Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

Gen Z Mulai Bosan dengan Aplikasi Kencan

Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla di 9 Polda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 25 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Rafflesia Hasseltii Bermekaran, Mitos Kelangkaan Buyar

Fenomena kemunculan Rafflesia hasseltii di kawasan utara Kalimantan menantang anggapan bahwa bunga raksasa ini hanya bisa ditemui setelah pencarian bertahun-tahun.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati24 November 2025 Lingkungan
Rafflesia Hasseltii Bermekaran, Mitos Kelangkaan Buyar
Rafflesia Hasselti (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Nunukan – Di tengah kisah dramatis para peneliti yang kerap menanti hingga belasan tahun untuk menyaksikan mahkota raksasa Rafflesia hasseltii, lanskap Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) justru menghadirkan ironi yang menggembirakan. Seolah menepis label “mustahil ditemukan”, bunga langka ini kerap bermekaran tanpa drama panjang, menjadikan Krayan sebagai salah satu kawasan dengan temuan Rafflesia paling mudah dijumpai di Indonesia.

Fenomena ini berkebalikan dengan cerita viral seorang peneliti di Sumatera yang menangis haru setelah 13 tahun menanti mekarnya Rafflesia hasseltii. Namun di pedalaman Krayan Barat, masyarakat justru terbiasa menyaksikan kelopak besar itu tumbuh di sepanjang jalur hutan, bahkan tak jauh dari permukiman. Keberadaan Rafflesia pricei kerabat dekat hasseltii yang lebih sering mekar semakin memperkuat gambaran bahwa ekosistem TNKM masih sangat sehat.

Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, mengungkap bahwa monitoring rutin menunjukkan kecenderungan mekarnya bunga Rafflesia pada sekitar bulan Agustus, meski pola pasti belum dapat ditentukan. Ia menegaskan pentingnya pemantauan jangka panjang untuk memetakan dinamika kemunculannya.

“Berdasarkan hasil data monitoring Rafflesia pricei paling sering berbunga pada bulan Agustus. Namun masih perlu monitoring berkala untuk memastikan seberapa sering Rafflesia pricei mekar,” ujar Seno, Senin (24/11/2025).

Baca Juga:
  • Laju Deforestasi Indonesia 2024 Tembus 175 Ribu Ha
  • BNPB Tolak Bantuan Asing, Penanganan Karhutla Dianggap Masih Terkendali
  • Empat Wisata di Puncak Bogor Disegel, Dedi Mulyadi: Penyebab Banjir dari Sini
  • Pemerintah Cabut 4 IUP Tambang Nikel di Raja Ampat

Di Desa Pa’ Kidang, Krayan Barat, jalur wisata menuju Buduk Udan menjadi contoh unik bagaimana habitat Rafflesia dapat berdekatan dengan jalur warga. Pada rute turun dari puncak, wisatawan kerap menemukan beberapa kuntum mekar bersamaan, sesuatu yang sangat jarang terjadi di wilayah lain. Meski dekat dengan desa, seluruh lokasi tetap berada dalam zona TNKM sehingga pengelolaannya dilakukan secara ketat.

Masyarakat menjadi elemen penting dalam upaya konservasi tersebut. TNKM telah membentuk Kelompok Wisata Pa’ Kidang Makmur, lengkap dengan pelatihan pemandu, pembangunan shelter, hingga penyediaan papan interpretasi flora. Model pengelolaan ini memungkinkan warga memantau potensi mekarnya Rafflesia sekaligus mengembangkan ekowisata berbasis komunitas.

“Kami berharap destinasi wisata Buduk Udan dapat berkembang dan dilestarikan sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat. Kami juga mengharapkan dukungan mitra dan pemerintah daerah,” sambung Seno.

Transformasi pemahaman masyarakat Dayak Krayan terhadap bunga langka ini juga menjadi cerita tersendiri. Kepala SPTN Wilayah I TNKM, Hery Gunawan, menyebut bahwa dahulu Rafflesia tidak memiliki nilai konservasi di mata masyarakat.

Artikel Terkait:
  • Menghindari Pelanggaran dan Mencegah Viralitas: Kapolda Metro Jaya Mengingatkan Jajarannya untuk Disiplin
  • Kalimantan Diselimuti Asap, Ribuan Warga Kena ISPA
  • BMKG Tanggapi Isu Gelombang Panas Indonesia April
  • Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?

“Menurut cerita masyarakat, sebelum mengetahui bahwa Rafflesia merupakan tumbuhan langka dan dilindungi, masyarakat memanfaatkan bunga Rafflesia untuk pakan anjing ketika di dalam hutan,” tutur Hery.

Kini, pandangan itu berubah total. Warga menjadi penjaga utama habitat melalui Tim Monitoring Rafflesia serta pengembangan ekowisata desa. Gambar dan replika bunga raksasa ini bahkan mulai digunakan dalam tarian Dayak Lundayeh, menandai integrasi antara konservasi dan identitas budaya.

Keberadaan Rafflesia hasseltii dan pricei yang relatif sering ditemukan memberikan sinyal kuat bahwa fungsi ekologis TNKM masih bekerja optimal. Di tengah tekanan deforestasi Kalimantan, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan mitra konservasi mampu menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati Borneo.

Di tempat lain, kehadiran Rafflesia memicu tangis haru karena kelangkaannya. Namun di Kayan Mentarang, mekarnya bunga ini justru menjadi pengingat bahwa ketika hutan dijaga, keajaiban akan dengan sendirinya menampakkan wajahnya.

Jangan Lewatkan:
  • Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya
  • Gubernur Elisa Sebut Warga Tolak Penutupan Tambang Nikel Gag
  • Indonesia-Gold Standard Akui Sertifikat Karbon Secara Timbal Balik
  • Kasus Radiasi Cikande Masuk Tahap Penyidikan, PT PMT Dianggap Lalai
Ekowisata Krayan Flora Langka Konservasi Kalimantan Rafflesia Hasseltii TN Kayan Mentarang
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRebusan Seledri untuk Vitalitas Sehari-hari
Next Article Habib Jafar: Poligami Seperti Pintu Darurat, Jangan Asal Buka

Informasi lainnya

Kalimantan Diselimuti Asap, Ribuan Warga Kena ISPA

21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

21 Agustus 2026

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

12 Juli 2026

Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?

10 Juli 2026

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

6 Juli 2026

Taman Pompeii Ungkap Jejak Parfum Kuno

18 April 2026
Paling Sering Dibaca

Tips Hindari FOMO Agar Tetap Kalem dan Bahagia

Daily Tips Ericka

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

Editorial Udex Mundzir

Pramuka Cisayong, Saatnya Bergerak

Perspektif Silva

Ubah Lontar Jadi Pemanis Sehat: Inovasi Hebat Mahasiswa UPER!

Bisnis Udex Mundzir

Tegakkan Hukum, Bukan Cari Kambing Hitam

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Langit Nusantara dan Fenomena Cahaya yang Tampak di atas kepulauan Indonesia

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi