Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

AI Ciptakan Konsensus Palsu di Ruang Digital

Uji Coba Sukses, QRIS Indonesia-Tiongkok Rilis Akhir April 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 26 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Bela Negara Bukan Membungkam Kritik

Kritik yang dibungkam atas nama nasionalisme justru mengkhianati esensi bela negara sejati.
Udex MundzirUdex Mundzir13 Juni 2025 Opini
perbedaan bela negara dan bela pemerintah
Ilustrasi perbedaan bela negara dan bela pemerintah (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Semakin kabur batas antara negara dan pemerintah, semakin besar pula risiko terjadinya kekeliruan berpikir publik. Dalam wacana bela negara, kerancuan ini menjadi serius ketika kritik terhadap kebijakan pemerintah dianggap sebagai bentuk anti-nasionalisme. Padahal, cinta tanah air tak selalu berarti tunduk pada kuasa penguasa.

Pada Maret 2025, revisi UU TNI resmi disahkan. Revisi ini membuka jalan bagi prajurit aktif untuk mengisi jabatan sipil. Mulai dari Kementerian Pertanian hingga Kejaksaan, hampir semua lembaga kini terbuka untuk militer aktif. Ini langsung mengingatkan publik pada masa kelam dwifungsi ABRI. Gelombang protes pun tak terelakkan. Mahasiswa menggugat keras, bahkan sampai menggedor ruang sidang yang dialihkan ke hotel mewah, simbol betapa elit kekuasaan kini jauh dari rakyat.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Pada saat yang hampir bersamaan, pemerintah menerbitkan Inpres No. 1 Tahun 2025. Isinya: mengalihkan Rp306 triliun anggaran kementerian ke program makan siang gratis. Program populis ini dikritik keras oleh akademisi karena mengorbankan anggaran kesehatan dan pendidikan. Namun, alih-alih mendengarkan, kritik justru dibungkus sebagai “tidak mendukung pembangunan nasional.”

Bela negara tak lagi dipahami sebagai upaya kolektif menjaga republik dari ancaman, melainkan telah direduksi menjadi kewajiban loyalitas terhadap program-program negara—sekalipun tidak masuk akal. Bahkan, tagar viral seperti #KaburAjaDulu yang muncul Februari lalu menggambarkan kegelisahan generasi muda. Mereka bukan tidak cinta tanah air, tetapi kecewa karena tanah air seolah hanya memberi janji, bukan keadilan sosial.

Baca Juga:
  • Peta Jalan Pendidikan: Benang Kusut yang Perlu Diurai
  • Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat
  • Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar
  • Membangun Keterampilan Sosial untuk Mengurangi Insecure

Ironisnya, upaya bela negara dalam bentuk pelatihan ala militer juga diterapkan untuk siswa sekolah di Jawa Barat. Pemerintah daerah menyebut ini cara “mendisiplinkan” anak. Tetapi KPAI dan psikolog menilai pendekatan ini berlebihan dan bisa berujung pada trauma. Kritik terhadap pendekatan militeristik semacam ini tidak bisa serta merta dianggap sebagai pelecehan terhadap nasionalisme.

Fenomena ini menunjukkan gejala sistemik: semangat nasionalisme disalahartikan untuk memperkuat kekuasaan. Di lingkungan kampus, konsep bela negara masuk dalam skema Kampus Merdeka. Mahasiswa diposisikan sebagai objek, bukan subjek yang mampu berpikir kritis. Beberapa kampus mulai melarang diskusi politik dengan dalih menjaga stabilitas, padahal diskusi adalah jantung dari kehidupan akademik.

Masalah ini lebih dari sekadar salah kaprah. Ia adalah ancaman serius terhadap demokrasi. Ketika pemerintah mengidentikkan dirinya dengan negara, maka setiap kritik padanya akan dianggap penghianatan. Padahal, dalam sistem demokratis, kritik adalah bentuk tertinggi dari cinta tanah air. Mereka yang berani berbicara bukan pembelot, melainkan penjaga arah.

Secara hukum, UUD 1945 menjamin kebebasan berpendapat. Undang-undang bela negara tidak pernah mencantumkan larangan untuk mengkritik pemerintah. Cinta tanah air tidak dibatasi oleh kesetiaan terhadap penguasa, tapi oleh keberanian untuk menegur kekeliruan agar bangsa tetap berjalan di rel keadilan.

Artikel Terkait:
  • Kalau Tidak Viral, Mana Mau Kalian Membantu?
  • Pramuka Cisayong, Saatnya Bergerak
  • Ironi di Balik Program Bergizi
  • Inilah Seputar Mental Illness yang Perlu Anda Ketahui!

Penting bagi kita untuk memisahkan dua hal: membela negara dan membela pemerintah. Negara adalah entitas yang lebih besar, mencakup rakyat, budaya, alam, dan nilai-nilai luhur. Pemerintah adalah pengelola negara, yang kinerjanya boleh—dan harus—dikritik. Membungkam kritik demi stabilitas hanya akan membuat negara rapuh, bukan kuat.

Solusinya adalah membangun kesadaran kritis dan sistem pemerintahan yang transparan. Setiap kebijakan publik harus dilandasi oleh partisipasi rakyat, bukan sekadar keputusan elite. Program bela negara harus berbasis nilai sipil, bukan militeristik. Ruang publik harus tetap terbuka untuk diskusi, debat, dan perbedaan pendapat. Negara tidak akan runtuh karena kritik. Sebaliknya, ia akan bangkit jika semua anak bangsanya diberi ruang untuk bersuara.

Bela negara sejati bukan tentang membungkam kritik atau menghafal slogan nasionalisme. Ia adalah keberanian untuk berkata benar demi kebaikan bangsa. Ketika cinta tanah air disempitkan hanya menjadi dukungan terhadap pemerintah, maka demokrasi sedang dalam bahaya. Inilah saatnya kita berdiri, bukan membungkuk di hadapan kekuasaan yang salah arah.

Jangan Lewatkan:
  • Titik Berat Indonesia dalam Konflik Timur Tengah
  • Ketika Dilempari Batu, Bangunlah Istana: Pelajaran Bijak Menghadapi Kritik
  • Inilah Kekurangan dan Kelebihan Karakteristik Generasi Z
  • Cuaca Panas? Inilah Tanaman yang Bisa Menyejukan Rumah
Bela Negara Demokrasi Indonesia Kebebasan Berpendapat Kebijakan Publik Kritik Pemerintah
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRosan Roeslani Tegaskan Danantara Dorong Ekonomi Inklusif
Next Article Mahasiswa Disabilitas UT Penuh Semangat dalam Ujian Tatap Muka di SMAN 5 Tasikmalaya

Informasi lainnya

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

26 April 2026

e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

25 April 2026

Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat

12 April 2026

Biru Fund dan Masa Depan Tambak

11 April 2026

Djibouti dan Politik Geografi

11 April 2026

KTP dan Pajak yang Tak Sederhana

11 April 2026
Paling Sering Dibaca

Mengapa Orang Kaya Rajin Berdonasi?

Bisnis Udex Mundzir

7 Kunci Sukses ala Bill Gates yang Bisa Kamu Terapkan

Bisnis Ericka

Misi Kemanusiaan yang Mendunia Palang Merah Indonesia

Kroscek Alfi Salamah

Harun Ar Rasyid: Al Qur’an dan Kuam Muslimin Ibarat Ikan dengan Air

Profil Dexpert Corp

Memisah Pemilu, Memecah Stabilitas

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi