Jakarta – Ambisi membangun jalan tol terpanjang di Indonesia kini ibarat mesin besar yang kehabisan bahan bakar. Proyek Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) yang semula digadang menjadi tulang punggung konektivitas selatan Pulau Jawa justru tersendat akibat minimnya pendanaan dan rendahnya ketertarikan investor.
Proyek sepanjang 206,65 kilometer ini hingga kini belum memasuki tahap konstruksi meski telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2020. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menjelaskan, salah satu faktor utama yang membuat investor enggan terlibat adalah proyeksi lalu lintas kendaraan yang dinilai kurang menjanjikan.
Hal tersebut berpengaruh langsung terhadap potensi keuntungan yang menjadi pertimbangan utama investor dalam proyek infrastruktur berskala besar.
“Biasanya kalau satu proyek yang kita tawarkan itu nggak banyak minatnya ya biasanya kan itu karena traffic-nya kurang,” kata Dody saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian PU, Jumat (10/4/2026).
Ia menambahkan, dalam kondisi tertentu pemerintah biasanya memberikan dukungan konstruksi atau chip in untuk meningkatkan daya tarik proyek. Namun, keterbatasan anggaran membuat opsi tersebut belum dapat dilakukan, sehingga proyek Getaci harus bersaing dengan kebutuhan pembangunan lain yang lebih mendesak.
“Kalau trafiknya kurang kan supaya tetap menarik kan pemerintah chip in. Dengan kemudian keterbatasan anggaran hari ini chip in-nya pemerintah akhirnya dipinggirkan,” ujarnya.
Alih-alih mengalokasikan dana untuk proyek tol tersebut, pemerintah kini memilih memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap masyarakat, terutama dalam penanganan banjir. Salah satu fokusnya adalah percepatan pembangunan Bendungan Cibeet dan Bendungan Cijurey yang berada di wilayah Jawa Barat.
Kedua bendungan tersebut ditargetkan dapat selesai secara bertahap pada periode 2027–2028, dengan harapan mampu mengurangi risiko banjir di kawasan Karawang, Bekasi, dan Bogor yang selama ini kerap terdampak.
“Saya sih berharap bisa selesai paling nggak 2027-2028 ya. Karena dengan mata kepala saya sendiri melihat, kalau itu nggak segera diselesaikan saya khawatir Karawang dan Bekasi banjir lagi,” paparnya.
Dalam catatan pemerintah, proyek Tol Getaci sendiri telah beberapa kali mengalami kegagalan dalam proses lelang. Saat ini, proyek tersebut masih dalam tahap peninjauan ulang sebelum kembali ditawarkan kepada investor. Kondisi serupa juga terjadi pada proyek Tol Gilimanuk–Mengwi di Bali yang juga belum berhasil menarik minat investor meski memiliki nilai investasi besar.
Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PU, Rachman Arief Dienaputra, sebelumnya menyebutkan bahwa sejumlah proyek jalan tol berbasis skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) masih dalam tahap persiapan ulang. Pemerintah tengah menyusun strategi baru agar proyek-proyek tersebut lebih kompetitif dan menarik di mata investor.
Situasi ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur besar tidak hanya bergantung pada perencanaan, tetapi juga pada kelayakan ekonomi dan daya tarik investasi. Tanpa dukungan pendanaan yang kuat, ambisi besar seperti Tol Getaci berpotensi terus tertunda, meski memiliki peran strategis dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah di Indonesia.
