Jakarta – “Laut yang tenang belum tentu membawa kabar damai.” Kalimat itu seolah menggambarkan situasi di kapal pesiar MV Hondius yang kini menjadi sorotan dunia setelah muncul klaster Hantavirus mematikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai mengungkap tabir penyebaran virus tersebut, memunculkan dugaan bahwa penularan tidak hanya berasal dari lingkungan, melainkan kemungkinan terjadi antar penumpang selama pelayaran berlangsung.
Perkembangan terbaru kasus ini diumumkan WHO dalam laporan Disease Outbreak News (DONs) tertanggal Jumat (8/5/2026). Laporan tersebut memuat hasil investigasi awal terhadap wabah penyakit pernapasan berat (severe respiratory illness) yang dilaporkan sejak Jumat (2/5/2026).
Hingga kini, enam orang dipastikan terinfeksi Hantavirus jenis Andes virus (ANDV) berdasarkan pemeriksaan PCR dan sekuensing, sementara dua lainnya masih masuk kategori probable case. Dengan demikian, total delapan kasus terkait kapal pesiar itu tengah dipantau otoritas kesehatan internasional.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menyebut situasi ini menjadi perhatian serius komunitas medis global karena tingkat fatalitas penyakit tergolong tinggi.
“Per tanggal 8 Mei kemarin sudah ada enam kasus terkonfirmasi secara laboratorium dan semuanya adalah Hantavirus jenis Andes virus sesuai hasil pemeriksaan PCR atau sekuensing,” kata Tjandra dalam keterangannya pada Sabtu (9/5/2026).
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan setelah tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Artinya, tingkat kematian kasus atau case fatality ratio mendekati 38 persen, angka yang dinilai cukup tinggi untuk penyakit infeksi dengan penyebaran yang masih ditelusuri.
“Jadi angka kematiannya hampir 40 persen. Ini tentu cukup tinggi dan mengkhawatirkan,” ujarnya.
Investigasi WHO kini mengarah pada dugaan bahwa pasien pertama kemungkinan telah terpapar virus sebelum naik ke kapal pesiar, diduga saat berada di wilayah Argentina dan Chile. Paparan lingkungan, terutama dari hewan pengerat pembawa virus, menjadi hipotesis awal yang tengah dikaji lebih lanjut.
“Kasus pertama nampaknya sangat mungkin terinfeksi Hantavirus sebelum naik ke kapal pesiar melalui paparan lingkungan saat berada di Argentina dan Chile,” katanya.
Namun, perhatian para ahli tertuju pada pola penyebaran kasus berikutnya. Andes virus diketahui sebagai salah satu varian Hantavirus langka yang dalam kondisi tertentu dapat menular antarmanusia, berbeda dari sebagian besar Hantavirus lain yang umumnya hanya berpindah dari tikus ke manusia melalui urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat.
Kasus ini juga menjadi lebih kompleks karena pasien terkait wabah telah berpindah ke sejumlah negara. WHO mencatat beberapa pasien telah dievakuasi dari Cabo Verde menuju Belanda, sementara lainnya tersebar di Afrika Selatan, Swiss, hingga Jerman. Seorang pasien yang sempat diperiksa di Jerman dipastikan negatif setelah hasil PCR dan serologi tidak menunjukkan infeksi Hantavirus.
Di tengah investigasi tersebut, seorang awak kabin maskapai penerbangan internasional sempat menjalani observasi setelah melakukan kontak dengan pasien. Meski begitu, hasil pemeriksaan laboratorium terbaru menunjukkan hasil negatif sehingga tidak masuk kategori kasus.
Kewaspadaan regional juga mulai diperkuat mengingat terdapat warga negara ASEAN, termasuk dari Filipina dan Singapura, yang berada di kapal pesiar itu. Hingga kini memang belum ditemukan indikasi penyebaran luas di Asia Tenggara, tetapi pemantauan terhadap kontak erat tetap berlangsung sebagai langkah antisipatif.
Kasus Hantavirus di MV Hondius menjadi pengingat bahwa mobilitas global dapat mempercepat tantangan kesehatan lintas negara. Sambil menunggu hasil investigasi epidemiologi WHO, dunia kesehatan kini memusatkan perhatian pada satu pertanyaan besar: apakah Andes virus benar-benar menyebar antar manusia di tengah pelayaran panjang tersebut.
