Jakarta – Kilau emas yang biasanya menjadi simbol kestabilan investasi tampak sedikit meredup di awal tahun. Memasuki pekan pertama 2026, harga emas logam mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam justru mengalami penurunan cukup dalam.
Fenomena ini menjadi ironi tersendiri di tengah harapan investor yang lazimnya menjadikan emas sebagai aset aman pada pergantian tahun.
Berdasarkan data resmi dari situs Logam Mulia Antam, harga emas tercatat turun Rp108 ribu atau sekitar 4,2 persen sepanjang periode 29 Desember 2025 hingga Ahad (04/01/2026).
Pada awal pekan, tepatnya Senin (29/12/2025), harga emas sempat berada di titik tertinggi Rp2.596.000 per gram. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama dan bergeser menjadi koreksi beruntun hingga menutup pekan di level Rp2.488.000 per gram.
Pergerakan harga harian menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam. Setelah turun Rp9 ribu pada Senin, harga emas anjlok signifikan sebesar Rp95 ribu pada Selasa (30/12/2025). Memasuki Rabu (31/12/2025), harga tertahan atau stagnan, sebelum kembali melemah pada Kamis (1/1/2026). Sempat menguat tipis pada Jumat (2/1/2026), harga emas kembali terkoreksi pada Sabtu (3/1/2026), menandai volatilitas tinggi di awal tahun.
“Pergerakan ini mencerminkan adanya aksi ambil untung setelah reli panjang di akhir 2025,” ujar seorang analis pasar logam mulia di Jakarta, dalam keterangannya pada Ahad (04/01/2026).
Ia menjelaskan bahwa tekanan dari penguatan dolar AS serta ekspektasi kebijakan suku bunga global turut memengaruhi minat investor terhadap emas dalam jangka pendek.Meski demikian, emas masih dipandang memiliki fundamental kuat sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
Dari sisi produk, harga emas Antam dalam berbagai pecahan juga menyesuaikan. Pecahan terkecil 0,5 gram dipatok Rp1.294.000, sementara emas 1 gram berada di Rp2.488.000.
Untuk investor skala besar, emas 1.000 gram atau 1 kilogram dihargai Rp2.428.600.000. Seluruh harga tersebut belum termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 sebesar 0,45 persen bagi pembeli yang menyertakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Menariknya, di tengah penurunan harga jual, harga buyback atau pembelian kembali oleh Antam justru mengalami kenaikan. Hingga akhir pekan ini, harga buyback tercatat Rp2.346.000 per gram, naik Rp109 ribu dibandingkan posisi sepekan sebelumnya. Kondisi ini memberikan ruang strategis bagi investor lama yang ingin merealisasikan keuntungan.
“Selisih harga jual dan buyback masih menjadi pertimbangan utama investor ritel dalam menentukan waktu transaksi,” tambah analis tersebut.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati rilis data ekonomi global serta arah kebijakan bank sentral utama dunia. Meski awal 2026 dibuka dengan koreksi, emas tetap dinilai memiliki prospek jangka panjang yang solid sebagai instrumen investasi defensif.
