Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ferry Pimpin Syarikat Islam, Hamdan Ketua Dewan Pusat

Cegah Karhutla Berulang, PKS Kaltim Bergerak

KH Syukron Ma’mun Wafat, Warisan Dakwahnya Abadi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 20 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?

Menanam pohon, mengurangi pestisida, menjaga ruang hijau, menyediakan sumber air, serta mengurangi polusi cahaya merupakan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat.
Alfi SalamahAlfi Salamah10 Juli 2026 Lingkungan
Burung
Ilustrasi burung yang hidup di pusat kota
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pernahkah Anda merasa suasana pagi di kota kini terasa berbeda dibandingkan belasan atau puluhan tahun lalu? Dulu, kicauan burung menjadi suara yang hampir selalu menyambut datangnya matahari. Burung gereja bertengger di kabel listrik, burung kutilang bernyanyi di pepohonan, sementara burung-burung kecil beterbangan di halaman rumah. Kini, pemandangan seperti itu semakin sulit ditemukan di banyak kota.

Fenomena berkurangnya burung di kawasan perkotaan bukan sekadar perasaan atau nostalgia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa populasi burung di banyak wilayah dunia memang mengalami penurunan. Penyebabnya tidak hanya satu, melainkan gabungan dari perubahan lingkungan, pembangunan kota, polusi, hingga perubahan iklim.

Lantas, mengapa burung di kota semakin jarang terlihat? Dan apa dampaknya bagi manusia?

Burung Sangat Bergantung pada Habitatnya

Setiap spesies burung memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada yang hidup di hutan, rawa, persawahan, mangrove, atau taman kota. Namun semuanya memiliki kesamaan: membutuhkan tempat untuk mencari makan, bersarang, berkembang biak, dan berlindung dari predator.

Ketika kota berkembang pesat, banyak ruang hijau berubah menjadi kawasan permukiman, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga jalan raya. Pepohonan besar ditebang, semak-semak dibersihkan, dan lahan kosong berubah menjadi beton.

Bagi manusia, perubahan itu mungkin dianggap sebagai tanda kemajuan. Namun bagi burung, hilangnya vegetasi berarti hilangnya rumah.

Pohon Bukan Sekadar Penghias Kota

Banyak orang menganggap pohon hanya berfungsi memperindah lingkungan atau memberikan keteduhan. Padahal, bagi burung, pohon adalah tempat hidup.

Di satu pohon besar, burung dapat menemukan makanan berupa buah, biji, nektar, maupun serangga. Cabang-cabangnya menjadi tempat bertengger, sedangkan dedaunan melindungi sarang dari panas dan hujan.

Semakin sedikit pohon yang tersedia, semakin kecil pula peluang burung untuk bertahan hidup di kawasan perkotaan.

Tidak mengherankan jika taman kota yang dipenuhi pepohonan umumnya memiliki keanekaragaman burung yang lebih tinggi dibanding kawasan yang didominasi bangunan dan aspal.

Polusi Suara Membuat Burung Sulit Berkomunikasi

Burung menggunakan suara untuk banyak hal, mulai dari menarik pasangan, mempertahankan wilayah, hingga memberi peringatan ketika ada bahaya.

Sayangnya, kota modern dipenuhi suara kendaraan, mesin, proyek konstruksi, hingga aktivitas manusia sepanjang hari.

Kebisingan tersebut membuat burung harus berkicau lebih keras atau mengubah frekuensi suaranya agar tetap dapat didengar oleh sesamanya. Tidak semua spesies mampu beradaptasi dengan kondisi ini.

Baca Juga:
  • Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang
  • Pupuk Kaltim Menangkan Penghargaan AREA 2023: Inovasi Kitosan Cair Limbah Cangkang Rajungan
  • Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya
  • KLH Dorong Pembatasan Impor Plastik Virgin Demi Kurangi Sampah

Sebagian akhirnya memilih meninggalkan kawasan perkotaan yang terlalu bising.

Cahaya Buatan Mengganggu Kehidupan Burung

Lampu jalan, papan reklame digital, gedung bertingkat, dan penerangan kota membuat malam tidak lagi benar-benar gelap.

Polusi cahaya mengganggu ritme biologis banyak spesies burung, terutama burung yang bermigrasi pada malam hari. Mereka mengandalkan cahaya alami bulan dan bintang sebagai penunjuk arah.

Ketika langit dipenuhi cahaya buatan, burung dapat kehilangan orientasi, bertabrakan dengan gedung, atau kehabisan energi karena terbang ke arah yang salah.

Fenomena ini telah menjadi perhatian para peneliti di berbagai negara.

Serangga Berkurang, Burung Kehilangan Makanan

Banyak jenis burung kecil memakan serangga sebagai sumber protein utama.

Namun penggunaan pestisida, berkurangnya lahan hijau, serta perubahan iklim menyebabkan populasi serangga di banyak tempat ikut menurun.

Akibatnya, burung semakin sulit memperoleh makanan, terutama saat musim berkembang biak ketika mereka harus memberi makan anak-anaknya.

Hubungan ini menunjukkan bahwa penurunan populasi burung tidak dapat dipisahkan dari menurunnya keanekaragaman hayati secara keseluruhan.

Kaca Gedung Menjadi Ancaman yang Tidak Terlihat

Gedung-gedung modern dengan dinding kaca memang terlihat indah bagi manusia.

Namun bagi burung, pantulan langit atau pepohonan pada kaca sering dianggap sebagai ruang terbuka. Akibatnya, burung terbang dengan kecepatan tinggi dan menabrak permukaan kaca.

Di berbagai negara, jutaan burung diperkirakan mati setiap tahun akibat tabrakan dengan bangunan berkaca.

Artikel Terkait:
  • DPR Desak Pemulihan Tambang Nikel Usai Izin Dicabut
  • Bakar Batu Papua, Lebih dari Sekadar Memasak
  • Indonesia-Gold Standard Akui Sertifikat Karbon Secara Timbal Balik
  • Greenpeace: Tambang Nikel Gag Ancam Keanekaragaman Hayati

Desain bangunan yang lebih ramah burung mulai dikembangkan sebagai salah satu solusi untuk mengurangi risiko tersebut.

Perubahan Iklim Ikut Memengaruhi Populasi Burung

Perubahan suhu global mengubah waktu berbunga tanaman, musim berbuah, hingga kemunculan serangga.

Ketika sumber makanan datang lebih cepat atau lebih lambat dibanding musim berkembang biak burung, keseimbangan ekosistem menjadi terganggu.

Beberapa spesies mampu beradaptasi, tetapi banyak pula yang mengalami penurunan populasi karena kesulitan memperoleh makanan pada waktu yang tepat.

Mengapa Kehilangan Burung Perlu Diwaspadai?

Burung bukan hanya penghuni langit yang memperindah suasana.

Mereka memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Burung pemakan serangga membantu mengendalikan populasi hama secara alami. Burung pemakan buah berperan menyebarkan biji sehingga membantu regenerasi hutan dan ruang hijau. Sementara beberapa spesies membantu proses penyerbukan tanaman.

Ketika populasi burung menurun, fungsi-fungsi ekologis tersebut ikut melemah.

Karena itulah para ilmuwan sering menjadikan burung sebagai salah satu indikator kesehatan lingkungan. Jika keanekaragaman burung terus berkurang, besar kemungkinan kualitas ekosistem di wilayah tersebut juga sedang menurun.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?

Menjaga populasi burung tidak selalu memerlukan langkah besar. Berbagai tindakan sederhana dapat memberikan dampak positif jika dilakukan secara konsisten.

Beberapa di antaranya adalah:

Jangan Lewatkan:
  • BMKG Ingatkan Hujan Lebat 15-21 Februari
  • BNPB Tolak Bantuan Asing, Penanganan Karhutla Dianggap Masih Terkendali
  • Indonesia Dinilai Kurang Serius Atasi Polusi Plastik
  • Gubernur Elisa Sebut Warga Tolak Penutupan Tambang Nikel Gag
  • Menanam pohon dan tanaman berbunga di halaman atau lingkungan sekitar.
  • Mengurangi penggunaan pestisida yang membunuh serangga bermanfaat.
  • Menyediakan sumber air bersih bagi burung, terutama saat musim kemarau.
  • Mengurangi penebangan pohon yang menjadi lokasi bersarang.
  • Mematikan lampu luar ruangan yang tidak diperlukan pada malam hari.
  • Mendukung pembangunan kota yang menyediakan ruang terbuka hijau.

Semakin banyak habitat yang tersedia, semakin besar peluang burung untuk kembali menghuni kawasan perkotaan.

Kota yang Ramah Burung adalah Kota yang Ramah Manusia

Kehadiran burung bukan sekadar pelengkap pemandangan. Suara kicauan mereka mampu meningkatkan kenyamanan lingkungan, mengurangi stres, dan menjadi penanda bahwa ekosistem masih bekerja dengan baik.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan ruang hijau dan keanekaragaman hayati cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibanding mereka yang hidup di kawasan yang minim vegetasi.

Karena itu, menjaga burung sesungguhnya bukan hanya tentang melindungi satwa liar. Upaya tersebut juga merupakan investasi untuk menciptakan kota yang lebih sehat, lebih nyaman, dan lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Burung Perkotaan Keanekaragaman Hayati Konservasi Burung Lingkungan Ruang Terbuka Hijau
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKenapa Kita Sering Lelah Padahal Tidur Sudah Cukup?
Next Article Mengenang Rachmat Gobel, Putra Bangsa yang Mendedikasikan Hidup bagi Industri dan Negeri

Informasi lainnya

Cegah Karhutla Berulang, PKS Kaltim Bergerak

19 Oktober 2026

Asap Karhutla Menggila, Udara Kalimantan Berbahaya!

14 Oktober 2026

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

25 September 2026

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

11 September 2026

Ketika Langit Kelabu Mengubah Kehidupan

11 September 2026

Anak Krakatau, Pengingat dari Negeri Cincin Api

9 September 2026
Paling Sering Dibaca

Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Dunia

Editorial Udex Mundzir

Marie Kondo: Menata Barang, Menemukan Kebahagiaan

Biografi Alfi Salamah

Poligami dalam Islam: Syarat, Larangan, dan Langkah Persiapan

Islami Udex Mundzir

Prabowo Akan Kehilangan Kesempatan Emas

Editorial Udex Mundzir

Husodo Angkosubroto: Nahkoda Gunung Sewu Group

Profil Ericka
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Asap Karhutla Menggila, Udara Kalimantan Berbahaya!

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Martha Tilaar Wafat, Wariskan Kecantikan Nusantara

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi