Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Era Smartphone Berakhir, Apa Penggantinya?

Jejak Dapur Gratis Ottoman, Amal atau Legitimasi?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 21 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Di balik kepulan asap, kebenaran harus dicari dengan bukti, bukan kecurigaan.
Alfi SalamahAlfi Salamah21 Agustus 2026 Lingkungan
Karhutla di Kalimantan
Ilusrtrasi petugas berjuang memadamkan karhutla di Kalimantan
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Asap kembali datang dari sejumlah wilayah Kalimantan pada musim kemarau tahun ini. Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian nasional. Namun, pertanyaan lain ikut muncul di tengah masyarakat. Apakah semua kebakaran tersebut murni terjadi karena alam?

Pertanyaan itu wajar muncul ketika kebakaran terjadi berulang setiap musim kering. Namun, menyebutnya sebagai “konspirasi” membutuhkan bukti yang sangat kuat. Data resmi saat ini belum membuktikan adanya operasi terorganisasi untuk membakar Kalimantan.

Meski demikian, faktor manusia memang tidak dapat dikesampingkan.

BNPB bahkan memasukkan Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan sebagai provinsi prioritas penanganan karhutla. Prioritas juga diberikan kepada Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Situasinya juga bukan masalah kecil. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut hampir 95.000 hektare lahan terbakar selama Juli 2026. Angka itu hampir dua kali lipat luas kebakaran selama enam bulan sebelumnya.

El Nino Membuat Kalimantan Semakin Mudah Terbakar

Ada faktor alam yang tidak boleh diabaikan dalam membaca situasi sekarang.

BMKG sebelumnya memprediksi El Niño berkembang menjadi kategori moderat hingga kuat pada pertengahan 2026. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kering semakin terasa di sejumlah wilayah.

Pada Dasarian II Juli 2026, BMKG mencatat 72,8 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Curah hujan rendah bahkan mencakup 92,93 persen wilayah.

KLH/BPLH kemudian menyatakan El Niño kuat telah berlangsung sejak Juli 2026. Pemerintah memperingatkan kondisi itu dapat memperparah kekeringan.

Artinya, vegetasi dan lahan menjadi semakin kering. Api kecil pun lebih mudah berkembang menjadi kebakaran luas.

Namun, kondisi kering tidak selalu berarti api muncul dengan sendirinya.

BNPB: Mayoritas Kebakaran Dipicu Manusia

Inilah bagian yang membuat isu karhutla semakin menarik untuk ditelusuri.

Saat meninjau Kubu Raya, Kalimantan Barat, Jumat (7/8/2026), BNPB menyoroti faktor manusia. Deputi Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan menyampaikan pernyataan tegas.

“99 persen lahan yang terbakar ini karena ulah manusia,” ujar Budi.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah BNPB berdialog dengan petugas dan masyarakat di Kubu Raya. Menurut BNPB, kebakaran mayoritas dipicu oknum yang sengaja membakar.

Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati.

Pernyataan itu tidak berarti 99 persen kebakaran Kalimantan dilakukan sebuah kelompok terorganisasi. Faktor manusia mencakup banyak kemungkinan dan motif berbeda.

Pembakaran sampah bisa merambat ke lahan kering. Api untuk membersihkan kebun juga dapat lepas kendali. Pembukaan lahan menggunakan api menjadi risiko lainnya.

Karena itu, “disebabkan manusia” berbeda dengan “konspirasi terorganisasi”.

Mengapa Membakar Lahan Masih Menjadi Sorotan?

Api menjadi metode yang berbahaya untuk membersihkan vegetasi.

Ketika lahan sedang kering, pembakaran kecil dapat berubah menjadi bencana. Angin kemudian dapat membawa api menuju kawasan yang lebih luas.

Baca Juga:
  • Warga Papua Tolak Tambang Nikel, Menpar Dukung Lindungi Raja Ampat
  • Rano Karno: Inovasi Sampah Kunci Agar Jakarta Tak Tenggelam
  • BMKG Ingatkan Hujan Lebat 15-21 Februari
  • Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

Risikonya semakin besar pada lahan gambut.

BNPB menjelaskan karakter gambut menjadi tantangan besar dalam pemadaman di Kalimantan Barat. Api dapat bertahan di bawah permukaan dan sulit dipadamkan sepenuhnya.

Karena ancamannya meningkat, KLH/BPLH menerbitkan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026.

Aturan yang diterbitkan Senin (10/8/2026) itu melarang pembukaan lahan dengan cara membakar. Pemerintah daerah juga diminta meningkatkan pencegahan dan pengawasan.

Lalu, Bagaimana dengan Dugaan Kepentingan Bisnis?

Inilah bagian yang kerap memunculkan teori liar di media sosial.

Kebakaran lahan sering dikaitkan dengan pembukaan perkebunan atau kepentingan perusahaan. Hubungan tersebut tidak boleh langsung dianggap benar tanpa penyelidikan.

Namun, pemerintah memang sedang meningkatkan pengawasan terhadap korporasi.

Kementerian Kehutanan melakukan pemeriksaan terhadap empat perusahaan pemegang izin kehutanan di Kalimantan Barat. Pemeriksaan berlangsung pada Senin 10-14 Agustus 2026 lalu.

Pemeriksaan dilakukan terhadap sarana, personel, dan sistem pengendalian kebakaran perusahaan.

Empat perusahaan tersebut beroperasi di Ketapang dan Sanggau. Pemerintah ingin memastikan pemegang izin siap mencegah kebakaran sebelum titik api muncul.

Hal penting perlu digarisbawahi.

Pemeriksaan perusahaan bukan bukti bahwa perusahaan tersebut menyebabkan kebakaran.

Tidak tepat menyimpulkan mereka sebagai pelaku hanya karena sedang diperiksa pemerintah. Pengawasan kepatuhan merupakan bagian dari pencegahan.

Hotspot di Area Izin Juga Belum Membuktikan Pelaku

Kementerian Kehutanan juga meningkatkan deteksi dini di Kalimantan Selatan.

Pemantauan dilakukan menggunakan data titik panas pada areal pemegang izin kehutanan. Informasi tersebut kemudian diteruskan untuk diverifikasi langsung di lapangan.

Hal ini penting karena hotspot sering disalahartikan di media sosial.

Titik panas bukan otomatis bukti pembakaran.

Lokasi hotspot yang berada di wilayah konsesi juga tidak otomatis membuktikan perusahaan sebagai pelaku. Penyebab kebakaran tetap membutuhkan pemeriksaan lapangan dan proses hukum.

Tanpa tahapan tersebut, tuduhan dapat berubah menjadi informasi menyesatkan.

Kasus Pembakaran Memang Nyata

Meski teori konspirasi belum terbukti, pembakaran oleh individu bukan sekadar kemungkinan.

BNPB mencatat kebakaran di Bulungan, Kalimantan Utara, pada Kamis (13/8/2026). Informasi warga menyebut api diduga berasal dari pembakaran saat pembukaan lahan untuk rumah.

Artikel Terkait:
  • Kasus Radiasi Cikande Masuk Tahap Penyidikan, PT PMT Dianggap Lalai
  • Pegawai OIKN Dibekali Mitigasi Konflik Satwa Liar di IKN
  • Sejumlah Perusahaan Dituding Rusak KHG dan Picu Banjir
  • Pupuk Kaltim Menangkan Penghargaan AREA 2023: Inovasi Kitosan Cair Limbah Cangkang Rajungan

Sekitar empat hektare lahan terbakar akibat kejadian tersebut. Penanganan masih berlangsung ketika BNPB mengeluarkan laporan Jumat (14/8/2026) lalu.

Kasus seperti ini menunjukkan faktor manusia memang nyata.

Namun, setiap kebakaran tetap harus diperiksa secara terpisah. Motif satu kasus tidak dapat digunakan untuk menjelaskan seluruh kebakaran di Kalimantan.

Cuaca Bukan Pelaku, tetapi Bisa Memperbesar Bencana

Perdebatan “alam atau manusia” sebenarnya terlalu sederhana.

Keduanya dapat saling memperkuat.

Manusia dapat menyediakan sumber api. El Niño dan musim kemarau menyediakan kondisi yang membuat api mudah berkembang.

Vegetasi kering menjadi bahan bakar. Angin membantu api menyebar. Gambut membuat proses pemadaman semakin rumit.

Kombinasi tersebut dapat mengubah api kecil menjadi kebakaran besar.

Pada Selasa (11/8/2026), misalnya, sekitar 15 hektare lahan terbakar di Kutai Kartanegara.

Kebakaran juga terjadi di beberapa wilayah Kalimantan Timur sepanjang Agustus.

BNPB mencatat kejadian di Berau, Bontang, Paser, dan wilayah lainnya. Penyebab beberapa kejadian masih belum diketahui atau diselidiki.

Mengapa Narasi “Konspirasi” Mudah Dipercaya?

Karhutla memiliki sejarah panjang dan berulang di Indonesia.

Ketika kebakaran kembali muncul, masyarakat kemudian mencari pihak yang dianggap bertanggung jawab. Foto satelit dan peta hotspot juga cepat menyebar melalui media sosial.

Masalah muncul ketika potongan informasi tersebut disusun menjadi kesimpulan tanpa bukti.

Satu hotspot dianggap bukti pembakaran. Lokasi kebakaran di sekitar izin perusahaan dianggap bukti keterlibatan korporasi. Musim kemarau dianggap satu-satunya penyebab.

Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks.

Investigasi karhutla membutuhkan pemeriksaan lokasi, saksi, pola api, kepemilikan lahan, hingga bukti hukum.

Jangan Lewatkan:
  • Menteri LH Percepat Daur Ulang untuk Atasi Sampah Plastik
  • KLH Dorong Pembatasan Impor Plastik Virgin Demi Kurangi Sampah
  • AS Proyeksikan Kapasitas Pembangkit Listrik Batu Bara Turun Lebih dari Setengah Pada 2050
  • Galunggung Dilirik UNESCO, Warga Didorong Jadi Penjaga Alam

Jadi, Apakah Ada Konspirasi?

Sampai Jumat (21/8/2026), belum ada bukti kredibel yang menunjukkan karhutla Kalimantan merupakan satu konspirasi besar dan terkoordinasi.

Namun, itu bukan berarti faktor manusia boleh diabaikan.

BNPB secara terbuka menyebut aktivitas manusia sebagai penyebab dominan pada kebakaran yang mereka tangani di Kubu Raya. Pemerintah juga memperketat larangan pembakaran lahan.

Korporasi sedang diawasi untuk memastikan kepatuhan pencegahan kebakaran. Aparat juga memiliki dasar hukum untuk menindak pembakaran sengaja maupun akibat kelalaian.

Sementara itu, El Niño menciptakan kondisi yang membuat risiko kebakaran semakin tinggi.

Karena itu, pertanyaan paling berguna mungkin bukan “siapa dalang di balik semuanya?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang menyalakan api pada setiap kasus. Lalu, apakah terjadi kelalaian, kesengajaan, atau pelanggaran hukum.

Jawabannya harus datang dari bukti.

Karhutla Kalimantan memang menyimpan banyak pertanyaan. Namun, kabut asap tidak seharusnya membuat fakta ikut menjadi kabur.

El Nino Fakta Karhutla Karhutla Kalimantan Kebakaran Hutan Lingkungan Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleEra Smartphone Berakhir, Apa Penggantinya?

Informasi lainnya

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

12 Juli 2026

Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?

10 Juli 2026

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

6 Juli 2026

Taman Pompeii Ungkap Jejak Parfum Kuno

18 April 2026

DKI Amankan 6,98 Ton Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Hari Ini

17 April 2026

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

15 April 2026
Paling Sering Dibaca

Eksploitasi Konsumen: Kuota Hangus, Manipulasi Digital Terstruktur

Editorial Udex Mundzir

Asal-Usul Tradisi Memberi Takjil di Bulan Ramadan

Islami Ericka

Tips Anti Baper Saat Lihat Pasangan Halal Muda

Daily Tips Alfi Salamah

Regulasi Pers Tanpa Arah

Editorial Udex Mundzir

Menjelajah Dunia Digital di teamLab Planets Tokyo

Travel Alfi Salamah
Berita Lainnya
Ekonomi
Ericka29 Mei 2025

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Manfaat Sehat Biji Selasih untuk Tubuh dan Kulit

Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa Resmi Kembali di SMA Mulai 2025

Prabowo Nilai Pengibaran Bendera One Piece Tak Langgar Aturan

Istiqlal Jadi Tuan Rumah MTQ Tujuh Negara

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Mic Wireless Untuk Masjid Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi