Sepuluh malam terakhir Ramadan sering disebut sebagai fase paling sakral dalam perjalanan ibadah umat Islam. Pada periode inilah diyakini terdapat Lailatul Qadar, malam yang digambarkan Alquran sebagai malam penuh kemuliaan dengan pahala yang lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan.
Memasuki fase tersebut pada Ramadan 1447 Hijriah, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti salat malam, membaca Alquran, berzikir, serta melakukan itikaf di masjid. Dalam ajaran Islam, waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti, namun diyakini berada di salah satu malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Alquran melalui Surah Al-Qadr ayat 3 hingga 5 menjelaskan bahwa pada malam tersebut para malaikat, termasuk Malaikat Jibril, turun ke bumi dengan membawa ketenangan dan keberkahan hingga terbit fajar. Gambaran ini menjadi dasar keyakinan umat Islam bahwa malam tersebut dipenuhi kedamaian serta doa-doa yang diijabah oleh Allah SWT.
Sejumlah riwayat hadits juga menyebutkan beberapa tanda alam yang kerap dikaitkan dengan turunnya Lailatul Qadar. Salah satunya adalah suasana malam yang terasa sangat tenang dan sejuk. Udara pada malam itu digambarkan tidak terlalu panas maupun terlalu dingin sehingga memberikan kenyamanan bagi orang yang beribadah.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa langit pada malam tersebut tampak cerah dan bersih. Kondisi cuaca biasanya tidak mendung dan tidak disertai hujan, sehingga suasana malam terlihat lebih damai dibandingkan malam-malam lainnya.
“Tanda paling jelas justru sering terlihat pada pagi harinya, yaitu ketika matahari terbit dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan,” demikian disebutkan dalam sejumlah riwayat hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Daud.
Selain tanda-tanda alam, banyak ulama juga menjelaskan adanya pengalaman batin yang dirasakan oleh orang yang beribadah pada malam tersebut. Turunnya para malaikat diyakini membawa ketenangan spiritual yang membuat seseorang merasakan kekhusyukan yang mendalam saat berdoa, membaca Alquran, atau mendirikan salat malam.
Sebagian riwayat bahkan menyebutkan bahwa sebagian hamba pilihan bisa memperoleh petunjuk melalui mimpi yang baik mengenai malam tersebut. Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa kepastian mengenai siapa yang mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar sepenuhnya menjadi rahasia Allah SWT.
Dalam sejumlah literatur keislaman juga disebutkan ciri-ciri orang yang berpotensi meraih keutamaan malam tersebut. Salah satunya adalah konsistensi dalam menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah, termasuk menjaga salat Isya, Tarawih, dan Subuh secara berjamaah.
Selain itu, praktik itikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan juga dianggap sebagai salah satu upaya penting untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan mengurangi aktivitas duniawi, seseorang dapat lebih fokus memperbanyak doa, zikir, dan membaca Alquran.
Ciri lain yang sering disebut para ulama adalah adanya perubahan karakter yang lebih baik setelah Ramadan berakhir. Orang yang diyakini mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar biasanya menunjukkan peningkatan ketakwaan, akhlak yang lebih baik, serta konsistensi dalam menjalankan ibadah.
Karena itulah, sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Harapannya, setiap muslim dapat meraih keberkahan malam yang nilainya melampaui puluhan tahun ibadah tersebut.
