Bitung – Bumi seperti belum benar-benar tenang. Getaran demi getaran masih terasa, seolah mengingatkan warga bahwa alam belum selesai “berbicara” setelah gempa besar dan tsunami mengguncang wilayah tersebut sehari sebelumnya.
Gempa bermagnitudo 5,2 kembali terjadi di Bitung, Sulawesi Utara, pada Jumat (3/4/2026) pukul 12.42 Wita. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kekuatan gempa dimutakhirkan menjadi magnitudo 5,0 dengan pusat berada di laut, sekitar 126 kilometer timur laut Bitung pada kedalaman 19 kilometer. Peristiwa ini merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan pasca gempa besar yang terjadi sehari sebelumnya.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan adanya pergerakan naik atau thrust fault,” ujar Plt Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono dalam keterangan resminya, Jumat (3/4/2026).
Ia menjelaskan, gempa ini dipicu oleh deformasi kerak bumi di bawah laut. Meski guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah seperti Batang Dua dan Ternate dengan skala intensitas III MMI, BMKG memastikan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami berdasarkan hasil pemodelan numerik.
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami,” tegas Rahmat.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Gempa tersebut merupakan bagian dari rangkaian susulan pasca gempa utama bermagnitudo 7,6 yang terjadi pada Kamis (2/4/2026). Hingga Jumat siang pukul 12.55 Wita, jumlah gempa susulan tercatat mencapai 484 kejadian, menunjukkan aktivitas seismik yang masih sangat tinggi di kawasan Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Dari ratusan gempa susulan itu, magnitudo bervariasi mulai dari 1,7 hingga 5,8. Intensitas aktivitas ini membuat masyarakat diminta untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi kerusakan bangunan yang sudah terdampak sebelumnya.
BMKG juga mengingatkan warga agar tidak memasuki bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat gempa sebelumnya, guna menghindari risiko korban akibat runtuhan struktur yang melemah.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa fase pascagempa besar kerap diikuti aktivitas susulan yang dapat berlangsung dalam waktu lama. Pemantauan terus dilakukan oleh BMKG untuk memastikan keselamatan masyarakat serta memberikan informasi terkini terkait perkembangan aktivitas gempa di wilayah tersebut.
Pada akhirnya, meski tidak berpotensi tsunami, rentetan gempa susulan ini tetap menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat agar dampak yang lebih besar dapat dihindari.
