Jakarta – Isu gelombang panas yang disebut-sebut akan menyengat Indonesia pada April mendatang memicu perhatian publik. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai informasi tersebut perlu dipahami dengan hati-hati karena kondisi yang diprediksi sebenarnya lebih merujuk pada peningkatan suhu musiman, bukan fenomena heatwave ekstrem.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa laporan yang beredar berasal dari proyeksi musim untuk periode Maret–April–Mei 2026. Dalam proyeksi tersebut, sebagian wilayah Asia Tenggara diperkirakan mengalami suhu di atas rata-rata normal, termasuk wilayah Indonesia. Informasi ini merujuk pada outlook musim yang dikeluarkan oleh Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC).
“Yang disampaikan ASMC adalah outlook musim periode Maret–April–Mei, yakni bagaimana karakter temperatur musim tersebut yang cenderung berada di atas normal,” ujar Ardhasena pada Jumat (13/3/2026).
Ia menegaskan bahwa kondisi suhu di atas normal tidak sama dengan gelombang panas. Fenomena heatwave memiliki karakteristik waktu yang relatif singkat dan biasanya berlangsung maksimal sekitar dua minggu. Sementara proyeksi musim yang dimaksud menggambarkan tren suhu selama periode tiga bulan, bukan kejadian ekstrem jangka pendek.
Sebelumnya, sejumlah laporan media internasional menyebut Asia Tenggara berpotensi dilanda gelombang panas mulai April. Prediksi tersebut mengutip prakiraan terbaru dari ASMC yang menyatakan suhu di sebagian besar wilayah maritim dan daratan Asia Tenggara berpotensi berada di atas nilai rata-rata selama periode Maret hingga Mei 2026.
Dalam proyeksi tersebut, kemungkinan suhu di atas normal diperkirakan mencapai 80 hingga 100 persen di wilayah Indonesia dan Malaysia. Kondisi panas diperkirakan mulai terasa di kedua negara itu sebelum meluas ke beberapa wilayah lain di Asia Tenggara dalam beberapa bulan berikutnya. Selain Indonesia dan Malaysia, kawasan Thailand serta Vietnam bagian utara juga diprediksi mengalami kondisi serupa.
Meski demikian, tidak semua wilayah diperkirakan mengalami peningkatan suhu signifikan. Beberapa area seperti Vietnam bagian tenggara, Kamboja, serta sejumlah wilayah di Filipina diprediksi memiliki suhu yang relatif mendekati kondisi normal.
BMKG juga mengingatkan bahwa istilah gelombang panas memiliki definisi khusus dalam ilmu meteorologi. Berdasarkan penjelasan sebelumnya dari pejabat BMKG, suatu wilayah baru dapat dikategorikan mengalami heatwave apabila suhu maksimum harian meningkat setidaknya 5 derajat Celsius di atas rata-rata dan berlangsung selama lima hari berturut-turut.
Selain itu, fenomena gelombang panas umumnya lebih sering terjadi di wilayah lintang menengah hingga lintang tinggi yang memiliki daratan luas, seperti kawasan kontinental atau sub-kontinental. Kondisi geografis Indonesia yang didominasi perairan membuat kejadian heatwave ekstrem relatif jarang terjadi.
Meski begitu, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap peningkatan suhu udara dalam beberapa bulan ke depan. Perubahan suhu musiman dapat berdampak pada kenyamanan aktivitas masyarakat, kesehatan, serta potensi meningkatnya risiko kekeringan di beberapa wilayah.
Dengan penjelasan tersebut, BMKG berharap masyarakat tidak salah menafsirkan informasi mengenai prediksi cuaca dan iklim. Peningkatan suhu di atas normal memang mungkin terjadi, tetapi belum tentu berarti Indonesia akan mengalami gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di beberapa negara lain.
