Bandung – Selisih beberapa ribu rupiah mungkin terlihat kecil saat membeli satu barang. Namun bagi keluarga yang harus mengatur beras, minyak goreng, bawang, daging, dan kebutuhan dapur sepanjang bulan, setiap penurunan harga dapat berarti ruang tambahan dalam anggaran rumah tangga.
Bazar Murah Utama atau Bazmut Kota Bandung yang berlangsung 31 Agustus hingga 11 September 2026 hadir di 30 kecamatan dengan menawarkan sejumlah kebutuhan pokok di bawah harga acuan atau harga yang biasa ditemui masyarakat. Program Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung itu digelar bertahap selama 10 hari dengan tiga kecamatan menjadi lokasi kegiatan setiap harinya.
Komoditas yang disediakan antara lain beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), MinyaKita, daging sapi, daging ayam beku, bawang merah, serta bawang putih. Pemerintah Kota Bandung menjadikan bazar murah sebagai salah satu instrumen untuk menjaga keterjangkauan pangan sekaligus menahan tekanan inflasi.
Lalu, seberapa besar warga sebenarnya dapat menghemat?
Untuk beras SPHP, Disdagin mencatat harga pada Bazmut sebesar Rp58.000 per kemasan lima kilogram. Angka tersebut Rp4.545 lebih rendah dibandingkan harga eceran tertinggi yang disebut Disdagin sebesar Rp62.545 untuk ukuran yang sama.
Dengan perbandingan itu, penghematan beras mencapai sekitar 7,3 persen untuk setiap kemasan lima kilogram. Jika sebuah rumah tangga membeli dua kemasan atau 10 kilogram, selisihnya secara matematis mencapai Rp9.090 dibandingkan membeli pada batas harga Rp62.545 per lima kilogram.
MinyaKita pada bazar tersebut dipasarkan Rp15.500 per liter. Sementara Kementerian Perdagangan hingga Juni 2026 masih mempertahankan Harga Eceran Tertinggi MinyaKita sebesar Rp15.700 per liter.
Selisihnya memang hanya Rp200 per liter jika dibandingkan HET. Namun harga bazar setidaknya memastikan masyarakat memperoleh minyak goreng pada tingkat yang tidak melampaui batas harga pemerintah.
Perbedaan lebih terasa pada beberapa komoditas lain. Disdagin mencatat bawang merah dan bawang putih dijual sekitar Rp15.000 per setengah kilogram atau setara Rp30.000 per kilogram, sementara harga di pasar pada saat program berlangsung disebut sudah bergerak di atas Rp30.000 per kilogram.
Daging sapi ditawarkan sekitar Rp72.000 per setengah kilogram atau setara Rp144.000 per kilogram. Daging ayam beku dijual sekitar Rp38.000 dengan bobot berkisar 0,8 hingga 0,9 kilogram.
Harga tersebut memperlihatkan bahwa istilah “murah” tidak selalu berarti seluruh komoditas memiliki potongan yang sama besar. Nilai ekonominya bergantung pada jenis barang, harga pasar ketika pembelian dilakukan, jumlah yang dibeli, dan kebutuhan masing-masing rumah tangga.
Kepala Bidang Distribusi dan Perdagangan Pengawasan Kemetrologian Disdagin Kota Bandung, Meiwan Kartiwa, mengatakan Bazmut dirancang untuk membawa bahan kebutuhan pokok lebih dekat kepada warga sekaligus menjadi bagian dari pengendalian inflasi.
“Bazar Murah ini adalah salah satu tugas kami atau program kami dari Disdagin, yaitu bagaimana kita dalam upaya pengendalian inflasi, kemudian juga membantu warga masyarakat untuk mendapatkan berbagai macam barang kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau dan lebih mendekatkan kepada mereka,” kata Meiwan dalam Sonata Talkshow bersama Radio Sonata dan PRFM di Bandung (1/9/26).
Bagi masyarakat, manfaat bazar tidak hanya berada pada angka di label harga. Lokasi yang dibawa ke tingkat kecamatan juga dapat mengurangi ongkos perjalanan warga untuk mencari pangan dengan harga lebih rendah.
Di Kecamatan Astanaanyar, misalnya, warga mengaku menemukan salah satu produk dengan harga sekitar Rp12.000 per kilogram. Produk serupa disebut dijual di pasar sekitar Rp14.000 hingga Rp14.600 per kilogram.
Jika menggunakan perbandingan tersebut, selisih harga mencapai Rp2.000 hingga Rp2.600 setiap kilogram. Itu setara penghematan sekitar 14 hingga 18 persen, meski besar penghematan yang diterima setiap warga tentu bergantung pada produk serta volume pembelian.
“Ya, murah, harganya terjangkau untuk masyarakat kecil seperti saya,” kata warga Astanaanyar, Ani Maryani, saat berbelanja pada Bazar Murah Utama di Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung (1/9/26) lalu.
Kesaksian warga tersebut penting karena tujuan program pangan murah pada akhirnya tidak hanya diukur dari banyaknya titik pelaksanaan. Pertanyaannya adalah apakah harga yang tersedia benar-benar memberikan perbedaan pada pengeluaran rumah tangga.
Tekanan terhadap belanja kebutuhan sehari-hari juga berkaitan dengan pergerakan inflasi. Badan Pusat Statistik Kota Bandung mencatat inflasi tahunan atau year-on-year pada Juli 2026 sebesar 2,79 persen dengan Indeks Harga Konsumen berada pada angka 111,14.
Secara bulanan, Kota Bandung justru mengalami deflasi 0,06 persen pada Juli 2026. Sementara inflasi sepanjang Januari hingga Juli atau year-to-date tercatat 1,53 persen.
Inflasi bukan berarti seluruh barang mengalami kenaikan dengan besaran yang sama. Namun perubahan harga pangan mudah dirasakan masyarakat karena beras, minyak, telur, daging, cabai, dan bawang merupakan kebutuhan yang dibeli secara berulang.
Itulah mengapa intervensi harga pangan kerap menyasar komoditas yang paling dekat dengan dapur keluarga. Penghematan Rp4.545 dari satu kemasan beras, misalnya, terlihat kecil jika berdiri sendiri, tetapi dapat bertambah ketika dikombinasikan dengan sejumlah kebutuhan lain.
Sebagai ilustrasi, dua kemasan beras SPHP lima kilogram yang dibeli pada harga Bazmut menghasilkan selisih Rp9.090 dibandingkan batas harga yang disebut Disdagin. Jika ditambah dua liter MinyaKita, selisih terhadap HET bertambah Rp400 menjadi sekitar Rp9.490.
Perhitungan itu hanya ilustrasi berdasarkan harga yang diumumkan pemerintah, bukan gambaran pasti belanja setiap pengunjung. Batas jumlah pembelian, persediaan barang, serta harga pasar yang dihadapi masing-masing warga dapat membuat nilai penghematan berbeda.
Program pangan murah juga tidak dapat berdiri sendiri sebagai jawaban terhadap persoalan harga. Bazar berlangsung dalam waktu tertentu, sementara kebutuhan keluarga harus dipenuhi setiap hari setelah tenda dan lapak program selesai dibongkar.
Kota Bandung sebenarnya memiliki mekanisme pemantauan harga pangan yang dilakukan secara berkala. Sistem informasi harga pangan milik pemerintah daerah menghimpun data dari petugas enumerator di sejumlah pasar tradisional seperti Astanaanyar, Cicadas, Sederhana, Kosambi, Andir, Kiaracondong, Moch. Toha, dan Gedebage.
Pemantauan tersebut menjadi penting karena efektivitas program pangan murah tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya warga yang datang. Pemerintah juga perlu mengetahui apakah intervensi mampu menjaga harga pasar tetap terkendali dan apakah komoditas tersedia ketika masyarakat membutuhkannya.
Bagi keluarga berpendapatan terbatas, persoalan pangan sering kali bukan mencari harga termurah untuk satu hari, melainkan menjaga agar total pengeluaran tidak melampaui pendapatan selama satu bulan. Karena itu, selisih beberapa ribu rupiah baru terasa berarti ketika akses terhadap pangan terjangkau tersedia secara konsisten.
Basmut triwulan III 2026 telah berakhir pada 11 September. Setelah program selesai, ukuran berikutnya bukan lagi panjang antrean atau jumlah kecamatan yang dikunjungi, tetapi perkembangan harga bahan pokok di pasar-pasar Bandung dalam beberapa pekan mendatang.
Bazar murah dapat memberi jeda bagi pengeluaran keluarga, terutama ketika harga pangan bergerak naik. Namun daya beli masyarakat dalam jangka panjang tetap bergantung pada kestabilan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan kemampuan pendapatan mengikuti biaya hidup.
Bagi warga, hitungannya tetap sederhana: semakin kecil bagian pendapatan yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan dasar, semakin besar ruang untuk membayar pendidikan, transportasi, kesehatan, dan kebutuhan keluarga lainnya. Dari situlah selisih harga beberapa ribu rupiah memperoleh arti yang lebih besar daripada sekadar angka pada label belanja.
