Jakarta Barat – Kenaikan harga plastik bak “gelombang panas” yang diam-diam membakar kantong pedagang kecil. Para penjual kopi keliling di kawasan Puri Kembangan kini harus memutar otak agar tetap bertahan di tengah lonjakan biaya operasional yang tiba-tiba melonjak tajam.
Lonjakan harga plastik yang mencapai sekitar 50 persen sejak awal April 2026 berdampak langsung pada pelaku usaha mikro, khususnya pedagang kopi keliling. Kenaikan ini meliputi harga gelas plastik, sedotan, hingga kantong kresek.
Peristiwa ini mulai dirasakan para pedagang pada Selasa (7/4/2026), ketika mereka harus membeli bahan kemasan dengan harga jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Meski demikian, para pedagang tetap mempertahankan harga jual, yakni Rp5.000 untuk kopi panas dan Rp8.000 untuk kopi es, demi menjaga daya beli pelanggan.
“Saya tidak menaikkan harga walaupun harga plastik naik sekitar 50 persen. Keuntungan memang jadi sedikit, tetapi demi menjaga pelanggan saya tetap bertahan,” ujar Erna, salah satu pedagang kopi keliling.
Keputusan untuk tidak menaikkan harga bukan tanpa risiko. Para pedagang kini harus rela menerima margin keuntungan yang semakin menipis. Dalam kondisi persaingan yang ketat, mereka khawatir kehilangan pelanggan jika harga dinaikkan, terlebih segmen pasar yang mereka layani sangat sensitif terhadap perubahan harga.
“Saya masih jual Rp5.000 untuk kopi biasa dan Rp8.000 untuk kopi pakai es. Tidak berani naikkan harga, takut pelanggan kabur. Mau tidak mau keuntungan jadi tipis, yang penting masih bisa berputar, alhamdulillah,” kata Siti, pedagang lainnya.
Kondisi ini diperparah oleh faktor eksternal yang memengaruhi pasokan bahan baku plastik secara global. Para pedagang menduga terganggunya distribusi bahan baku akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama lonjakan harga tersebut. Dampaknya, rantai pasok terganggu dan harga bahan baku mengalami kenaikan signifikan di tingkat pasar.
Di sisi lain, pelaku UMKM seperti pedagang kopi keliling berada di posisi paling rentan karena keterbatasan modal dan minimnya alternatif bahan kemasan yang lebih murah. Beberapa pedagang bahkan mulai mempertimbangkan penggunaan bahan alternatif, meskipun belum tentu praktis atau ekonomis dalam jangka pendek.
Kenaikan harga ini juga menambah tekanan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Tanpa intervensi atau solusi jangka pendek, dikhawatirkan banyak usaha kecil akan mengalami penurunan pendapatan bahkan gulung tikar.
Para pedagang berharap harga plastik segera kembali stabil agar usaha mereka tetap bisa berjalan. Stabilitas harga dinilai menjadi kunci agar roda ekonomi kecil tetap berputar di tengah berbagai tantangan global.
