Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 24 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Udex MundzirUdex Mundzir22 Juni 2026 Opini
Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian
Ilustrasi AI
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kepastian sedang menjadi barang mewah. Di tengah kehidupan demokrasi yang semakin terbuka, masyarakat memiliki akses lebih besar untuk bertanya, mengkritik, dan mengawasi jalannya pemerintahan. Namun ada satu persoalan yang terus berulang dalam ruang publik Indonesia: pertanyaan sering muncul lebih cepat daripada jawaban yang mampu diberikan negara.

Ketika sebuah kebijakan diperdebatkan, masyarakat menunggu kepastian.

Ketika muncul dugaan pelanggaran hukum, masyarakat menunggu kepastian.

Ketika terdapat kontroversi mengenai dokumen, syarat jabatan, atau keputusan lembaga negara, masyarakat juga menunggu kepastian.

Sayangnya, kepastian sering datang terlambat. Bahkan dalam banyak kasus, yang datang bukan kepastian, melainkan perdebatan baru mengenai prosedur, kewenangan, dan tafsir hukum.

Padahal demokrasi tidak dibangun hanya untuk memberi ruang kebebasan berbicara. Demokrasi juga dibangun agar warga negara dapat memperoleh jawaban yang jelas atas persoalan yang menyangkut kepentingan publik.

Dalam praktiknya, jalan menuju kepastian sering kali jauh lebih panjang daripada yang dibayangkan rakyat.

Seseorang yang ingin menguji suatu kebijakan harus memahami jalur hukum yang tepat. Ia harus mengetahui lembaga mana yang berwenang. Ia harus memahami syarat formal yang berlaku. Ia harus menyiapkan waktu, biaya, tenaga, dan kesabaran yang tidak sedikit.

Belum lagi jika perkara tersebut melibatkan lembaga negara, pejabat publik, atau keputusan politik yang dampaknya dirasakan oleh jutaan orang.

Rakyat kemudian menemukan kenyataan yang pahit.

Dalam demokrasi modern, mencari kepastian sering kali membutuhkan sumber daya yang besar.

Kita dapat melihat gambaran tersebut dalam berbagai peristiwa yang pernah menjadi perhatian nasional.

Ketika Undang-Undang Cipta Kerja dipersoalkan oleh berbagai kelompok masyarakat, perdebatan berlangsung panjang. Demonstrasi terjadi di banyak daerah. Gugatan diajukan ke Mahkamah Konstitusi. Putusan akhirnya lahir setelah proses yang tidak singkat dan menyatakan undang-undang tersebut inkonstitusional bersyarat sebelum kemudian dilakukan perbaikan oleh pemerintah dan DPR.

Terlepas dari posisi politik masing-masing pihak, satu fakta sulit dibantah. Masyarakat membutuhkan waktu yang panjang untuk memperoleh kepastian mengenai status hukum sebuah kebijakan yang berdampak luas terhadap dunia kerja dan investasi.

Contoh lain dapat ditemukan dalam berbagai sengketa hasil pemilu yang berulang hampir setiap lima tahun.

Setiap kali pemilu selesai, muncul gugatan.

Muncul dalil.

Muncul bantahan.

Muncul pembuktian.

Muncul putusan.

Baca Juga:
  • Mantan Presiden Bikin Gaduh
  • Belajar dari Kegagalan, Tips Bangkit dari Kekalahan dengan Penuh Semangat
  • Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik
  • Koruptor Dimanja, Rakyat Dihukum Pajak

Proses tersebut memang merupakan bagian normal dari demokrasi. Namun bagi masyarakat yang berada di luar ruang sidang, kepastian baru hadir setelah seluruh tahapan itu selesai. Sebelum itu, ruang publik dipenuhi spekulasi, tuduhan, dan saling curiga.

Fenomena yang sama juga tampak dalam berbagai polemik yang melibatkan pejabat publik.

Ketika muncul dugaan mengenai suatu dokumen, syarat jabatan, atau keputusan administratif, masyarakat sering mengira bahwa jawaban dapat segera ditemukan melalui pengadilan. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Pertanyaan pertama yang muncul bukan apakah dugaan tersebut benar.

Pertanyaan pertama justru sering kali adalah siapa yang berwenang memeriksanya.

Apakah pengadilan umum?

Apakah pengadilan tata usaha negara?

Apakah Mahkamah Konstitusi?

Apakah lembaga administratif?

Apakah perkara tersebut masih dapat diajukan?

Apakah penggugat memiliki legal standing?

Sebelum kebenaran diperiksa, masyarakat terlebih dahulu disibukkan oleh perdebatan mengenai pintu masuk menuju proses pemeriksaan.

Di sinilah demokrasi menjadi mahal.

Bukan hanya mahal karena biaya penyelenggaraan pemilu yang mencapai puluhan triliun rupiah.

Bukan hanya mahal karena biaya operasional lembaga negara.

Demokrasi menjadi mahal karena rakyat harus mengeluarkan energi yang besar hanya untuk mengetahui bagaimana sebuah persoalan dapat diuji secara sah.

Biaya tersebut tidak selalu berupa uang.

Ada biaya waktu.

Ada biaya psikologis.

Ada biaya sosial.

Artikel Terkait:
  • Tips Temukan Passion dan Bakat ala Remaja Masa Kini
  • Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?
  • Pramuka Cisayong, Saatnya Bergerak
  • Dapur Rapi, Pikiran Tertata

Ada biaya kepercayaan.

Ketika suatu persoalan berlarut-larut tanpa kepastian, masyarakat mulai lelah menunggu.

Ketika jawaban tidak kunjung datang, ruang kosong itu akan diisi oleh opini.

Ketika opini mengambil alih ruang kepastian, polarisasi menjadi semakin mudah tumbuh.

Akibatnya, masyarakat tidak lagi berdebat mengenai fakta. Mereka berdebat mengenai keyakinan masing-masing.

Padahal fungsi utama negara hukum adalah menyediakan mekanisme yang mampu mengubah dugaan menjadi fakta dan mengubah perdebatan menjadi kepastian.

Dari perspektif pendidikan, situasi ini menunjukkan bahwa demokrasi tidak cukup hanya diajarkan sebagai hak memilih dalam pemilu. Demokrasi juga harus dipahami sebagai kemampuan negara menyediakan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan publik.

Generasi muda perlu memahami bahwa demokrasi bukan sekadar mencoblos lima tahun sekali. Demokrasi adalah kemampuan institusi negara bekerja secara transparan, akuntabel, dan dapat dipahami masyarakat.

Dari perspektif kebudayaan, kepastian hukum memiliki nilai yang sangat penting. Masyarakat Indonesia memiliki tradisi musyawarah yang kuat. Dalam musyawarah, perbedaan pendapat memang biasa terjadi. Namun pada akhirnya selalu ada keputusan yang dapat diterima bersama sebagai pegangan.

Ketika kepastian sulit diperoleh, masyarakat kehilangan pegangan tersebut.

Mereka hidup dalam ruang yang dipenuhi tanda tanya.

Mereka mendengar banyak pernyataan.

Mereka menyaksikan banyak perdebatan.

Tetapi mereka tidak mendapatkan jawaban yang cukup meyakinkan untuk mengakhiri keraguan.

Demokrasi yang sehat seharusnya tidak membuat rakyat terus-menerus menebak.

Demokrasi yang sehat seharusnya mampu menjelaskan.

Mampu memeriksa.

Jangan Lewatkan:
  • Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan
  • Jangan-Jangan Semua Kampus Seperti UI?
  • Investasi Milenial Kini dan Masa Depan
  • Kalau Tidak Viral, Mana Mau Kalian Membantu?

Mampu membuktikan.

Mampu memutuskan.

Dan yang paling penting, mampu memberikan kepastian dalam waktu yang masuk akal.

Karena pada akhirnya, rakyat tidak meminta semua persoalan selesai dalam semalam.

Rakyat hanya ingin mengetahui bahwa ketika sebuah pertanyaan diajukan, negara memiliki kemampuan untuk menjawabnya.

Jika untuk memperoleh kepastian saja masyarakat harus melewati jalan yang terlalu panjang, terlalu rumit, dan terlalu mahal, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya hasil akhirnya.

Yang perlu dievaluasi adalah apakah sistem demokrasi yang dibangun benar-benar memudahkan rakyat memperoleh jawaban, atau justru membuat kepastian menjadi kemewahan yang hanya bisa dicapai setelah perjalanan yang melelahkan.

Demokrasi Keadilan KepastianHukum NegaraHukum PolitikIndonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleNegeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan
Next Article Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Informasi lainnya

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

21 Juni 2026

Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur

20 Juni 2026

Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet

19 Juni 2026

Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

19 Juni 2026

Negara Hukum yang Pengadilannya Banyak, tapi Sulit Mencari Keadilan

18 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Marie Kondo: Menata Barang, Menemukan Kebahagiaan

Biografi Alfi Salamah

Waspadai, Purbaya Anak Buah Luhut

Editorial Udex Mundzir

Vonis Sepotong, Keadilan Cacat

Editorial Udex Mundzir

Valentina Vassilyeva: Ibu dengan Anak Terbanyak dalam Sejarah

Biografi Silva

Gratis Ongkir Dibatasi, Saatnya Bisnis Logistik Lebih Sehat

Bisnis Ericka
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Pramuka SMKN 3 Bone Gelar Laga Palang 2026

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi