Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan bahwa Ibu Kota menempati peringkat kedua sebagai kota teraman di Asia Tenggara berdasarkan hasil survei Global Residence Index 2026.
Dalam laporan tersebut, Jakarta memperoleh skor keamanan 0,72 dan berada di bawah Singapura yang menempati posisi pertama dengan skor 0,90. Jakarta mengungguli sejumlah kota besar lain di kawasan seperti Bangkok, Kuala Lumpur, Hanoi, hingga Manila.
Penilaian dalam survei ini dilakukan dengan menggunakan berbagai indikator, antara lain tingkat kriminalitas seperti pembunuhan dan penculikan, risiko politik dan keamanan, kematian akibat konflik, serta kerentanan terhadap bencana alam.
Selain itu, indikator tambahan mencakup tingkat kecelakaan lalu lintas, indeks risiko global, indeks keamanan Numbeo, dan Global Peace Index (GPI).
“Untuk menjadi kota teraman bukan DKI Jakarta yang meminta. Tetapi hasil survei dengan kriteria mereka yang membuatkan. Dan itu sudah setiap tahun ada,” ujar Pramono Anung.
Ia menjelaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil penilaian objektif dari lembaga internasional, bukan hasil intervensi pemerintah daerah. Pramono juga menyebut bahwa sebelumnya Jakarta umumnya berada di peringkat lima hingga tujuh di kawasan Asia Tenggara.
“Memang selama ini Jakarta biasanya ranking-nya antara 5, 6, 7, sekarang nomor dua, ya kita syukuri,” tambahnya.
Menurut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, peningkatan peringkat ini tidak terlepas dari peran masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial dan keamanan lingkungan. Faktor kebersamaan, kerukunan, serta toleransi dinilai menjadi elemen penting dalam menciptakan kondisi kota yang aman.
“Tidak mungkin ini tercapai tanpa kebersamaan, kerukunan, silaturahmi, dan persatuan yang kita jaga bersama-sama,” kata Pramono.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyampaikan bahwa aspek budaya dan toleransi juga menjadi perhatian dalam penilaian lembaga internasional. Ia menilai, kegiatan sosial dan budaya yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat turut memperkuat rasa aman di Jakarta.
“Indikator yang memang kita bisa tangkap yaitu kita mulai bergerak membangun kebudayaan dan masuk ke dalam toleransi beragama sehingga Jakarta menjadi aman, dan itulah yang mempunyai titik nilai dari sebuah lembaga internasional,” ujar Rano di Kalideres, Jakarta Barat, Minggu (12/4/2026).
Sepanjang tahun ini, berbagai kegiatan lintas agama dan budaya digelar di Jakarta, di antaranya Christmas Carol, perayaan Imlek, Festival Ogoh-ogoh, hingga Jakarta Bedug. Kegiatan tersebut berlangsung di sejumlah ruang publik, termasuk kawasan Bundaran HI.
Pemerintah daerah menilai kegiatan tersebut tidak hanya sebagai acara seremonial, tetapi juga sebagai bentuk nyata dari upaya menjaga keberagaman dan memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Selain itu, kondisi keamanan yang stabil juga memberikan dampak terhadap perekonomian daerah. Rano Karno menyebut bahwa aktivitas sosial dan budaya menjadi bagian dari strategi pembiayaan kreatif untuk menjaga perputaran ekonomi, terutama di tengah penurunan dana bagi hasil.
“Kita juga sama-sama tahu bahwa Jakarta kemarin hampir kehilangan dana bagi hasil (DBH) hampir 15 triliun. Untuk itulah kita melakukan yang namanya creative financing,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa selama periode perayaan besar seperti Natal hingga Idul Fitri, perputaran ekonomi di Jakarta mencapai sekitar Rp67 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas keamanan berkontribusi terhadap ketahanan ekonomi daerah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap capaian ini dapat dipertahankan melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga keamanan serta memperkuat toleransi di tengah keberagaman.
