Tokyo – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Pemerintah Amerika Serikat memutuskan melepas ratusan juta barel minyak dari cadangan daruratnya sebagai langkah darurat untuk menstabilkan harga energi yang melonjak akibat konflik militer di kawasan tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat pada Rabu (11/3/2026) mengumumkan akan melepaskan sekitar 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR).
Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada pekan depan sebagai respons atas lonjakan harga energi global yang dipicu perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran di kawasan Timur Tengah. Langkah tersebut menjadi bagian dari aksi kolektif yang dilakukan oleh 32 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) yang sepakat menggelontorkan total 400 juta barel minyak dari cadangan darurat masing-masing negara.
“Mereka (Iran) telah memanipulasi dan mengancam keamanan energi Amerika dan sekutunya,” kata Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright dalam sebuah pernyataan resmi.
“Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, masa-masa seperti itu akan segera berakhir,” lanjutnya.
Pelepasan minyak dari cadangan strategis AS tersebut diperkirakan berlangsung selama sekitar 120 hari. Kebijakan ini diharapkan dapat menambah pasokan minyak global sekaligus meredam tekanan harga energi yang meningkat tajam akibat konflik geopolitik yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak di kawasan Timur Tengah.
Langkah kolektif negara-negara anggota IEA ini juga mencerminkan kekhawatiran internasional terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Wilayah Timur Tengah, khususnya jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, merupakan salah satu jalur vital perdagangan minyak global.
Ketegangan militer yang terjadi di kawasan itu menimbulkan risiko terganggunya arus distribusi minyak, yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap harga energi di berbagai negara.
Aksi pelepasan cadangan minyak oleh IEA kali ini menjadi yang pertama sejak tahun 2022, ketika invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina memicu krisis energi global. Pada saat itu, negara-negara anggota IEA juga mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak guna menahan lonjakan harga energi dunia.
Para analis energi menilai langkah kolektif tersebut merupakan upaya penting untuk menenangkan pasar energi yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Dengan menambah pasokan minyak ke pasar global, negara-negara konsumen utama berharap dapat menekan volatilitas harga yang berpotensi membebani perekonomian global.
Selain itu, pelepasan cadangan darurat ini juga menunjukkan bagaimana negara-negara industri berusaha menjaga stabilitas energi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Ketergantungan dunia terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah masih sangat tinggi, sehingga konflik yang terjadi di wilayah tersebut dapat dengan cepat memicu gejolak pasar global.
Jika situasi konflik terus berlanjut, para pengamat memperkirakan pasar energi dunia akan tetap berada dalam kondisi tidak stabil. Oleh karena itu, langkah koordinasi internasional seperti yang dilakukan oleh IEA dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan energi global.
Dengan tambahan pasokan dari cadangan darurat tersebut, pasar energi diharapkan dapat lebih stabil dalam beberapa bulan mendatang, meskipun ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang terus diawasi oleh para pelaku pasar global.
