Kita menyaksikan runtuhnya KPK, revisi UU, pengangkatan para buzzer jadi komisaris, dan hukum yang bengkok ke arah istana.

Dan ketika suara rakyat mulai kritis, kekuasaan membalas dengan kedap. Tak ada ruang untuk oposisi, bahkan di media. Kritik disebut hoaks, oposisi dijadikan lawakan.

Yang lebih menyakitkan, sebagian dari kami masih diam.Banyak wartawan—maaf, rekan seprofesi saya—yang akhirnya memilih “netral,” padahal tahu apa yang sedang terjadi. Ada yang dibeli lewat proyek, ada yang dijinakkan lewat penghargaan, ada juga yang hanya ingin “aman.”

Baca Juga:
  • Haji Idi dan Situasi Simalakama di Pilkada Sampang
  • Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”
  • Langkah Skuad Muda yang Tertatih
  • Dapur Rapi, Pikiran Tertata

Saya tahu, karena saya pernah jadi salah satunya.Kami wartawan dibesarkan dengan idealisme: “berpihak kepada kebenaran dan kepentingan publik.” Tapi di lapangan, kami dicekik oleh iklan, tekanan pemilik media, dan redaktur yang harus tunduk pada pemegang saham yang dekat kekuasaan.

Kini, kami hidup di negeri yang penuh ilusi.Pemerintah bicara pertumbuhan ekonomi, tapi jutaan rakyat tak mampu mudik karena kehilangan kerja. Mereka bicara digitalisasi, tapi anak-anak di pedalaman masih berjalan 10 km untuk sinyal. Mereka bangga buka taman 24 jam, tapi masjid malah diminta sepi dan sunyi.

Mereka bangga proyek IKN dikunjungi wisatawan, padahal fungsinya untuk pusat pemerintahan, bukan taman safari beton.

Dan kini, ketika korupsi sudah telanjang di depan mata, Prabowo pun bicara soal “keadilan bagi anak dan istri koruptor.” Pernyataan itu terdengar simpatik, tapi mematikan.

Karena ia mengaburkan batas antara pelaku dan korban. Antara pencuri dan penadah. Antara empati dan pembiaran.

Lebih parah lagi, pernyataan itu mengungkap satu hal yang mengkhawatirkan: Prabowo cenderung lebih berempati pada koruptor dan keluarganya ketimbang kepada penderitaan rakyat.

Rakyat kecil yang kehilangan hak atas kesehatan, pendidikan, pekerjaan, bahkan sekadar harga bahan pokok yang wajar, tak pernah mendapat empati sebesar itu.

Artikel Terkait:
  • KDM, Calon Diktator yang Terlihat Merakyat
  • Ijazah Jokowi, Ada Atau Tidak?
  • Meski Telah Berpura-pura jadi Jakmania, Kang Emil Tetap Kalah
  • Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik

Tak ada pidato menyentuh soal anak petani yang gagal panen, atau buruh yang di-PHK tanpa pesangon. Tapi untuk istri dan anak koruptor, negara diminta “berperasaan.”Ini bukan hanya keliru secara moral. Ini pengkhianatan terhadap akal sehat.

Sebagai wartawan, saya paham kekuatan narasi. Narasi bisa membangkitkan perlawanan, atau meninabobokan rakyat. Dan kekuasaan sekarang sedang memainkan narasi yang licin: empati kepada elit, kekerasan kepada rakyat kecil.

Kita sudah menyaksikan rakyat miskin disita motornya karena telat bayar pajak. Tapi saat bicara keluarga koruptor, negara justru mengingatkan kita untuk “adil.” Di mana adilnya?Lebih ironis lagi, saat media massa kini lebih sibuk menyoroti pesta pernikahan artis, drama influencer, atau jargon pejabat viral. Kita, wartawan, sedang kehilangan akal sehat kolektif.

Hari ini, negara tak lagi menunggu berita baik. Negara ingin berita yang dipesan.

Saya menulis ini sebagai pengakuan, dan mungkin penyesalan. Tapi juga sebagai seruan: mari berhenti pura-pura tidak tahu. Kita semua tahu ini salah. Kita semua tahu ini busuk. Dan kalau kita diam, maka kita bagian dari kebusukan itu.

Sudah cukup kita tertawa atas kebohongan yang kita tahu tak lucu.

Jangan Lewatkan:
  • Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat
  • Tips Temukan Passion dan Bakat ala Remaja Masa Kini
  • Membentuk Generasi Hebat, Lima Syarat Menjadi Anak Hebat
  • Jurnal Ilmiah Indonesia, Banyak Tapi Bagaikan Buih

Sudah cukup kita diam karena takut kehilangan akses.Sudah saatnya kita menulis dengan satu tujuan: menyuarakan kembali apa yang tersisa dari nurani publik.

Karena jika wartawan ikut bungkam, lalu siapa yang akan bicara?

Keadilan Sosial Korupsi Kritik Kekuasaan Prabowo Subianto Wartawan Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePrabowo Lebih Pro pada Koruptor
Next Article Titiek Puspa: Legenda Musik yang Menembus Zaman

Informasi lainnya

UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN

19 April 2026

Biru Fund dan Masa Depan Tambak

11 April 2026

Djibouti dan Politik Geografi

11 April 2026

Prabowo Klaim Hemat Rp308 Triliun dari APBN

20 Maret 2026

Prabowo dan Gibran Terima THR, Nominalnya Disorot Publik

13 Maret 2026

Dapur Rapi, Pikiran Tertata

12 Maret 2026
Paling Sering Dibaca

Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

Profil Alfi Salamah

Etika Menemukan Barang di Jalan

Islami Ericka

Mengakhiri Bayang Jokowi

Editorial Udex Mundzir

5 Kota Dingin di Jawa Timur yang Cocok untuk Liburan

Travel Alfi Salamah

Pilkada Kabupaten Tasikmalaya 2024, Hanya Legitimasi Kemenangan Petahana

Opini Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi