Jakarta – Seperti pusaran raksasa yang berputar di kejauhan, kemunculan Siklon Tropis NURI di Samudra Pasifik utara Papua memicu kewaspadaan baru terhadap cuaca ekstrem di wilayah timur Indonesia. Fenomena atmosfer ini terdeteksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan diperkirakan memengaruhi kondisi cuaca di sejumlah daerah.
BMKG menjelaskan, Siklon Tropis NURI berkembang dari bibit siklon tropis 95W dan resmi mencapai intensitas siklon tropis pada Selasa (10/3/2026) pukul 18.00 UTC atau Rabu (11/3/2026) pukul 01.00 WIB. Sistem ini terpantau berada di wilayah Samudra Pasifik bagian utara Papua dan diprediksi bergerak ke arah timur laut, menjauhi wilayah Indonesia.
“Siklon Tropis NURI berkembang dari Bibit Siklon Tropis 95W dan mencapai intensitas siklon tropis pada 10 Maret 2026 pukul 18 UTC (11 Maret 2026 pukul 01.00 WIB), saat ini posisi berada di Samudra Pasifik utara Papua,” tulis BMKG melalui akun Instagram resminya pada Rabu (11/3/2026).
Meskipun pusat siklon bergerak menjauh dari Indonesia, BMKG menegaskan bahwa sistem ini tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di beberapa wilayah. Dampak tersebut terutama berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta peningkatan tinggi gelombang laut di sejumlah perairan.
“Keberadaan sistem tersebut memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi hujan dan perairan Indonesia, terutama berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dan juga peningkatan tinggi gelombang di beberapa wilayah,” lanjut BMKG.
Berdasarkan analisis cuaca terbaru, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di beberapa wilayah Indonesia timur. Daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, serta wilayah Papua.
Selain curah hujan yang meningkat, aktivitas siklon ini juga memicu kenaikan tinggi gelombang di sejumlah perairan.
Gelombang dengan ketinggian sekitar 1,25 hingga 2,5 meter atau kategori moderate sea berpotensi terjadi di Perairan Kepulauan Sangihe hingga Talaud, Laut Maluku, serta Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya hingga Papua.
Sementara itu, gelombang yang lebih tinggi dengan kisaran 2,5 hingga 4 meter atau rough sea diperkirakan muncul di wilayah Samudra Pasifik utara Maluku. Kondisi ini berpotensi memengaruhi aktivitas pelayaran dan perikanan di kawasan tersebut.
BMKG menyebutkan bahwa dampak tidak langsung dari Siklon Tropis NURI diperkirakan berlangsung dalam 24 jam ke depan hingga Kamis (12/3/2026) pukul 07.00 WIB. Masyarakat, terutama yang berada di wilayah pesisir dan pelaku aktivitas laut, diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
Selain itu, nelayan dan operator transportasi laut diimbau untuk memperhatikan perkembangan informasi cuaca dari BMKG sebelum melakukan aktivitas di perairan terbuka. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan akibat gelombang tinggi maupun cuaca buruk.
Dengan dinamika atmosfer yang terus berubah, BMKG menegaskan bahwa pemantauan terhadap perkembangan Siklon Tropis NURI akan terus dilakukan secara intensif. Informasi terbaru mengenai potensi dampak cuaca akan diperbarui secara berkala untuk membantu masyarakat mengantisipasi kemungkinan risiko yang muncul.
