Puasa Ramadan kerap diibaratkan seperti perjalanan panjang menahan diri. Di tengah aktivitas harian yang padat, rasa lapar dan haus sering kali muncul sebagai ujian yang tidak mudah dilalui. Tak jarang, sebagian orang mengungkapkan keluhan karena menahan makan dan minum selama berjam-jam.
Dalam ajaran Islam, puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, terdapat beberapa golongan yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa, seperti orang sakit, musafir, lansia yang sudah tidak mampu, ibu hamil dan menyusui, perempuan yang sedang haid atau nifas, anak-anak, serta orang yang tidak berakal. Di luar kondisi tersebut, meninggalkan puasa tanpa alasan yang dibenarkan termasuk perbuatan yang dilarang dalam syariat.
Meski begitu, munculnya rasa lapar dan haus selama berpuasa merupakan hal yang wajar. Banyak orang kemudian bertanya-tanya mengenai hukum mengeluh saat berpuasa, apakah keluhan tersebut dapat membatalkan ibadah atau bahkan menghilangkan pahala puasa.
“Barangsiapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni,” demikian sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Para ulama menjelaskan bahwa mengeluh lapar dan haus saat berpuasa tidak termasuk perbuatan yang membatalkan puasa. Puasa seseorang tetap sah selama ia tidak melakukan hal-hal yang secara syariat memang membatalkan puasa, seperti makan, minum, atau melakukan hal-hal yang dilarang selama berpuasa.
Namun demikian, kebiasaan mengeluh tetap tidak dianjurkan. Sikap tersebut dinilai dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa karena ibadah seharusnya dijalankan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Dalam perspektif spiritual, puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga latihan pengendalian diri dari ucapan dan perilaku yang tidak bermanfaat.
Sejumlah ulama juga menyebut adanya perbuatan yang dapat mengurangi nilai pahala puasa meskipun tidak membatalkannya. Dalam kajian fikih, hal tersebut dikenal dengan istilah mufathirat maknawiyah. Ulama asal Yaman, Syekh Salim As-Syathiri, menyebut beberapa perbuatan yang termasuk di dalamnya, seperti menggunjing, mengadu domba, berbohong, memandang dengan syahwat, serta bersumpah palsu.
Selain menghindari perbuatan tersebut, umat muslim dianjurkan mengisi waktu berpuasa dengan berbagai amalan yang bermanfaat. Salah satunya adalah memperbanyak zikir kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 41–42 disebutkan bahwa orang beriman diperintahkan untuk mengingat Allah sebanyak-banyaknya serta bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.
Membaca Al-Qur’an juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan selama bulan Ramadan. Selain sebagai bentuk ibadah, membaca Al-Qur’an diyakini mendatangkan pahala besar bagi setiap huruf yang dibaca. Nabi Muhammad SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi menjelaskan bahwa setiap huruf dari kitab Allah akan dibalas dengan satu kebaikan yang dilipatgandakan sepuluh kali.
Selain itu, umat muslim juga dianjurkan memperbanyak doa, melakukan ibadah sunah seperti salat sunah, bersedekah, serta mengikuti kegiatan pengajian. Bahkan memberi makan kepada orang yang berpuasa juga memiliki keutamaan yang besar dalam Islam.
“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun,” sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi.
Dengan demikian, meskipun mengeluh lapar dan haus saat berpuasa tidak membatalkan ibadah, umat muslim tetap dianjurkan untuk menjaga kesabaran dan keikhlasan. Sikap tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesempurnaan puasa agar ibadah Ramadan dapat dijalani dengan penuh keberkahan.
