Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

BEM UI Turun ke Bundaran HI, Soroti Ekonomi dan APBN

Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 14 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Prabowo Lebih Pro pada Koruptor

Ketika simpati lebih banyak diberikan pada keluarga koruptor, keadilan pun kehilangan arah.
Udex MundzirUdex Mundzir11 April 2025 Editorial
Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Presiden Prabowo Subianto membuat pernyataan yang mengejutkan banyak pihak. Dalam komentarnya tentang penyitaan aset koruptor, ia mengatakan bahwa penyitaan itu memang pantas dilakukan untuk mengembalikan kerugian negara.

Namun ia juga menambahkan, “kita harus adil kepada anak dan istrinya.” Sepintas, kalimat ini terdengar manusiawi. Tetapi jika ditelusuri lebih dalam, justru menunjukkan arah keberpihakan yang salah dan merusak semangat pemberantasan korupsi.

Kata-kata pemimpin negara adalah kebijakan yang sedang menunggu waktu untuk dijalankan. Ketika seorang presiden menyampaikan empati kepada keluarga koruptor—bukan kepada rakyat yang menjadi korban utama dari praktik kejahatan tersebut—maka hal itu bukan lagi sekadar retorika.

Ia bisa menjadi justifikasi kebijakan di masa depan yang mempermudah pelaku kejahatan kerah putih lolos dari hukuman sosial.

Pernyataan ini datang di tengah suasana publik yang frustrasi dengan ketimpangan perlakuan hukum. Rakyat menyaksikan dengan mata kepala sendiri: seorang pengusaha kecil bisa dijebloskan ke penjara karena tidak setor pajak beberapa juta rupiah.

Di sisi lain, koruptor yang merampok ratusan miliar justru masih bisa menikmati fasilitas rumah mewah, perlindungan hukum, bahkan dukungan moral dari para elit.

Kini, dengan narasi empati terhadap keluarganya, makin kaburlah batas antara pelaku dan korban dalam sistem hukum kita.

Pertanyaannya: sejak kapan negara ini lebih peduli kepada kenyamanan keluarga pencuri uang negara ketimbang pada penderitaan jutaan rakyat yang menjadi korban ketidakadilan struktural akibat korupsi?

Anak-anak yatim yang tidak mendapat layanan kesehatan layak. Janda miskin yang ditolak rumah sakit karena tak mampu bayar. Petani yang gagal panen karena tak ada irigasi. Siswa miskin yang putus sekolah karena ketiadaan beasiswa.

Semua ini adalah dampak dari sistem yang rusak karena korupsi.

Jangan salah, hukum tidak pernah menyalahkan anak atau istri koruptor hanya karena mereka adalah keluarga.Tapi jika mereka turut menikmati, menyimpan, bahkan membela kekayaan haram tersebut, maka mereka bukan hanya keluarga, tapi bagian dari sistem kejahatan itu sendiri.

Perempuan yang menjadi istri dari pejabat korup, lalu membeli tas ratusan juta rupiah dari rekening yang tidak jelas asalnya, tidak bisa semata-mata dianggap korban.

Baca Juga:
  • Sekolah Bukan Mesin Hafalan
  • Pers Dibelenggu, Demokrasi Tercekik
  • Menakar Usia Ideal Penggunaan HP bagi Anak
  • Langkah Utang Pemerintah di Akhir 2024

Begitu pula anak yang bisa sekolah di luar negeri karena kiriman dana dari harta korupsi ayahnya. Ia tidak bisa disamakan dengan anak tukang becak yang harus putus sekolah karena tidak ada biaya.

Lebih jauh lagi, sikap lunak terhadap pelaku dan keluarga koruptor tidak hanya mencederai rasa keadilan. Tapi juga membahayakan tatanan etika publik.

Korupsi adalah kejahatan luar biasa yang merusak masa depan bangsa. Ia bukan hanya pencurian dana. Tetapi perusakan sistem, pencemaran moral, dan pengkhianatan terhadap mandat rakyat.

Ketika para elit mulai merelatifkan dampaknya dengan dalih “kasihan anak dan istrinya,” maka kita harus bertanya: siapa sebenarnya yang sedang dibela?

Kemarahan publik di media sosial pun tak terbendung. Warga menumpahkan kekecewaan dan sinisme terhadap ucapan Prabowo.

Komentar seperti “lebih kasihan rakyat yang bayar pajak daripada anak koruptor” muncul berulang kali.

Yang lebih menyakitkan, sebagian warga merasa bahwa negara kini justru melunak kepada koruptor. Sementara semakin keras terhadap rakyat kecil.

Seperti kata salah satu netizen: “Motor bisa disita karena pajak, tapi anak koruptor dilindungi.”

Di masa kampanye, Prabowo pernah berjanji akan memberantas korupsi sampai ke ujung dunia.

Tapi kini, setelah berada di kursi kuasa, narasinya melunak. Ia ingin memberi kesempatan koruptor “mengembalikan uangnya,” seolah negara ini sedang membuka diskon dan pengampunan untuk pelaku kejahatan besar.

Bahkan jika niatnya baik—yakni mendorong pengembalian kerugian negara—kenapa harus dibungkus dengan empati berlebih kepada keluarga koruptor?

Jangan lupa, kita pernah menyaksikan preseden buruk ketika para koruptor dipulangkan dari luar negeri hanya untuk dikembalikan dengan hukuman ringan.

Artikel Terkait:
  • Paradoks Pembangunan Desa
  • Narasi Globalis dan Politik Ketakutan
  • Jangan Goyang Pemerintah Sah
  • UMP 2025: Melampaui Angka, Memahami Kebutuhan

Atau dibebaskan karena alasan kesehatan.

Ketika empati digunakan sebagai alasan untuk melemahkan ketegasan hukum, maka seluruh pondasi pemberantasan korupsi bisa runtuh.

Apa bedanya kita dengan negara-negara gagal yang menjadikan hukum sebagai alat melindungi elit?

Narasi ini juga mencerminkan kesinambungan dari gaya kepemimpinan era Jokowi: menampilkan empati selektif, pencitraan emosional, namun melupakan keadilan struktural.

Kita tahu, selama 10 tahun terakhir, pemberantasan korupsi terus dilemahkan—mulai dari revisi UU KPK, kriminalisasi aktivis antikorupsi, hingga pelemahan institusi penegak hukum.

Kini, alih-alih memperbaiki semua itu, Prabowo malah mewarisi taktik lunak terhadap pelaku korupsi. Ia mengulang strategi lama: mengemas kelemahan sebagai welas asih.Tentu saja kita menolak pendekatan semacam itu.

Negara tidak boleh bersikap lunak terhadap koruptor dan keluarganya. Negara harus tegas menegakkan keadilan.

Itu termasuk menyita seluruh hasil kejahatan, bahkan jika dinikmati oleh istri atau anak sekalipun.

Keadilan tidak mengenal belas kasihan terhadap pelaku kejahatan besar.

Jika Prabowo ingin meninggalkan warisan yang baik sebagai presiden, maka ia harus memulihkan kepercayaan rakyat terhadap sistem hukum.

Jangan Lewatkan:
  • Apa yang Sebenarnya Disembunyikan dari Dana Desa?
  • Raja Kecil di Birokrasi, Prabowo Gertak Sambal?
  • Meski Terlambat, Tetap Harus Dipercepat
  • Pemerintahan Indonesia Masih Menggunakan Manajemen Penjajah

Caranya bukan dengan menunjukkan empati terhadap keluarga koruptor. Tetapi dengan memastikan bahwa hukum ditegakkan seadil-adilnya, setegas-tegasnya, dan setransparan-transparannya.

Dan jika ia tidak mampu mewujudkan itu, maka sejarah akan mencatatnya bukan sebagai pemimpin yang membawa perubahan.

Melainkan sebagai penguasa yang melanjutkan pelanggengan kekuasaan dengan melindungi koruptor atas nama keadilan semu.

Editorial Nasional Empati Elit Keadilan Sosial Korupsi Indonesia Prabowo Subianto
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSekda Kukar Lepas Purna Tugas Sekretaris BPBD Edy Mardian
Next Article Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar

Informasi lainnya

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Syarat dan Cara Membuat SKCK Menurut Polri untuk WNA dan WNI

Happy Alfi Salamah

Maulid Nabi dan Pemberian Sosial, Menghidupkan Semangat Kepedulian

Islami Alfi Salamah

Prabowo Lebih Pro pada Koruptor

Editorial Udex Mundzir

Menggali Kearifan Ramadan, Meningkatkan Akhlak dan Kepedulian

Islami Alfi Salamah

Marie Kondo: Menata Barang, Menemukan Kebahagiaan

Biografi Alfi Salamah
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Aturan Baru SD: Tak Wajib Usia 7 Tahun

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi