Caracas – Dalam hitungan 39 detik, dua gempa bumi berkekuatan besar mengubah suasana tenang di Venezuela menjadi kepanikan. Gedung-gedung berguncang hebat, sebagian ambruk, sementara ribuan warga berlarian ke jalan untuk menghindari reruntuhan. Di berbagai sudut ibu kota Caracas dan wilayah pesisir, sirene ambulans serta tim penyelamat terdengar bersahut-sahutan di tengah puing bangunan.
Venezuela diguncang dua gempa bumi beruntun berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 pada Rabu (24/6) sore waktu setempat. Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa pertama terjadi sekitar 21 kilometer di barat kota pesisir Morón, sekitar 160 kilometer dari Caracas. Hanya berselang 39 detik, gempa kedua yang lebih kuat mengguncang kawasan tersebut. USGS mengategorikan peristiwa langka itu sebagai gempa kembar (seismic doublet), yakni dua gempa besar yang terjadi hampir bersamaan.
Guncangan hebat menyebabkan kerusakan luas di Caracas, La Guaira, serta sejumlah negara bagian di pesisir utara Venezuela. Apartemen, hotel, gedung perkantoran, hingga fasilitas publik dilaporkan roboh atau mengalami kerusakan berat. Bandara Internasional Simón Bolívar ditutup karena mengalami kerusakan, sementara layanan kereta dan metro dihentikan untuk pemeriksaan keselamatan.
Pemerintah Venezuela menetapkan keadaan darurat nasional dan mengerahkan ribuan personel penyelamat ke lokasi terdampak. Rumah sakit diminta meningkatkan kapasitas pelayanan untuk menangani lonjakan korban luka. Sekolah di berbagai daerah juga diliburkan sementara agar proses evakuasi dan pemeriksaan bangunan dapat dilakukan dengan aman.
Korban jiwa terus bertambah seiring berlangsungnya proses pencarian. Laporan awal menyebut sedikitnya 32 orang meninggal dan lebih dari 700 orang terluka. Namun pemerintah kemudian memperbarui data dengan mencatat sedikitnya 164 korban meninggal dan 971 orang mengalami luka-luka. Di sisi lain, ribuan warga dilaporkan masih belum dapat dihubungi sehingga angka korban diperkirakan masih dapat meningkat.
Di sejumlah lokasi, tim SAR berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan. Warga ikut membantu proses evakuasi dengan peralatan seadanya sebelum alat berat tiba. Rekaman video yang beredar memperlihatkan bangunan bertingkat runtuh, jalan dipenuhi puing, serta keluarga korban yang menunggu kabar anggota keluarganya di sekitar lokasi bencana.
“Puluhan bangunan telah runtuh dan kami sedang melakukan upaya penyelamatan yang sangat intensif untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa yang masih bisa diselamatkan,” kata Pelaksana Tugas Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah di Caracas, Rabu malam (24/6/26). Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta memastikan seluruh sumber daya negara difokuskan pada operasi penyelamatan.
USGS memperingatkan dampak bencana ini berpotensi lebih besar dibanding data awal. Berdasarkan pemodelan yang mempertimbangkan kepadatan penduduk dan kualitas bangunan di wilayah terdampak, lembaga tersebut menilai korban jiwa dapat bertambah signifikan apabila seluruh bangunan yang rusak selesai diperiksa. Gempa magnitudo 7,5 ini juga disebut sebagai yang terbesar yang melanda Venezuela atau wilayah lepas pantainya sejak tahun 1900.
Selain menelan korban jiwa, gempa turut mengganggu aktivitas ekonomi dan pelayanan publik. Sejumlah wilayah mengalami pemadaman listrik dan gangguan komunikasi. Meski demikian, fasilitas industri minyak yang menjadi tulang punggung ekonomi Venezuela dilaporkan tidak mengalami kerusakan besar, meskipun gangguan pasokan listrik dikhawatirkan dapat memengaruhi produksi dalam beberapa hari ke depan.
Respons internasional mulai berdatangan tidak lama setelah bencana terjadi. Amerika Serikat, Spanyol, Brasil, Prancis, dan sejumlah negara lain menyatakan kesiapan mengirim bantuan kemanusiaan, tim penyelamat, serta tenaga medis. Dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pencarian korban dan pemulihan wilayah terdampak.
Bagi Indonesia, Kementerian Luar Negeri memastikan seluruh warga negara Indonesia yang terdata berada di Venezuela dalam kondisi aman. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Caracas terus memantau perkembangan situasi serta mengimbau WNI agar mengikuti arahan otoritas setempat, terutama terkait potensi gempa susulan yang masih mungkin terjadi.
Gempa kembar yang mengguncang Venezuela menjadi pengingat bahwa kawasan pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan menyimpan potensi aktivitas seismik tinggi. Bencana ini bukan hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menguji kesiapsiagaan pemerintah, ketangguhan masyarakat, dan pentingnya sistem mitigasi bencana. Di tengah proses pencarian yang masih berlangsung, harapan terbesar kini tertuju pada ditemukannya lebih banyak penyintas di balik reruntuhan.
